Breaking News
light_mode
Beranda » Berita Utama » Sendratari Bhumi Sambhara Budhara di Mertoyudan, Perkuat Karakter dan Budaya Lokal

Sendratari Bhumi Sambhara Budhara di Mertoyudan, Perkuat Karakter dan Budaya Lokal

  • calendar_month 31 menit yang lalu

BNews-MAGELANG- Pertunjukan sendratari bertajuk Bhumi Sambhara Budhara sukses memukau penonton di Gedung Laudato Si, Seminari Menengah Mertoyudan, Senin (27/4/2026). Dengan balutan gamelan Jawa dan koreografi heroik, pementasan ini menjadi wujud penguatan nilai kearifan lokal di tengah arus digitalisasi.

Alunan gamelan Jawa yang enerjik mengawali jalannya pertunjukan. Sejumlah penari putra tampil dengan gerak dinamis dan heroik, membentuk komposisi estetis yang menarik perhatian penonton. Suasana semakin dramatis saat sosok pendekar putri hadir, menampilkan gerakan feminin namun tegas dalam menghadapi para penari putra, sehingga menghadirkan visualisasi adegan pertempuran yang variatif dan penuh dinamika.

Pementasan ini merupakan bagian dari rangkaian Pesta Petrus Kanisius ke-114, yang menandai usia Seminari Menengah Mertoyudan sebagai salah satu lembaga pendidikan calon imam Katolik tertua di Indonesia.

Sendratari tersebut dikoreografikan oleh Ch. Dwi Anugrah dengan penata iringan FX Purwandi. Karya ini melibatkan 16 penari dan 15 pengrawit yang seluruhnya merupakan murid Kelas Persiapan Pertama. Cerita yang diangkat mengisahkan proses berdirinya Candi Borobudur beserta dinamika yang menyertainya.

Menurut Dwi, pemilihan cerita berbasis kearifan lokal bertujuan untuk mengenalkan budaya kepada generasi muda di tengah perkembangan era digital. “Kami mengangkat cerita ini agar murid dapat belajar dari lingkungan sekitarnya dan tidak kehilangan jati diri di tengah derasnya budaya luar,” ujarnya.

Ia menambahkan, penguatan nilai budaya lokal tidak hanya membangun rasa bangga terhadap warisan bangsa; tetapi juga menanamkan sikap sosial seperti toleransi, kepedulian, serta kemampuan bekerja sama. Nilai-nilai tersebut dinilai penting sebagai bekal pembentukan karakter, khususnya bagi para calon imam.

Proses persiapan sendratari ini berlangsung selama dua bulan. Latihan dilakukan secara terpisah antara penari dan pengrawit, sebelum akhirnya dikolaborasikan dalam dua minggu menjelang pementasan. Kegiatan ini merupakan bagian dari ekstrakurikuler wajib seni tari dan karawitan bagi murid Kelas Persiapan Pertama di Seminari Menengah Mertoyudan.

CEK BERITA UPDATE LAINNYA DISINI (KLIK)

Antusiasme penonton terlihat tinggi sepanjang pertunjukan. Para penampil yang berasal dari berbagai daerah di Indonesia mampu menyuguhkan penampilan yang solid dan memukau.

Salah satu penari, Juno, yang memerankan tokoh Pancapana, mengaku mendapatkan pengalaman berharga dari pementasan tersebut. “Saya yang berasal dari Jakarta jadi bisa memahami karakter tari Jawa yang beragam. Ini menjadi bekal penting untuk memahami estetika sebagai calon imam,” ungkapnya.

Lebih lanjut, Dwi menjelaskan bahwa pesan utama dalam sendratari ini adalah pentingnya menumbuhkan nasionalisme dan loyalitas di tengah era digitalisasi. Nilai-nilai seperti ketulusan, tanggung jawab, kebersamaan, dan solidaritas menjadi fondasi dalam mencapai kebahagiaan yang hakiki.

“Karya ini diharapkan menjadi pemantik bahwa seni dapat menjadi media ekspresi sekaligus sarana membumikan nilai-nilai humaniora secara substansial,” pungkasnya. (bsn)

About The Author

  • Penulis: BNews 2

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Tinggalkan Balasan

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses

Rekomendasi Untuk Anda

expand_less