Tahukah Kaliah? Bangunan Di Mertoyudan Ini Pernah Ludes Terbakar Di Masa Peperangan

BNews–MAGELANG– Ternyata di wilayah Kabupaten Magelang banyak bangunan bersejarah yang belum terungkap. Salah satunya adalah sebuah bangunan rumah yang terletak di Dusun Gedongan Lor Desa Bondowoso Kecamatan Mertoyudan ini.

Bangunan tersebut pernah hampir habis terbakar api perperangan. Kejadian tersebut dalam suatu peristiwa sejarah perjuangan Indonesia pasca proklamasi kemerdekaan bangsa tersebut.

Rumah tersebut adalah milik H. Sirodj, seorang tuan tanah dan pedagang Tembakau. Sehingga maklum bangunan tersebut bisa dibilang mewah pada masanya.

“Meskipun ini rumah kuno, namun tidak ada perabotan kuno didalam rumah ini, semua perabotan turut habis dibakar Belanda, saat Belanda menyerang rumah ini. Hanya tinggal gebyok ditengah rumah yang masih selamat tidak terbakar, untuk semua perabot termasuk meja marmer habis terbakar,” ucap Mahsun Ali, cucu H. Sirodj.

Rumah H. Sirodj, pernah menjadi tempat berkumpulnya para pejuang perang kemerdekaan Bangsa Indonesia wilayah Magelang sekitar pada tahun 1949.  

Dimana beberapa rumah di Dusun Gedongan Lor menjadi basis militer  Indonesia kala itu. Salah satunya adalah markas KDM atau Kodim, yang menempati rumah Mudakir. Dimana yang masih kerabat H Sirodj, yang berada disebelah barat rumah H Sirodj.

Saat itu, penggrebekan oleh Belanda terjadi setelah lima bulan sesudah clash/agresi militer belanda II”. Yaitu sekitar Mei 1949. Penggrebegan dilakukan sekitar pukul 04.30 WIB dini hari.

DOWNLOAD APLIKASI BOROBUDUR NEWS (KLIK DISINI)

Hal itu karena Belanda berhasil memasukan mata-mata. Dalam penggrebegan tersebut H. Sirodj, Muhroji, keluarga carik Desa Bojong beserta 19 orang ditangkap Belanda.

Mereka dibawa ke penjara Kerkopan Magelang dan ditahan selama 40 hari. Karena mereka tidak mengaku saat ditanya Belanda apakah rumah tersebut dijadikan pusat perjuangan militer Indonesia.

“Bapak dan Ibu saya pernah bercerita, saat itu ditahan Belanda, kemudian dibebaskan kembali,” terang Mahsun Ali.

Sesudah Kota Magelang dikuasai Belanda pada 21 Desember 1948, pada 1949 Komandan Komando Distrik Militer, Mayor Murdiman terpaksa mengungsi ke berbagai desa di luar Kota Magelang.

Hal tersebut juga diikuti oleh pemerintahan sipil Kabupaten Magelang, yang mana Bupati Magelang kala itu bernama R Joedodibroto. Berserta dengan para pegawainya, mereka menempati rumah di Dusun Manggoran Desa Bondowoso, yang bersebelahan dengan Dusum Gedongan Lor, yang merupakan milik H Ahmad Marjuki, masih kerabat dengan H Sirodj.

Selanjutnya setelah ada gencatan senjata dengan Belanda, rumah H Sirodj dijadikan tempat konferensi para militer dan pejuang yang dihadiri oleh Kapten Sarwo Edhi; Akhmad Yani dan lebih kurang 2000 militer.

Dimana kegiatan itu  dilaksanakan selama tiga hari. Dalam konferensi tersebut, H. Sirodj menyumbang seekor lembu/sapi dan beberapa tambak ikan gurameh.

Atas pengorbanan dan perjuangan H. Sirodj, mendapatkan tanda jasa dari pemerintah sipil yang ditandatangani oleh Bupati Magelang Yudodibroto dan Komandan KDM Mayor Murdiman.

“Kolam tambaknya masih ada, bahkan pada tahun 1980-an Sarwo Edhi pernah datang ke rumah ini untuk napak tilas. Beliau memberi bantuan dusun kami televisi berwarna, namun malah ditolak warga, yang mana warga malah minta yang hitam putih saja. Hal itu dikarenakan saat itu belum ada listrik dan warga berpikir jika televisi berwarna akan lebih boros listrik, karena menggunakan accu (aki),” tutur Mahsun Ali.

Mahsun Ali menambahkan, hingga saat ini khususnya pada malam tirakatan 17 Agustus, kisah tersebut masih diceritakan kembali oleh tokoh Dusun kepada generasi muda. Hal ini agar tidak melupakan lokasi tempat tinggal warga menjadi saksi perjuangan kemerdekaan Bangsa Indonesia.(*/bsn)

Tinggalkan Balasan

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.

%d blogger menyukai ini: