Breaking News
light_mode
Beranda » Berita Utama » Terlalu Percaya Influencer? Skincare Viral Belum Tentu Aman, Ini Penjelasan Pakar!

Terlalu Percaya Influencer? Skincare Viral Belum Tentu Aman, Ini Penjelasan Pakar!

  • calendar_month Sel, 29 Jul 2025

BNews–MAGELANG – Fenomena skincare viral di media sosial belakangan ini menuai perhatian kalangan tenaga kesehatan, khususnya para apoteker.

Dalam Seminar Nasional dan Rapat Kerja Cabang (Rakercab) Ikatan Apoteker Indonesia (IAI) PC se-Kedu, isu ini diangkat secara khusus melalui tema “Skincare Viral di Medsos: FOMO vs Bukti Ilmiah dari Perspektif Farmasi”.

Acara ini berlangsung pada Minggu, 27 Juli 2025, di Ballroom Atria Hotel Magelang dan disiarkan secara daring melalui Zoom serta YouTube.

Ketua Panitia, apt. Andi Haris, M.Farm, mengungkapkan antusiasme peserta yang luar biasa terhadap tema yang dianggap sangat relevan dengan kondisi saat ini.

“Kami mencatat ada lebih dari 700 peserta, dengan 452 hadir secara langsung dan 236 bergabung online. Ini menunjukkan bahwa isu skincare bukan lagi sekadar tren kecantikan, tapi telah menjadi perhatian serius tenaga kesehatan,” ujarnya.

Acara ini dibuka oleh Kepala Dinas Kesehatan Kota Magelang, dr. Istikomah, yang menyoroti pentingnya peran strategis apoteker dalam membendung informasi yang belum terbukti secara ilmiah.

“Masyarakat perlu mendapatkan edukasi dari sumber yang tepat. Apoteker memiliki tanggung jawab untuk menyaring informasi, bukan sekadar ikut-ikutan tren,” jelasnya saat memberikan sambutan.

CEK BERITA UPDATE LAINNYA DISINI (KLIK)

Salah satu narasumber utama, dr. Yuli Sulistyowati, M.Sc, Sp.DVE, FINSDV, dari RSUD dr. Tjitrowardojo Purworejo menjelaskan bahwa efektivitas skincare harus diukur secara ilmiah, bukan sekadar viralitas.

“Seringkali skincare yang viral tidak memiliki dasar ilmiah yang kuat. Banyak yang hanya mengandalkan testimoni visual, padahal belum tentu cocok untuk semua jenis kulit,” paparnya.

Ia menambahkan bahwa pemakaian skincare tanpa pemahaman yang tepat bisa memicu efek samping jangka panjang, seperti iritasi, hiperpigmentasi, hingga gangguan hormonal.

Senada dengan itu, apt. Puji Sopandi, S.Farm., M.Hkes., M.Farm, CEO PT Aquila Naturalindo Globalindo, mengajak masyarakat untuk lebih kritis terhadap produk yang mereka gunakan.

“Kita harus mulai belajar memilih skincare bukan karena ikut-ikutan, tapi karena sudah terbukti aman dan efektif. Evidence-based pharmacy adalah pendekatan terbaik agar kita tidak membeli produk hanya karena endorse selebritas,” katanya. Ia menekankan pentingnya legalitas dan kandungan bahan aktif yang terbukti secara klinis, bukan sekadar klaim marketing.

Sementara itu, apt. Rahmat Hidayat, S.Farm., M.Sc, CEO dari Farma Masterclass, mengingatkan bahwa apoteker harus lebih proaktif dalam menyampaikan edukasi ke masyarakat.

“Di era digital, peran edukatif apoteker tidak boleh lagi pasif. Kita harus aktif memberikan klarifikasi dan penjelasan kepada masyarakat tentang apa yang aman dan apa yang hanya sekadar tren,” ucapnya. Menurutnya, peran apoteker saat ini jauh melampaui apotek semata—yakni menjadi agen literasi kesehatan.

Seminar yang dimoderatori oleh apt. Emi Mitayani, M.Farm., M.M. selaku Sekretaris HISFARMA PD IAI Jateng, berlangsung dinamis dan interaktif.

Emi menegaskan pentingnya forum ilmiah seperti ini agar apoteker memiliki bekal yang cukup untuk menjadi rujukan informasi yang valid di tengah banjirnya konten viral di media sosial.

Selain sesi seminar, acara juga dilanjutkan dengan Rakercab dari masing-masing cabang IAI se-Kedu. Dalam rapat ini, setiap cabang menyampaikan laporan kegiatan tahun sebelumnya serta menyusun rencana kerja tahun 2025. Agenda yang dibahas antara lain penguatan edukasi kepada masyarakat, pelatihan internal, serta kolaborasi lintas profesi dalam mendukung layanan kesehatan berbasis bukti.

Kegiatan ini turut didukung oleh berbagai perusahaan farmasi nasional yang turut berkontribusi dalam pengembangan profesi apoteker.

Dengan semangat kolaborasi, seminar ini berhasil menunjukkan bahwa apoteker bukan hanya pelayan farmasi, melainkan mitra strategis dalam menjaga kesehatan masyarakat di era digital yang penuh distraksi. (*/bsn)

About The Author

  • Penulis: BNews 2

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Tinggalkan Balasan

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses

Rekomendasi Untuk Anda

expand_less