UNTIDAR dan FITA Farm Dorong Pencegahan Stunting di Tempuran Magelang lewat Ekonomi Sirkular
- calendar_month 17 jam yang lalu

UNTIDAR Magelang dan FITA Farm Dorong Pencegahan Stunting Lewat Pendekatan Circular Economy
BNews-MAGELANG- Universitas Tidar (UNTIDAR) Magelang dan FITA Farm berkolaborasi mendorong pencegahan stunting lewat pendekatan Circular Economy.
Melalui tim pengabdian kepada masyarakat Universitas Tidar (UNTIDAR) Magelang, dua persoalan pelik berhasil diurai melalui satu solusi terintegrasi berbasis Circular Economy (ekonomi sirkular).
Pihaknya menyadari bahwa menautkan krisis pengelolaan sampah dengan upaya pengentasan gizi buruk sekilas tampak seperti dua ranah yang berbeda.
Langkah nyata ini diwujudkan melalui program ’Replikasi Integrated Farming System FITA Farm di Dusun Pandean: Sinergi Biokonversi Sampah Berbasis Pemuda dan Introduksi Ayam Elba untuk Pencegahan Stunting 2026’ yang dipusatkan di Desa Tugurejo, Kecamatan Tempuran.
Kegiatan ini diinisiasi tim akademisi UNTIDAR yang diketuai Galy Hardyta SPt MSc. Program ini melibatkan kolaborasi lintas disiplin yang diisi Budi Hartono SE MSc, Labib Abdillah SPt MSc, dan Afif Musthafa SAk MAk.
”Gagasan dan program strategis ini tidak lahir dari ruang hampa,” tutur Galy pada Jumat, 7 Agustus 2026.
Guna memastikan program berjalan organik dan berkelanjutan di tingkat tapak, pihaknya menggandeng dua mahasiswa, yakni Amiroton Aslamiyah dan Ariana Halimatul Aliyyah.
”Dua mahasiswa turut diterjunkan langsung ke masyarakat,” imbuhnya.
Dari Sampah Menjadi Protein: Meretas Siklus Stunting
Galy menjelaskan, implementasi di lapangan dirancang melalui pendekatan yang sangat terukur. Pada tahap perdana, pihaknya membuka ruang diskusi untuk membongkar paradigma warga.
”Khususnya para pemuda mengenai potensi ekonomi dari limbah domestik,” jelasnya.
Lanjut dia, pihaknya juga memaparkan konsep biokonversi sampah organik menggunakan agen perombak berupa maggot lalat tentara hitam (Black Soldier Fly).
Dalam fase ini pula, tim UNTIDAR secara resmi menggandeng pendiri mitra strategis FITA Farm sekaligus praktisi peternakan berpengalaman Yuswinto.
Memasuki tahap kedua, pendekatan bergeser dari dialektika menuju praktik teknis. Yuswinto membedah tuntas siklus hidup maggot secara komprehensif di hadapan warga.
Tidak sekadar membeberkan teori, Yuswinto mendemonstrasikan fase budidaya dari hulu ke hilir. Dimulai dari penetasan telur lalat hingga memanen maggot segar.
CEK BERITA UPDATE LAINNYA DISINI (KLIK)
”Maggot inilah yang kelak diproyeksikan sebagai sumber pakan alternatif berprotein tinggi untuk menekan biaya produksi ternak unggas, khususnya Ayam Elba,”
Aksi Konkret: Penyerahan Aset dan Edukasi Gizi
Yuswinto menyebut, intervensi keilmuan ini tidak dibiarkan menguap pada tataran teori. Memasuki tahap ketiga, tim pengabdian mengeksekusi langkah konkret.
Hal ini dibuktikan dengan penyerahan aset produktif secara langsung kepada masyarakat. Bantuan tersebut mencakup 30 ekor anak ayam Elba.
”Lengkap dengan dua unit kandang standar dan pasokan pakan awal,” sebutnya.
Masyarakat juga dibekali tata cara perawatan ayam Elba mulai dari manajemen kandang hingga pemberian pakan maggot untuk unggas lebih optimal dan cepat memproduksi telur.
”Proses serah terima dibarengi dengan penyuluhan intensif,” tambahnya.
Lebih dari sekadar transfer aset peternakan, tim UNTIDAR menyuntikkan edukasi krusial mengenai ketahanan gizi keluarga.
”Warga diberikan pemahaman mendalam tentang urgensi mengonsumsi telur dan daging ayam Elba,” sambungnya.
Yuswinto mengatakan dengan kandungan protein hewani yang sangat padat, hasil ternak ini diyakini mampu menjadi perisai utama.
CEK BERITA UPDATE LAINNYA DISINI (KLIK)
”Untuk mencegah stunting dan menjamin tumbuh kembang anak-anak Dusun Pandean agar lebih optimal,” katanya.
Ujar dia, proses pemeliharaan ayam dan budidaya maggot akan terus berada di bawah pengawasan ketat para mahasiswa selama masa pengabdian berlangsung.
”Ini dilakukan guna memastikan ekosistem kemandirian pangan ini tidak terputus di tengah jalan,” ujarnya.
Sementara itu, kegiatan sarat inisiatif komprehensif tersebut mendapat apresiasi tinggi dari Kepala Dusun Pandean Dwi Atmoko.
”Kolaborasi ini menjawab kebutuhan esensial warganya. Kami sangat bersyukur,” ungkapnya.
Dia menegaskan, program ini tidak hanya membersihkan lingkungan dari tumpukan sampah, tetapi juga memberikan masyarakat sumber protein hewani yang mandiri dan berkelanjutan.
”Khususnya untuk menyelamatkan generasi kami dari ancaman stunting,” tegasnya.
Melalui sinergi solid antara akademisi, praktisi, dan elemen pemuda desa, Dusun Pandean kini tengah merintis sebuah model percontohan.
Mereka membuktikan bahwa pendekatan ekonomi sirkular bukan sekadar jargon akademis.
Melainkan sebuah gerakan nyata yang mampu menyulap limbah menjadi kehidupan dan merawat masa depan anak bangsa dari ancaman gizi buruk. (adv)
Penulis: Tim Akademik Pengabdian UNTIDAR
Editor: Mu’alfad Zulfikar Purwanto SM
About The Author
- Penulis: BNews 2





Saat ini belum ada komentar