IKLAN PARTAI HUT DEMOKRAT

Usai di PHK Perempuan Asal Secang Justru Sukses Usaha Boneka

BNews–SECANG– Kisah inspiratif seorang mantan buruh pabrik boneka kini menjadi seorang pengusaha sukses pabrik boneka di Secang Magelang. Namanya Suratinah, seorang warga Dusun Candi Desa Sidomulyo Kecamatan Secang Kabupaten Magelang.

Diceritakannya, dulu Suratinah adalah seorang buruh pabrik bonek di Bandung Jawa Barat sejak tahun 1985. Namun saat krisis monet melanda Indonesia, dirinya di PHK bersama ratusan karyawan lainnya pada tahun 1998.

Setelah di PHK, Ia memutuskan untuk pulang ke Magelang. Dirinya memutuskan untuk mencari penghidupan di kampung halamannya untuk menuju kehidupan lebih baik.

Sebuah usaha pembuatan boneka dirintis Suratinah di rumahnya. Meskipun dirinya mengaku tidak tamat sekolah dasar (SD) dikarenakan keterbatan keluarganya yang kurang mampu, sehingga ia hanya mampu bersekolah sampai kelas lima saja.

Dan ini kisahnya:

“Dulu, orangtua saya tidak mampu. Akhirnya saya memutuskan keluar sekolah. Daripada saya diam dan menganggur, mendingan saya bekerja,” kata Suratinah.

Akhirnya saat itu Ia hijrah ke Bandung dan bekerja di sebuah Pabrik Boneka. “Selama 10 tahun saya bekerja di sana, bersama saudara-saudara yang juga bekerja di sana,” imbuhnya.

Loading...

Di pabrik itu, ia belajar dan bekerja dengan giat, sampai ia dipercaya oleh pemilik pabrik untuk membuat pola desain boneka. Ia belajar mendesain boneka diajari oleh saudaranya yang lebih dulu bekerja di sana.

Meski tak bisa membaca, sejak kecil ia memang suka menggambar, sehingga ia cepat belajar membuat desain. “Waktu itu saya dipercaya jadi pembuat pola. Awalnya, saya disuruh membuat pola dengan membaca tugas membuat apa. Lalu pemilik pabrik, mencari saya. Ketemu pas saya lagi nangis, karena tidak bisa membaca yang ditulis pemilik pabrik. Saya ditanya kenapa nangis, saya jawab tidak bisa membaca,” kenang Suratinah.

Semula, semua berjalan dengan lancar. Suratinah bekerja dengan baik. Di pabrik itu, ia juga bertemu dengan suaminya kelak, Sukaryo 48, pria asli Purbalingga.

Sampai krisis moneter melanda pada tahun 1996-1997, harga-harga melonjak tinggi, pabrik boneka tempat Suratinah bekerja mulai merasakan dampaknya. Sejumlah karyawan pun dirumahkan, termasuk Suratinah dan Sukaryo.

Sempat ia menunggu dalam ketidakpastian, ia juga terpaksa menganggur setelah dirumahkan. Namun, tidak ada penghasilan, ia juga mesti membayar kontrakan dan makan sehari-hari.

Bermodalkan Rp 5,5 juta, hasil tabungannya selama 10 tahun bekerja, ia kembali ke Magelang dan mulai membuat boneka. Aksi nekat spekulasi ia lakukan untuk perbaiki hidupna kedepan.

DOWNLOAD APLIKASI BOROBUDUR NEWS (KLIK DISINI)

Selama setahun, ia memproduksi boneka saat krisis masih melanda, tetapi ia mencoba bertahan dengan segala cara. “Istilahnya, di pabrik ada pengurangan karyawan. Saya nganggur dua bulan. Kalau nganggur terus, ngontrak bayar, makan bayar. Kalau orang lain bisa kenapa tidak mencoba,” ungkapnya.

Awalnya Suratinah terus membeli bahan baku dan mulai berproduksi. Produksi boneka selama setahun, saat krisis moneter masih melanda, tetapi dirinya sudah mendapat pendapatan, sehingga bisa terus bekerja.

Suratinah mulai merintis usaha pembuatan boneka. Ia dibantu dengan suaminya dan kakak-kakaknya, berbelanja kain sendiri, isian boneka, mesin jahit dan mulai memproduksi boneka.

Selama empat tahun, ia berusaha memasarkan boneka buatannya. Dari mulut ke mulut, ia menawarkan produk kerajinan boneka. Dahulu, ia berkeliling dari satu toko ke toko lain, dari emperan ke emperan. Tak jarang, ia mendapatkan penolakan dari orang, tetapi ia tak menyerah dan terus menawarkan barangnya dari satu toko ke toko lain.

“Tempat membuat boneka dulu di rumah saya, kemudian berkembang. Saya juga ikut UMKM tahun 2007,” ujarnya.

“ Dulu 1997, ada saya dan bapak dan karyawan. Tetangga. Setelah itu, ada karyawan 20. Karyawan ada 10 ibu-ibu. Pertama, dikasih pola, dikasih jahitannya dan dikerjakan oleh karyawan yang merupakan ibu-ibu rumah tangga,” tuturnya.

Bahan baku pembuatan boneka, ia beli dari Bandung. Satu truk bahan baku dibeli dengan harga Rp 200 juta.

DOWNLOAD APLIKASI BOROBUDUR NEWS (KLIK DISINI)

Bahan baku itu dapat digunakan untuk waktu tiga bulan. Merek bonekanya dinamakan Tin Panda Colleciton. Tin berasal dari namanya, Suratinah. Panda sendiri adalah ciri khas dari boneka buatan Suratinah.

Boneka-boneka buatan Suratinah kini sudah dikirim ke berbagai daerah. Pembeli boneka Suratinah berasal dari Magelang, Jogja, Semarang, Wonosobo, Banjar dan Kalimantan.

Bonekanya juga terpajang di toko-toko besar di Magelang seperti Trio plaza, Muncul, Aneka Bandongan Kaliangkrik, Trio plaza Wonosobo. Produk buatan Suratinah memang banyak diminati oleh pembeli karena bonekanya yang terbuat dari material yang aman dan tahan lama.

Harganya pun terjangkau dari yang paling murah Rp 15ribu hingga yang paling mahal Rp 1 juta untuk boneka yang besar. Jenisnya bermacam-macam, mulai dari Teddy Bear, Panda, Doraemon, hingga banyak karakter-karakter kartun.

Ada lebih dari 100 jenis boneka yang telah diproduksi. “Produksi kami sekitar 1.000 boneka per bulan. Harganya dari Rp 15 ribu untuk boneka yang kecil-kecil. Ada juga yang seharga Rp 1 juta, berupa boneka teddy bear, ukurannya bisa sampai dua meter,” papar Suratinah.

Berkat bagusnya produksi boneka Suratinah, tempat usahanya kerap dikunjungi oleh para siswa TK, Paud, SMP, SMA hingga kuliah. Sejumlah mahasiswa bahkan pernah melakukan penelitian. Masyarakat juga datang dari berbagai organisasi untuk belajar dari Suratinah.

Meski telah sukses, Sukartinah tidak pernah pelit memberikan ilmunya kepada orang-orang yang ingin membuat boneka. Baginya memberi ilmu membuat boneka adalah upaya untuk membantu orang-orang agar bisa sukses seperti dirinya.

Terlebih dirinya juga merasakan bagaimana susahnya menjalani hidup. “Rezeki sudah ada yang mengatur. Saya ingin membagi ilmu saya. Saya juga mempekerjakan ibu-ibu di sekitar rumah untuk membuat boneka. Saya yang buat polanya, saya beri bahannya, kemudian dikerjakan di rumah masing-masing. Saya hanya ingin berbagi saja,” pungkasnya. (*/bsn)

Kaos Deglang

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

error: Content is protected !!
%d blogger menyukai ini: