Wan King : Saya Pernah Hampir Kolaps

WAN King muda sadar bahwa untuk memulai sebuah usaha butuh keberanian. Butuh pemikiran out of the box. Dia kemudian membuka bengkel karoserinya di halaman rumahnya yang kecil.

 

Usahanya terus berkembang hari demi hari. Bulan demi bulan. Hingga dua tahun kemudian dia membeli sebuah bekas pabrik mie di Mertoyudan yang sekarang jadi kantor perusahaan PT Mekar Armada Jaya yang terkenal itu.

Pekerjaan besar baru datang sekitar tahun 1982. Saat itu, dia mendapatkan order besar pengadaan mobil pemilu bagi camat seluruh indonesia. Walhasil, ribuan unit Mitsubishi T120 berwarna oranye berhasil diproduksi New Armada bersama perusahaan karoseri di kota lain.

Hampir sepuluh tahun sejak 1980-an, David merasakan puncak kejayaan usaha karoseri. Kapasitas produksi New Armada saat itu mencapai 1.000 unit per bulan. Jumlah karyawannya 4.000 orang. Pada 1990 David menambah luas areal pabrik menjadi 18 hektare.

Namun, masa kejayaan New Armada mulai terasa surut tatkala para Agen Tunggal Pemegang Merek (ATPM) mulai memproduksi sendiri mobil penumpang. “Kami hanya bisa memproduksi sisa dari yang dikerjakan ATPM,” ujar David.

Lantas New Armada memproduksi kendaraan untuk keperluan khusus, seperti bus, angkutan kota, dump truck, mobil boks, mobil roti, ambulan, mobil puskesmas keliling, mobil pemadam kebakaran, mobil sampah. “Kami enggak bisa buat mobil standar, karena ATPM sudah buat sendiri,” ujarnya.

David pun harus menelan kenyataan pahit. Pemerintah kala itu menilai mobil buatan karoseri-karoseri yang ada, tidak laik jalan. Alasannya, kaca mobil yang dipakai kala itu belum memenuhi standar.

Loading...

“Mestinya kami dididik, tapi kami ditinggal, kan enggak benar itu,” keluh David. Padahal, David berharap perannya dalam sejarah otomotif di tanah air dihargai. Tapi, David tak putus asa melihat kenyataan itu. Ia justru berani investasi puluhan miliar untuk membeli mesin-mesin agar hasil karoserinya bisa sejajar dengan mobil-mobil buatan ATPM.

Langkah David bukannya tanpa perhitungan. Didukung teknologi yang makin canggih, New Armada mampu menjadi mitra ATPM yang bisa diandalkan. Terbukti, kini New Armada menjadi pemasok puluhan komponen mobil dari berbagai merek, seperti pintu mobil beserta pelapisnya, panel, kap mesin, bodi mobil, dan lain-lain.

Seiring dengan perkembangan pasar, pada 2003 David membeli lahan seluas 7 hektare di Tambun, Bekasi, Jawa Barat. “Kami mendekatkan diri dengan lokasi ATPM agar supply cepat,” ujarnya

Dalam perjalanan 30 tahun memimpin New Armada, David telah melebarkan sayap bisnisnya ke berbagai sektor. PT Mekar Armada Jaya telah beranak-pinak menjadi beberapa anak perusahaan. Pada 1981 berdiri PT Bumen Radja Abadi, sebuah dealer resmi Mitsubishi yang kini telah memiliki tujuh cabang di Jawa dan Bali. Lantas, tahun 1987 David mendirikan Vulgo Mobil sebagai dealer resmi Daihatsu, Isuzu, BMW, Nissan Truk, dan Peugeot. Lalu, tahun 1990 ia mendirikan bank perkreditan rakyat (BPR). Kini ada tujuh BPR dengan tiga bendera: PT BPR Artha Mertoyudan, PT BPR Artha Melati Indah, PT BPR Artha Mekar Sokaraja. Lokasi BPR mencakup Magelang, Muntilan, Yogyakarta, Sokaraja, Purwokerto, Purworejo, Temanggung, dan Salatiga.

Sektor keuangan yang dirambah tak sebatas BPR. David juga mendirikan perusahaan pembiayaan. Ada dua bendera: Vulgo Finance (1991) dan Armada Finance (1992). Pada tahun 1990 kibaran bendera New Armada di bidang karoseri makin kencang setelah membeli perusahaan karoseri Alexander.

David juga mengambil alih perusahaan furnitur PT Citra Classic Furniture, pada 1990. “Itu ekspor ke Amerika, pasar lokal hanya sedikit,” ujar David. Ekspansi yang baru-baru ini dilakukan David adalah di bidang perhotelan. Bulan Oktober lalu di bawah bendera PT Armada Investama David mendirikan Resort and Spa Laras Asri seluas 25.000 m2 di Salatiga. Kemudian disusul Armada Town Square.

Selama memimpin New Armada, David Herman Jaya alias Liem Wan King pernah mengalami masa paling berat. Hal ini ia alami tatkala harus memberhentikan karyawan yang sudah bekerja puluhan tahun. Krisis moneter tahun 1998 benar-benar memukul telak usaha karoseri. Order yang diterima New Armada tinggal 10 persen. Padahal, ada 4.000 orang karyawan yang harus digaji. “Kami hampir kolaps, kas dihabisin untuk gaji karyawan,” kenang David.

Karyawan pun sadar bahwa tak ada pekerjaan, mereka meminta gaji dipotong. Tapi, David menilai pemotongan gaji tidak mendidik karyawan. “Saya stres dua minggu menjelang ambil keputusan memecat itu,” ujar David. Ia pun menyampaikan sendiri keputusan ini kepada karyawan dari level manajer ke bawah. “Kalau enggak saya sendiri, enggak bisa beres,” jelasnya. Jumlah karyawan yang di-PHK saat itu mencapai lebih dari 2.000 orang. (habis)

Kaos Deglang

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

error: Content is protected !!
%d blogger menyukai ini: