Breaking News
light_mode
Beranda » Berita Utama » Bukan Sekadar Warung Soto, Warung Literasi Magelang Jadi Tempat Baca hingga Belajar Bisnis

Bukan Sekadar Warung Soto, Warung Literasi Magelang Jadi Tempat Baca hingga Belajar Bisnis

  • calendar_month Sel, 8 Sep 2026

BNews—MAGELANG— Aroma kuah soto yang mengepul berpadu dengan suasana pagi di kawasan Perpustakaan Daerah (Perpusda) Kabupaten Magelang. Di tempat yang identik dengan rak buku dan aktivitas membaca itu, kini masyarakat memiliki ruang baru untuk sarapan, berdiskusi, sekaligus belajar tentang usaha.

Namanya Warung Literasi.

Berada di lingkungan Perpusda Kabupaten Magelang, Warung Literasi menghadirkan konsep yang cukup berbeda. Pengunjung tidak hanya datang untuk menikmati semangkuk soto, tetapi juga dapat membaca buku, bertukar gagasan, berkonsultasi mengenai usaha hingga berdiskusi tentang pengembangan UMKM.

Warung tersebut dikelola Karsana, 54, yang melihat keberadaan perpustakaan sebagai ruang yang bisa dimanfaatkan lebih luas oleh masyarakat.

Soto Kawedanan Rp7.000 Jadi Menu Utama

Soto menjadi menu utama yang ditawarkan Warung Literasi. Bukan tanpa alasan Karsana memilih makanan tersebut.

Menurutnya, soto merupakan makanan yang dekat dengan berbagai lapisan masyarakat. Mulai anak-anak, anak muda, orang dewasa hingga orang tua dapat menikmati makanan tersebut.

“Ini usaha sotonya ini Ini adalah usaha yang mudah untuk dijudikasi Dan juga sangat merakyat Kenapa Pak ambil konsep warung literasi? Saya ambil konsep ini karena Warung ini memang kami gunakan sebagai laboratorium Untuk UMKM dalam perusahaan yang ada di Magelan Jadi cita-cita kami dengan adanya warung ini Berfungsi sebagai inkubator UMKM dan perusahaan yang ada di Magelan,” ujar Karsana.

Konsep tersebut kemudian diselaraskan dengan lokasi Warung Literasi yang berada di lingkungan perpustakaan.

Karsana menyebut konsep tersebut memiliki keterkaitan erat dengan transformasi perpustakaan berbasis inklusi sosial atau TPBIS. Perpustakaan, menurutnya, tidak lagi hanya dipandang sebagai tempat menyimpan buku dan menyediakan rak bacaan.

“Kenapa ada sanggup kautan dengan lokasi yang ada di perpustakaan? Sangat menyambung karena salah satu tugas dari perpustakaan itu adalah Sekarang perpustakaan sudah bertransformasi Ada TPB ya, transformasi perpustakaan berbasis inklusi sosial Di mana perpustakaan didorong untuk Tidak hanya sekedar tubuh dan rak tubuh Tapi didorong lebih pada milai manfaat menjadikan masyarakat Seperti keterampilan, wajana dan sebagainya,” katanya.

CEK BERITA UPDATE LAINNYA DISINI (KLIK)

Untuk menu sotonya, Karsana menyebut ada kekhasan tersendiri karena merupakan turunan dari produk yang sudah ada.

“Warung literasi ini kan menunya ada soto Kenapa ambil soto? Soto ini adalah makanan yang sudah sangat merakyat di kita Orang dari semua kalangan, anak-anak, muda, dewasa Bahkan sampai orang tua pun suka dengan soto ini Ada hal yang berbeda dari soto-soto lainnya? Ada Yaitu soto ini kita buat sebagai turunan dari produk yang sudah ada Yaitu Ingkeng Bahuret,” jelasnya.

Harga yang ditawarkan pun dibuat terjangkau. Satu porsi soto dijual mulai Rp7.000.

“Untuk soto ini kita jual dengan harga yang sangat murah Yaitu hanya 7.000 rupiah,” ujarnya.

Selain soto, tersedia berbagai menu pendamping yang merupakan turunan dari Bahuret, seperti sate-satean, huritan, usut, ampelang, gorengan hingga jajanan pasar.

Buka Sejak Pukul 06.00 WIB

Karena menyasar konsumen yang membutuhkan sarapan, Warung Literasi mulai beroperasi sejak pagi.

“Ini dia Karena soto ini karakternya adalah untuk sarapan Identik dengan sarapan Maka kita buka kejar pagi, jam 6 sudah kita siapkan,” kata Karsana.

Warung tersebut biasanya melayani pengunjung hingga sekitar pukul 14.30 WIB.

Kehadiran Warung Literasi juga relatif baru. Karsana mengatakan usaha tersebut mulai berjalan sejak akhir Juni 2026.

“Ini kita mulai sejak akhir Juni kemarin Akhir Juni berarti sekitar 2 bulan,” ujarnya.

Selama beroperasi, pelanggan yang datang cukup beragam. Mulai orang yang mencari sarapan, warga yang berolahraga pagi, anak sekolah hingga ibu-ibu.

“Ini dia yang perlu kita selalu kita review, selalu kita evaluasi Nah saat ini yang jadi pelanggan kita prerata adalah Chinese yang ingin mencari sarapan Orang yang olahraga pagi Olahraga pagi mereka sering sarapan disini Anak-anak mau berapa sekolah atau istirahat Kalau untuk ibu-ibu sekitar sini prerata untuk sarapan anak-anak yang mau sekolah,” tutur Karsana.

Bukan Sekadar Tempat Makan

Hal yang membuat Warung Literasi berbeda dari warung makan pada umumnya adalah aktivitas yang dapat dilakukan pengunjung setelah menikmati makanan.

Warung ini disiapkan sebagai ruang untuk konsultasi bisnis, bedah usaha, diskusi, sharing hingga mentoring bagi masyarakat yang ingin mengembangkan usaha.

“Inilah yang menjadi beda dengan yang lain Bahwa di warung, konsep warung literasi ini Melayani untuk konsultasi bisnis, bedah usaha, diskusi sharing Bahkan sampai mentoring usaha sampai jadi,” katanya.

Karsana mengatakan konsep tersebut menjadi bagian dari upaya memberikan ruang belajar yang lebih dekat dengan masyarakat.

“Mentoring usaha disini, kenapa kita berani Karena memang itulah keahlian kami dalam Yang ingin kita tawarkan pada masyarakat bahwa Disini bisa benar-benar untuk belajar gitu loh Dan saling belajar bersama gitu,” lanjutnya.

Belajar Sambil Menyantap Soto

Di salah satu bagian Warung Literasi terdapat rak buku. Keberadaan rak tersebut sengaja dipertahankan agar aktivitas warung tetap memiliki hubungan dengan fungsi perpustakaan.

Karsana mengatakan makanan hanya menjadi salah satu cara untuk menarik masyarakat datang. Setelah berada di warung, pengunjung dapat menemukan bahan bacaan dan sumber pengetahuan yang dapat dimanfaatkan untuk belajar.

“Itu kan ada rak buku juga Pak di warung literasi itu Nah rak buku ini kan, karena disinilah fungsi dari TBBIS Kita jangan melangkah terlalu jauh dari perpustakaan Karena kita berfungsi dari perpustakaan Masyarakat bisa belajar disini, soto hanya untuk menarik pengunjung Sehingga mereka bisa menemukan literasi atau bahan acuan untuk belajar,” jelasnya.

Konsepnya sederhana: pengunjung bisa makan sambil membaca, sarapan sambil berdiskusi, atau sekadar menikmati suasana.

“Kenapa di sana ada rak buku, kita belajar sambil nyoto Sambil sarapan, sambil diskusi Dengan ada dasarnya buka buku atau literasi,” katanya.

Didukung Dinas Perpustakaan Kabupaten Magelang

Keberadaan Warung Literasi juga mendapat dukungan dari Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kabupaten Magelang.

Karsana menyebut kepala dinas turut memantau perkembangan kegiatan Warung Literasi tersebut.

“Dengan ada dasarnya buka buku atau literasi Ini kan bisa dibilang kerjasama dengan dinas perpustakaan Sejauh ini tanggapan dari dinas perpustakaan sendiri bagaimana? Sangat mendukung, bahkan Bapak Kepala Dinas selalu mengontrol Untuk kita, kegiatan kita ini, gimana progresnya Gimana perkembangan tiap harinya,” ungkapnya.

Warung Literasi juga tetap melayani masyarakat pada hari Minggu.

“Karena disini, hari Minggu pun tetap kita layan,” tambah Karsana.

Menjadi Inkubator UMKM dan Ruang Berkarya

Karsana memiliki cita-cita lebih besar terhadap keberadaan Warung Literasi. Ia ingin tempat tersebut berkembang menjadi inkubator bagi UMKM sekaligus ruang belajar bagi masyarakat yang sedang mencari pengetahuan untuk membangun penghasilan.

“Kita punya milik besar dengan larang literasi Karena disini kita berharap bisa sebagai inkubator UMKM Ataupun anak-anak muda yang benar-benar sedang mengalami Butuh pengetahuan untuk mencari rezeki,” ujarnya.

Salah satu pengalaman yang menurutnya menarik adalah adanya seorang pensiunan kepala sekolah yang ikut magang.

“Seperti halnya bahkan di kita ini ada salah satu orang yang magang Itu adalah pensiunan Kepala Sekolah Mereka ingin untuk tetap berkarya di saat usia tuanya Yaitu dengan berjuang soto ataupun dengan jualan yang lain Sehingga mereka sudah mempunyai bekal yang cukup ketika mereka membuka sendiri,” katanya.

Kisah tersebut menjadi gambaran bahwa Warung Literasi tidak hanya diarahkan bagi anak muda. Ruang tersebut juga terbuka bagi masyarakat yang ingin tetap produktif dan belajar mengembangkan usaha.

Dari Warung Sederhana untuk Menghidupkan Literasi

Perjalanan usaha selama sekitar dua bulan tentu tidak sepenuhnya berjalan mulus. Karsana mengakui masih terdapat berbagai tantangan karena konsep Warung Literasi merupakan sesuatu yang relatif baru.

“Kendala pasti ada ya Namanya juga orang usaha Namanya juga sesuatu yang baru Kita dicipin, kita dianggap pandang sebelah mata Itu sudah sesuatu yang hal yang biasa,” tuturnya.

Namun, ia memilih tetap menjalankan konsep tersebut karena memiliki tujuan yang lebih luas, yakni membuka kesempatan kerja dan memberikan manfaat bagi masyarakat.

“Namun demikian dengan niat kita untuk membuka lapangan pekerjaan Ataupun agar kita menjadi orang yang bermanfaat Apalagi sejalan dengan tugas kita selagi begitu setakaan Tentunya ini merupakan tata angin yang mengasihkan,” lanjutnya.

Bagi Karsana, Warung Literasi bukan semata-mata bisnis kuliner. Tempat tersebut juga menjadi ruang untuk membagikan pengalaman kepada masyarakat yang ingin belajar mengenai dunia usaha.

‘Buku Hidup’ untuk Pelaku Usaha

Karsana juga menjelaskan bahwa aktivitas di Warung Literasi tidak mengganggu pekerjaannya sebagai aparatur sipil negara. Justru pengalaman yang dimilikinya dalam dunia usaha menjadi modal untuk membantu masyarakat.

“Tidak Disitulah kita menjadikan sesuatu yang unik Karena disini kita melayani orang yang ingin konsultasi bisnis Ibarat kata sebagai buku hidup Mereka yang ingin butuh bedah usaha Bisa diskusi dengan kita karena kita punya banyak pengalaman Tentang susahnya orang berusaha Susahnya orang tidak dipercaya Bagaimana susahnya kita jatuh bangun dalam bangun sebuah usaha,” ungkapnya.

Baginya, ruang tersebut merupakan kesempatan untuk mengabdikan pengetahuan dan pengalaman yang dimiliki kepada masyarakat.

“Bahkan ibarat kata kita ini Di tempat inilah bisa saya mengabdikan Sepenuhnya ilmu yang saya dapat untuk kemasyarakat,” pungkas Karsana.

Warung Literasi, Ketika Soto Menjadi Pintu Masuk Pengetahuan

Warung Literasi di Perpusda Kabupaten Magelang menawarkan sebuah konsep sederhana tetapi memiliki gagasan yang cukup luas. Semangkuk Soto Kawedanan seharga Rp7.000 menjadi pintu masuk bagi masyarakat untuk datang ke ruang yang juga menyediakan buku, diskusi, konsultasi bisnis dan mentoring usaha.

Di tengah transformasi perpustakaan berbasis inklusi sosial, keberadaan Warung Literasi menunjukkan bahwa ruang literasi dapat hadir dalam bentuk yang dekat dengan kehidupan sehari-hari.

Masyarakat bisa datang untuk sarapan, tetapi juga pulang membawa pengetahuan, inspirasi, atau bahkan gagasan baru untuk memulai usaha.

Dari sepiring makanan dan rak buku sederhana, Warung Literasi mencoba membangun ruang pertemuan antara kuliner, literasi, dan pemberdayaan ekonomi masyarakat di Kabupaten Magelang. (bsn)Bukan Sekadar Warung Soto, Warung Literasi Magelang Jadi Tempat Baca hingga Belajar Bisnis

About The Author

  • Penulis: BNews 2

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Tinggalkan Balasan

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses

Rekomendasi Untuk Anda

expand_less