Breaking News
light_mode
Beranda » Berita Utama » Benarkah Laut Utara Berbahaya? Ini Fakta Gelombang dan Sejarahnya

Benarkah Laut Utara Berbahaya? Ini Fakta Gelombang dan Sejarahnya

  • calendar_month 2 menit yang lalu

BNews-NASIONAL – Laut Utara kerap menjadi sorotan di media sosial karena video viral yang memperlihatkan gelombang besar menghantam kapal-kapal yang melintas. Pemandangan tersebut menimbulkan pertanyaan, benarkah Laut Utara merupakan salah satu perairan paling berbahaya di dunia?

Laut Utara berada di sebelah selatan kawasan Arktika dan memiliki luas sekitar 220.000 mil persegi. Perairan ini memisahkan Inggris Raya dari Skandinavia serta berbatasan dengan pesisir utara Prancis, Belgia, Belanda, dan Jerman.

Selama berabad-abad, Laut Utara menjadi jalur pelayaran penting. Bangsa Viking pernah menjelajahi perairan ini, sementara saat ini kapal-kapal kontainer berukuran besar masih melintasinya. Kawasan tersebut juga menjadi lokasi industri minyak dan gas serta pengembangan ladang angin lepas pantai.

Namun, di balik perannya sebagai jalur perdagangan dan energi, Laut Utara memiliki karakteristik alam yang dapat membahayakan pelayaran, terutama ketika badai melanda.

Pengalaman Nelayan yang Berlayar Selama 11 Generasi

Pengalaman menghadapi Laut Utara diceritakan Buitjes, nelayan berusia 65 tahun yang keluarganya telah menjalani profesi tersebut selama 11 generasi.

“Kakek buyut saya dan salah satu putranya tenggelam saat memancing di tengah badai besar,” kata Buitjes di laman National Geographic.

Dua saudara laki-laki neneknya juga meninggal di laut. Pengalaman tragis tersebut menjadi bagian dari sejarah panjang hubungan keluarganya dengan Laut Utara yang telah berlangsung selama sekitar 400 tahun.

Meski demikian, Buitjes menilai pelayaran di Laut Utara saat ini lebih aman dibandingkan beberapa dekade lalu. Salah satu faktor pendukungnya adalah perkembangan teknologi prakiraan cuaca yang membantu pelaut mengantisipasi kondisi laut.

Walaupun demikian, perairan tersebut tetap menuntut kewaspadaan tinggi.

Mengapa Gelombang Laut Utara Berbahaya?

Salah satu karakteristik Laut Utara adalah kedalamannya yang relatif dangkal, terutama di bagian selatan, dengan kedalaman sekitar 100 kaki atau 30 meter.

Saat badai terjadi, gelombang dapat mengangkat pasir dari dasar laut dan melemparkannya ke dek kapal. Menurut Buitjes, kondisi tersebut bisa membuat kapal kehilangan kestabilan.

Selain itu, dasar Laut Utara menyimpan bangkai kapal yang tenggelam selama bertahun-tahun. Bangkai kapal tersebut berpotensi menjadi bahaya bagi kapal nelayan yang menarik jaring di kawasan sekitarnya.

Wilayah pantai barat Jutlandia, yang mencakup sebagian besar Denmark dan sebagian Jerman, juga dikenal memiliki sejarah banyak kapal karam. Kawasan ini disebut Iron Coast atau Pantai Besi karena kondisi pesisirnya yang berbahaya dan minimnya pelabuhan alami untuk berlindung.

CEK BERITA UPDATE LAINNYA DISINI (KLIK)

Buitjes menjelaskan, bahaya Laut Utara tidak selalu berasal dari gelombang yang sangat tinggi. Jarak antargelombang yang relatif pendek membuat kapal terus-menerus dihantam ombak dalam waktu berdekatan.

Gelombang setinggi sekitar enam kaki atau 1,8 meter mungkin tidak terlihat terlalu besar. Namun, gelombang yang datang berulang kali dapat membuat kapal terombang-ambing dan menyulitkan awak mempertahankan keseimbangan.

Peran Geografi dan Badai Atlantik

Lucy Bricheno, ahli oseanografi pesisir di Pusat Oseanografi Nasional Inggris, menjelaskan bahwa gelombang pendek dan kondisi laut yang bergelombang merupakan karakteristik yang dikenal di Laut Utara.

Salah satu penyebabnya adalah kondisi geografis kawasan tersebut. Daratan yang mengelilingi Laut Utara di sejumlah sisi membatasi ruang bagi gelombang untuk menyebar.

Situasi dapat berubah ketika badai dari Atlantik bergerak menuju Eropa barat laut. Badai yang sebelumnya menghantam kawasan timur Amerika Serikat dapat mencapai Laut Utara dan memicu kondisi perairan yang sangat bergelora.

Dalam kondisi tertentu, gelombang dan buih putih yang terbentuk bahkan dapat terlihat dari luar angkasa.

Perubahan iklim juga menjadi perhatian para peneliti. Pemodelan menunjukkan Laut Utara berpotensi menjadi lebih tenang secara rata-rata. Namun, badai ekstrem yang terjadi di kawasan tersebut berpotensi menjadi lebih parah.

“Kita tidak bisa memastikan apakah badai akan semakin parah, tetapi yang bisa kita katakan adalah badai yang terjadi di Eropa barat laut semakin hebat,” kata Bricheno.

Laut Utara Bukan Perairan dengan Badai Paling Ekstrem

Meski memiliki reputasi berbahaya, Bricheno menjelaskan bahwa Laut Utara bukanlah perairan dengan badai paling dahsyat di dunia.

Samudra Hindia dan Selat Drake, yang terletak di antara ujung selatan Amerika Selatan dan Antarktika, dikenal memiliki gelombang besar yang dapat membahayakan pelayaran.

Samudra Selatan atau Samudra Antarktika memiliki karakteristik berbeda karena sebagian besar wilayahnya tidak terhalang daratan. Kondisi tersebut memungkinkan gelombang berkembang dan membesar dalam jarak yang sangat panjang.

Gelombang setinggi 25 hingga 30 kaki atau sekitar 7,6–9,1 meter dapat terjadi di kawasan itu. Pada 2018, sebuah pelampung pengukur gelombang bahkan mendeteksi gelombang setinggi sekitar 70 kaki atau 21 meter.

Namun, lalu lintas kapal di Samudra Selatan relatif lebih sedikit dibandingkan Laut Utara.

Ramainya aktivitas pelayaran di Laut Utara mungkin menjadi salah satu alasan perairan tersebut kerap dianggap sangat berbahaya. Semakin banyak kapal yang melintas, semakin besar pula kemungkinan insiden laut terekam dan diketahui masyarakat.

Perkembangan telepon pintar dan media sosial turut membuat rekaman gelombang besar lebih mudah tersebar ke berbagai negara.

Jejak Bangsa Viking dan Sejarah Pelayaran

Sekitar 1.200 tahun lalu, bangsa Viking telah menjelajahi Laut Utara untuk melakukan pelayaran jarak jauh. Mereka diperkirakan mengandalkan pengetahuan tentang arus, cuaca, serta penanda alam untuk menentukan arah perjalanan.

Michael Pye, penulis buku The Edge of the World: How the North Sea Made Us Who We Are, menggambarkan peran Laut Utara dalam ekspedisi bangsa Viking.

“Laut ini ibarat memiliki jalan tol pribadi untuk menjarah dan merampok,” kata Michael Pye.

Bagi masyarakat yang menjadi korban serangan Viking di berbagai wilayah Eropa, Laut Utara dan para pelaut yang melintasinya kemungkinan menjadi bagian dari gambaran yang menakutkan.

Namun, Pye menjelaskan bahwa pada Abad Pertengahan terdapat pula kawasan laut lain yang lebih sulit dilalui.

“Di sepanjang pantai barat Afrika, misalnya, terdapat tanjung demi tanjung yang sulit dilewati, sehingga pelaut tidak bisa melanjutkan perjalanan melewatinya,” ujarnya.

Banjir Besar yang Mengubah Pantai Jutlandia

Thorbjørn Thaarup, kurator Museum Maritim Denmark, menjelaskan bahwa kawasan Iron Coast di Jutlandia mungkin pernah lebih mudah dilayari dibandingkan sekarang.

Pada masa lalu, sejumlah teluk kecil dan ceruk pantai dapat dimanfaatkan untuk mengumpulkan kapal serta awak sebelum memulai perjalanan.

Namun, kondisi pesisir berubah drastis setelah bencana besar pada 1362. Peristiwa yang dikenal sebagai The Great Drowning atau Banjir Besar yang Menelan Segalanya itu melanda pantai barat Jutlandia.

Bencana tersebut menewaskan ribuan orang dan menenggelamkan wilayah pesisir yang luas, termasuk desa-desa yang kemudian hilang untuk selamanya.

Sejarah tersebut memperlihatkan bahwa bahaya Laut Utara bukan hanya berasal dari gelombang saat badai, tetapi juga dari fenomena pasang surut dan banjir pesisir.

Menurut Bricheno, rentang pasang surut di Laut Utara cukup besar. Ketika gelombang pasang akibat badai atau storm surge terjadi bersamaan dengan pasang tertinggi, risiko banjir dapat meningkat.

Salah satu peristiwa yang relatif baru terjadi pada 2013. Gelombang pasang akibat badai yang bertepatan dengan pasang tinggi menewaskan dua orang dan menyebabkan sekitar 1.700 rumah terendam banjir di Inggris.

Suara Laut Menjadi Peringatan Saat Badai

Dorthe Nors, penulis buku A Line in the World: A Year on the North Sea Coast, menceritakan bagaimana kondisi Laut Utara dapat dirasakan oleh penduduk pesisir ketika badai datang.

Rumahnya berada di bagian barat Denmark, sekitar 2,5 mil atau empat kilometer dari garis pantai. Meski berjarak cukup jauh, suara laut masih terdengar jelas dari rumahnya saat badai melanda.

“Suara itu seperti seseorang sedang berteriak, seperti raungan,” katanya.

Ketika angin kencang mematahkan pepohonan di dekat pantai, suara batang pohon yang patah terdengar seperti tembakan senjata. Pasir pantai juga dapat terangkat oleh angin dan berhamburan hingga menutupi jalan pesisir serta mengganggu lalu lintas.

Buitjes pun mengungkapkan bahwa dirinya pernah mendengar berbagai kecelakaan di Laut Utara, mulai dari insiden yang melibatkan kapal nelayan kecil hingga kapal kontainer berukuran besar.

Pengalaman tersebut menjadi pengingat bahwa pelayaran di Laut Utara memerlukan persiapan, pemantauan cuaca, serta kewaspadaan awak kapal.

Dengan demikian, Laut Utara memang memiliki karakteristik yang dapat membuat pelayaran berbahaya, terutama ketika badai, gelombang pendek, dan pasang ekstrem terjadi. Namun, reputasinya tidak serta-merta menjadikannya perairan dengan badai paling dahsyat di dunia.

Kepadatan lalu lintas kapal, sejarah panjang pelayaran, serta rekaman gelombang besar yang viral di media sosial turut membentuk persepsi masyarakat terhadap perairan tersebut. (*/National Geographic)

About The Author

  • Penulis: BNews 2

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Tinggalkan Balasan

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses

Rekomendasi Untuk Anda

expand_less