WOW! Masjid Senilai Rp5,7 Triliun Akan Dibangun di Jateng, Ini Lokasinya

BNews—JATENG— Masjid representasi miniatur Syeikh Zayed Grand Mosque di Abu Dhabi, Uni Emirat Arab, bakal di bangun di Solo, Jawa Tengah. Tempat ibadah umat muslim yang rencananya menghabiskan biaya Rp5,7 triliun ini merupakan hadiah Putra Mahkota UEA untuk Joko Widodo.

Rencananya, masjid ini mulai dibangun pada Sabtu (6/3) di lahan bekas Depo Pertamina Gilingan, Banjarsari, Solo. Pembangunan ditandai dengan peletakan batu pertama di lahan seluas 2,9 hektare itu.

Saat ini, pelaksana proyek tengah merapikan dan meratakan permukaan lahan guna persiapan pembangunan. Rencananya masjid yang menghabiskan dana tak sedikit ini akan mampu menampung 12 ribujemaah.

Kepala Kantor Kementerian Agama (Kemenag) Solo, Hidayat Maskur mengatakan, seluruh bangunan masjid hingga bagian terkecilnya meniru Sheikh Zayed Grand Mosque karena menjadi miniaturnya. Masjid di Gilingan, Solo, tersebut merupakan hadiah dari Putra Mahkota Uni Emirat Arab (UEA), Sheikh Mohamed Bin Zayed Al Nahyan, untuk Presiden Joko Widodo.

”Secara keseluruhan untuk bentuk modelnya sama. Hanya tempatnya beda dan dikurangi untuk ukurannya karena miniatur. Di luar pandemi Covid-19, masjid bisa menampung 12 ribu orang,” katanya, Kamis (4/3).

Pembangunan masjid bakal memakan waktu hingga tiga tahun. Seluruh pendanaan yang perkiraannya mencapai Rp5,7 triliun merupakan hibah dari UEA.

Selain masjid di Gilingan, Solo, Pangeran UEA juga berencana membangun Islamic Center yang membutuhkan lahan seluas empat hektare. Pusat Pembelajaran Islam tersebut tidak bisa dibangun di lokasi yang sama karena besarnya ukuran masjid.

DOWNLOAD APLIKASI BOROBUDUR NEWS (KLIK DI SINI)

”Islamic Center akan dilengkapi dengan mal. Juga akan ada pusat kegiatan berupa aula untuk rapat dan sebagainya,” jelasnya. Hidayat menyebut, pengelolaan masjid nantinya bakal diserahkan sepenuhnya kepada Kementerian Agama.

Sebelumnya, Walikota Solo, Gibran Rakabuming Raka menyebut, lokasi Islamic Center diharapkan di dekat kampus atau instansi pendidikan agar lebih tersentral. Pengelolaannya pun diharapkan bisa dilakukan oleh akademisi.

”Kami dekatkan dengan kampus, karena kami berharap yang mengelola pihak akademisi. Bisa di Kentingan, dekat UNS (Universitas Sebelas Maret) Solo,” ungkap Gibran yang turut meninjau lokasi masjid, Rabu (3/3). (han)

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

error: Content is protected !!
%d blogger menyukai ini: