Wow…Seniman Borobudur Raih Prestasi Indonesia-Dunia

BNews—BOROBUDUR—Seorang seniman lukis asal Dusun Tinggal Wetan, Desa Wanurejo, Kecamatan Borobudur, berhasil mendapat Rekor dari Lembaga Prestasi Indonesia-Dunia (LEPRID). Rekor tersebut diraihnya dalam kategori pelopor maha karya lukisan berbahan empon-empon.

Seniman tersebut bernama Ismedi atau kerap disapa Easting Medi berusia 44 tahun. Penghargaan diserahkan langsung oleh Ketua sekaligus pendiri LEPRID Paulus Pangka pada Sabtu (13/6/2020).

“Pandemi Covid-19 berdampak pada sendi – sendi kehidupan manusia salah satunya kehidupan seniman. Namun dapat membuat alam bawah sadar kita bergerak melahirkan ide-ide kreatif, inovatif, dengan peluang – peluang baru,” ungkapnya.

Dia menjelaskan, karya milik Medi yang unik dan menarik yakni pada proses dan latar belakang dibalik pembuatannya. Lukisan tersebut tidak hanya mengenai seni namun juga tentang toleransi.

”Pada saat prosesnya, yakni dimana sejak menanam, memanen hingga proses memarut, memeras, dan menuangkannya dalam maha karya yang indah dan hidup,” jelasnya.

”Keunikan lainnya yakni spesifikasi pelukis Kepala Budha meskipun Mas Medi bukan pemeluk agama Budha. Toleransi dan wawasan berpikir yang luas telah diwariskan leluhurnya menjadi pelajaran inspiratif bagi kita,” sambungnya.

Loading...

Penghargaan tersebut bukan satu-satunya. Sebelumnya, Medi telah mendapat penghargaan seperti 3rd winner ‘Cipta Kriya Grabah’, Chermices Design Product Yogyakarta , 2nd winner ‘Sayembara Desain Prangko’  National Education Day, Bandung (1995).

Kemudian First winner ‘lomba lukis poster Tanah merdeka Republika’ at TVRI Station Yogyakarta (1994), First winner ‘ lomba Poster Penghijauan’ at Magelang Regency (1993), the 3rd winner Borobudur Festival (1993), The Di of ‘Lomba Lukis Poster Borobudur’ at Borobudur (1992), First winner ‘Lomba Lukis Poster Remaja’ at Magelang Regency.

Medi mengaku dengan penghargaan itu, memacunya untuk terus berkarya. Dia pun menceritakan awal mula ide lukisan dari empon-empon tersebut.

Hal itu bermula ketika pandemi Covid-19, iapun mematuhi anjuran pemerintah untuk tetep dirumah. Karenanya, ia mengurangi aktivitas keluar rumah seperti membeli cat akrilik yang biasanya menjadi bahan utama untuknya melukis.

“Saya mendukung program pemerintah stay at home, work from home. Jadinya semua dilakukan sendiri. Komunikasi lewat media sosial,” ujarnya.

Kemudian, ide melukisnya muncul saat melihat empon-empon yang melimpah di desanya. “Memang sengaja karena empon-empon di lingkungan saya mudah dijumpai namun kurang punya nilai ekonomi sehingga kurang di perhatikan.Dengan itu, siapa tahu bisa meningkatkan ekonomi masyarakat dan saya khususnya,” imbuhnya.

Download Musik Keren Disini

Tambah Medi, ia akan tetap melukis dengan berbahan empon-empon karena tanaman tersebut merupakan warisan leluhur yang harus dilestarikan. Selain itu juga untuk meningkatkan manfaatnya selain sebagai jamu.

”Belum tahu kedepan empon-empon bisa dibuat apalagi yang lebih kreatif,” pungkasnya. (mta)

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

error: Content is protected !!
%d blogger menyukai ini: