Kisah Bocah Kembar Jadi Pemulung Untuk Hidup, Prinsip Tak Mau Dikasihani

BNews–NASIONAL– Kisah pilu dua bocah kembar, Dedi dan Dida, warga Kabupaten Subang, berjuang mencari nafkah dengan mencari rongsokan.

Pekerjaan tersebut mereka lakukan demi menafkahi keluarga. Walaupun mencari nafkah untuk keluarga, Dedi dan Dida tidak meninggalkan pendidikan. Kisah Dedi dan Dida itu diceritakan kembali oleh Dedi Mulyadi, Kamis (23/2/2023).

Kang Dedi tidak sengaja bertemu dengan bocah kembar saat mereka sedang berteduh di pinggir jalan. Kang Dedi menghampiri dan berbincang. Dari perbincangan itu diketahui, Dedi dan Dida masih sekolah di SMPN 6 Subang.

“Sekolah kelas 7 di SMPN 6, Pak,” kata Dedi saat berbincang dengan Kang Dedi dalam videonya.

Dedi dan Dida mengatakan, telah mencari rongsok sejak lama demi membantu perekonomian keluarga. Sebab sejak kecil mereka ditinggal oleh sang ayah.

Ternyata ayah dari bocah kembar tersebut tak pernah pulang ke rumah. Bahkan ayahnya terhitung hanya beberapa kali memberikan nafkah untuk mereka. “Bapak namanya Wargina Mulyadi, dulu bapak bandar rongsok. Sekarang gak tahu di mana. Kami hanya tinggal sama ibu, kakak, dan adik,” ujar Dedi dan Dida.

Selain mereka, kakak pertama yang bernama Fajar yang kini kelas 12 SMK telah mencari rongsok sejak sekolah dasar (SD). Fajar juga disebut aktif berjualan berbagai jenis pakaian secara online.

DOWNLOAD APLIKASI BOROBUDUR NEWS (KLIK DISINI)

“Yang cari uang bertiga untuk keluarga. Kakak Fajar sama Dedi-Dida. Kami saling melengkapi kalau Aa lagi gak ada (rezeki), dari kita,” tutur Dedi.

Dalam satu hari kedua bocah ini bisa mendapatkan uang Rp15.000-Rp20.000. Uniknya mereka selalu berpakaian rapi karena tak mau saat merongsok dikasihani oleh orang lain.

“Kami gak mau pura-pura biar dikasihani. Apalagi kebersihan itu sebagian dari iman. Ini juga double pakai celana pendek jadi kalau mau salat tinggal ganti,” tutur Dida.

Setelah berbincang, Kang Dedi mengajak kedua bocah tersebut masuk ke dalam mobil sambil membawa karung berisi rongsokan. Mereka diajak untuk membeli peralatan sekolah dan kebutuhan pokok untuk keluarganya sehari-hari.

Di dalam mobil Dida bercerita, dulu saat ayah masih ada, hidup keluarga berkecukupan. Namun setelah ayahnya pergi, menghilang, perekonomian mereka terpuruk. Bahkan sempat makan dua hari sekali.

“Sewaktu belum merongsok mah kami sering gak makan. Makan bisa dua hari sekali. Alhamdulillah setelah merongsok bisa dapat penghasilan buat makan, buat mamah sama adik juga,” ujar Dida.

Seusai berbelanja, dua bocah kembar itu diantar pulang ke rumah oleh Kang Dedi. Di rumah tersebut Kang Dedi bertemu dengan ibu, kakak, dan adik dari Dedi dan Dida.

Dari obrolan tersebut terungkap bahwa anak-anak sudah terbiasa mandiri sejak ditinggal oleh ayahnya. Bahkan mereka tak malu untuk mencari rongsokan dan meminta sang ibu untuk fokus mengurusi rumah.

“Dulu waktu terpuruk saya kerja, jualan. Tapi lama-lama anak yang paling besar (Fajar) bilang ibu gak usah kerja biar Aa saja yang cari uang. Ibu mah urusin adik-adik saja di rumah. Yang kembar juga begitu mereka aktif membantu,” ujar sang Ibu.

DOWNLOAD APLIKASI BOROBUDUR NEWS (KLIK DISINI)

Kang Dedi Mulyadi mengapresiasi kegigihan anak-anak tersebut yang mampu mandiri bahkan sanggup menopang ekonomi keluarga. Bahkan seluruh anak-anak bisa sekolah dari hasil kerja keras sendiri.

“Saya tidak mengasihani anak-anak ini, tapi justru saya memberikan support kepada mereka karena hebat. Mereka anak-anak hebat yang berjuang demi ibu yang merupakan segala-galanya, dan tidak mau melihat ibunya susah,” ujar Kang Dedi.

Menurut Kang Dedi, mereka bisa menjadi contoh untuk anak-anak lain untuk bisa mandiri dan berbakti kepada orangtua.

“Hari ini anak-anak mungkin kondisinya begini, tapi suatu saat mereka bisa jadi pengusaha sukses. Ini contoh bahwa kemiskinan bukan alasan untuk tidak memiliki keinginan menjadi kaya atau berkecukupan, karena itu semua bisa diubah dengan kerja keras,” ujar dia.

Di sela-sela momen pertemuan yang diwarnai tangis haru itu, Kang Dedi sempat berkeliling rumah. Meski hidup susah namun rumah keluarga tersebut rapi dan bersih. Sejumlah barang rongsok dikumpulkan di luar rumah sebelum nanti dijual ke pengepul.

Tak lama Kang Dedi pun berpamitan dan memberikan sejumlah uang kepada ibu tersebut sebagai tambahan modal ekonomi keluarga. “Ini contoh yang baik untuk anak-anak Indonesia. Mereka adalah anak-anak hebat,” tutur Kang Dedi. (*)

About The Author

Tinggalkan Balasan

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.

error: Content is protected !!