WOW UNIK !! Di Jateng Ada Sebuah Wilayah Disebut “Kampung Janda Musiman”
- calendar_month Sel, 23 Mei 2023

ilustrasi janda baru
BNews–JATENG– Purbalingga merupakan salah satu wilayah yang berada di Provinsi Jawa Tengah.Tahukah kamu, di wilayah Purbalingga Jawa Tengah ini terdapat suatu kampung terunik.
Dimana, kampung terunik ini warganya hanya diisi oleh wanita-wanita yang tidak memiliki suami. Nama kampung terunik yang ada di Purbalingga, Jawa Tengah tersebut bernama Kampung Janda.
Sebutan ‘Kampung Janda’ melekat pada Desa Losari, Kecamatan Rembang, Kabupaten Purbalingga, Jawa Tengah.
Lokasi kampung janda ini berada di wilayah perbukitan, tepatnya sekitar 30 kilometer sebelah timur laut kota Purbalingga.
Banyak yang menyebut para perempuan di Desa Losari sebagai “Janda Musiman”, karena mereka ditinggal pergi suaminya untuk sementara waktu.
Sebagian besar lelaki yang tinggal di desa seluas 717 hektare tersebut merupakan perantau. Mereka kebanyakan pedagang dan buruh yang bekerja di berbagai kota.
Dari 2.577 kepala keluarga, 1.500 orang di antaranya meninggalkan istri dan keluarga di rumah.
DOWNLOAD APLIKASI BOROBUDUR NEWS (KLIK DISINI)
Hasil merantau para lelaki itu bisa dilihat pada wajah desa tersebut yang tidak tampak layaknya sebuah desa di daerah terpencil. Di sana banyak terdapat rumah megah, yang menunjukkan kesuksesan pemiliknya sebagai perantau.
Sebagian besar penduduk yang merantau berprofesi sebagai pedagang yang didominasi sebagai pedagang kain keliling di Pulau Sumatera, khususnya Provinsi Lampung.
Ada juga yang bekerja sebagai pedagang siomay di berbagai kota di Pulau Jawa seperti Semarang, Yogyakarta, dan Bandung. Ataupun menjadi buruh pabrik, bangunan, maupun pembantu rumah tangga di Jakarta.
Sebagian besar perantau tersebut hanya mengenyam pendidikan SD dan SMP. Bahkan, yang berpendidikan rendah tersebut, justru paling banyak meraih kesuksesan dalam berdagang dibanding warga yang berpendidikan tinggi.
Hal itu terjadi mungkin karena mereka tidak gengsi dan memiliki jiwa dagang sehingga bisa sukses di perantauan.
Para perantau yang sebagian besar merupakan kepala keluarga tersebut, rata-rata meninggalkan istri dan keluarganya selama tiga bulan untuk berdagang.
Gejalan gemar merantau para penduduk desa itu mulai terlihat pada tahun 1970-an. Ketika itu, mulai banyak warga Losari yang merantau dan meninggalkan istrinya hingga enam bulan.
Dengan demikian, para istri yang ditinggalkan sering kali diistilahkan sebagai “janda musiman”. Kepulangan para perantau pun tidak selalu bersamaan tetapi biasanya para perantau pulang ketika menjelang lebaran sehingga mereka bisa berkumpul dengan keluarganya. (*/radar utara)
About The Author
- Penulis: Borobudur News





Saat ini belum ada komentar