Yuk ke Janari, Desa Wisata Edukasi Penghasil Kopi di Pakis Magelang

BNews—PAKIS— Aksi pemuda Dusun Gatran, Desa Gondangsari, Kecamatan Pakis, Kabupaten Magelang yang mayoritas tamatan SMA/ SMK ini patut dicontoh. Mereka kompak bergotong royong dan mengabdikan diri untuk kemajuan kampungnya menjadi desa wisata edukasi penghasil kopi.

”Nama yang kami ambil adalah Janari yang merupakan akronim dari jaga alam dan nikmati alam yang lestari,” kata Koordinator desa wisata Desa Gondangsari, Handoyo, pada Soft Opening Desa Wisata Janari, Senin (29/3).

Ia menjelaskan, Janari diakui sudah cukup mempresentasikan apa yang akan dipersembahkan kepada tamu dan wisatawan. Karena ada beberapa hal yang ingin diangkat sebagai menu atau pilihan edukasi seperti; pembuatan makanan tradisional, melihat dari dekat pertanian lokal, kesenian tradisional yang masih terjaga dan juga edukasi kopi.

”Tamu yang hadir akan suguhi makanan dan minuman tradisonal. Makanan yang disuguhkan ketela, kimpul, midro dan hasil olahan dari bahan tersebut. Sedang minuman yang disuguhkan adalah The Gantoel, Jahe Serai dan Trasan (teh hijau),” jelasnya.

Pembukaan soft opening berlangsung sederhana yang ditandai dengan pemotongan tumpeng nasi jagung dan pemukulan kentongan. Menariknya lagi adalah penampilan seni tari soreng anak dan drama musikal yang menggambarkan keseharian masyarakat di desa.

Yakni, kehidupan para petani yang berangkat ke ladang dengan diiringi lagu jawa oleh pesinden cilik, anak-anak yang bermain permainan tradisional dengan gembira dan penampilan seni beladiri Pencak Silat. Bahkan dalam acara tersebut, juga ada permainan anak-anak yang menggunakan gasing, serta permainan  tradisional lainnya.

”Permainan tradisional inilah masih kami pertahankan agar anak-anak tidak tergerus oleh permainan dan budaya asing,” jelasnya.

DOWNLOAD APLIKASI BOROBUDUR NEWS (KLIK DI SINI)

Selain itu, para wisatawan juga diajak untuk melihat dan melakukan praktik pembuatan nasi jagung. Mulai dari menumbuk jagung menggunakan alu dan lumping,  wiatawan juga diajak untuk memasak nasi jagung.

Pembuatan nasi jagung dimulai dengan menghaluskan jagung di lumpang dengan cara Ditutu (ditumbuk). Setelah halus, jagung kemudian diayak dan mulai dimasak dipawon menggunakan Dandang. Lalu proses selanjutnya adalah seperti ngemeh dan kukus.

Acara yang dilakukan adalah pemanenan tomat organik, pemanenan cabai dan sayuran lainya. Kemudian sayuran yang telah dipanen akan dikemas bersama-sama dan wiatawan  diajak menanam bibit kopi secara massal.

”Mengenal perawatan tanaman kopi, petik kopi, dan proses pengeringan biji kopi hingga menjadi kopi siap saji. Yang menarik dari edukasi ini adalah beberapa proses yang masih tradisional,” tambahnya. 

Sementara itu, Deputi Bidang Sosial Budaya IRE, Dina Mariana mengatakan bahwa sebagai lembaga riset dan pemberdayaan masyarakat yang konsen di isu-isu desa, ia melihat bahwa desa harus berdaya untuk bisa memanfaatkan peluang. Setelah mendampingi Desa Karangrejo Borobudur, tahun ini ia beralih ke lereng Merbabu tepatnya di Pakis.

”Enam bulan lalu, IRE baru melakukan pemetaan dan berencana membangun kawasan Pakis yang bisa untuk prospek produksi pertanian dan pemasaran. Namun karena pandemi Covid-19, semua menjadi terbatas dan belum bisa menjangkau level Kawasan,” tambah Dina. (ifa/han)

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

error: Content is protected !!
%d blogger menyukai ini: