Breaking News
light_mode
Beranda » Berita Utama » Di Hadapan 178 BEM, Zulkifli Hasan Buka Forum Kritik Bebas dan Bahas Ketahanan Pangan

Di Hadapan 178 BEM, Zulkifli Hasan Buka Forum Kritik Bebas dan Bahas Ketahanan Pangan

  • calendar_month 16 menit yang lalu

BNews—NASIONAL— Menteri Koordinator Bidang Pangan, Zulkifli Hasan, membuka ruang dialog terbuka bersama 178 Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) dari seluruh Indonesia dalam Musyawarah Nasional (Munas) BEM SI di Semarang, Senin (27/7/2026).

Berbeda dengan forum yang biasanya diawali pidato panjang, Zulkifli Hasan justru langsung mempersilakan para mahasiswa menyampaikan kritik, protes, hingga mempertanyakan berbagai kebijakan pemerintah tanpa pembatasan.

“Pembukaan sudah banyak yang pidato, sekarang kita dialog saja. Waktu kita satu jam. Kritik boleh, protes boleh,” ujar Zulkifli Hasan yang langsung disambut antusias para peserta.

Menko Pangan: Demokrasi Harus Berlanjut di Ruang Dialog

Dalam kesempatan tersebut, Zulkifli Hasan menegaskan bahwa demokrasi yang sehat tidak berhenti pada penyampaian aspirasi melalui aksi di ruang publik. Menurutnya, pemerintah juga memiliki kewajiban membuka ruang dialog agar setiap kebijakan dapat dijelaskan secara terbuka kepada masyarakat.

Ia menilai forum diskusi bersama mahasiswa harus menjadi wadah bertukar gagasan, bukan sekadar kegiatan seremonial.

“Demokrasi tidak berhenti di jalan, tetapi harus dilanjutkan di ruang dialog. Demonstrasi adalah hak setiap warga negara. Setelah aspirasi disampaikan, pemerintah berkewajiban membuka ruang diskusi. Mahasiswa berhak mempertanyakan seluruh kebijakan pemerintah, dan menjadi tugas kami menjelaskan secara terbuka,” tegasnya.

Dialog berlangsung dinamis dengan berbagai pertanyaan kritis dari mahasiswa. Sejumlah isu yang mengemuka di antaranya implementasi Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih (KDMP), tata kelola sektor pangan, kesejahteraan petani dan nelayan, hingga arah pembangunan nasional.

Seluruh pertanyaan tersebut dijawab langsung oleh Menko Pangan dalam suasana diskusi yang terbuka dan interaktif.

Soroti Tantangan Ketahanan Pangan Dunia

Dalam paparannya, Zulkifli Hasan mengingatkan bahwa tantangan terbesar dunia pada abad ke-21 adalah persoalan pangan.

Mengacu pada data State of Food Security and Nutrition yang diterbitkan Organisasi Pangan dan Pertanian Perserikatan Bangsa-Bangsa (FAO) pada Juli 2026, ia menyebut satu dari tiga penduduk dunia masih menghadapi persoalan akses terhadap gizi.

Menurutnya, persoalan pangan global saat ini tidak hanya berkaitan dengan ketersediaan bahan pangan, tetapi juga akses masyarakat terhadap pangan yang bergizi sehingga setiap negara dituntut memperkuat ketahanan pangannya.

Ia menambahkan, Indonesia memiliki sumber daya alam yang melimpah. Namun, berbagai persoalan tata kelola masih perlu terus dibenahi agar manfaatnya benar-benar dirasakan oleh masyarakat.

Pemerintah Perkuat Dukungan bagi Petani dan Nelayan

Zulkifli Hasan menegaskan pemerintah memilih memberikan keberpihakan kepada kelompok yang selama ini dinilai paling rentan, yakni petani dan nelayan.

Menurutnya, tanpa dukungan negara, petani dan nelayan akan sulit bersaing menghadapi tantangan ekonomi maupun mekanisme pasar.

“Tidak mungkin petani dan nelayan mampu bersaing sendiri tanpa keberpihakan negara. Karena itu pemerintah terus memperkuat berbagai kebijakan agar mereka memperoleh akses yang lebih baik terhadap permodalan, pasar, teknologi, dan kelembagaan ekonomi seperti Koperasi Kampung Nelayan Merah Putih maupun Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih,” jelasnya.

CEK BERITA UPDATE LAINNYA DISINI (KLIK)

Ia juga menegaskan bahwa upaya mewujudkan swasembada pangan bukan sekadar meningkatkan produksi nasional, tetapi juga menjaga kedaulatan bangsa.

Menurutnya, apabila seluruh sektor strategis diserahkan sepenuhnya kepada mekanisme pasar bebas, kelompok yang memiliki modal besar akan semakin kuat, sementara petani kecil berpotensi kehilangan ruang untuk berkembang.

Ajak Mahasiswa Terus Kritis dan Hadirkan Solusi

Menutup dialog bersama ratusan mahasiswa tersebut, Zulkifli Hasan mengajak generasi muda untuk terus menjaga tradisi berpikir kritis sekaligus berkontribusi dalam menghadirkan solusi bagi berbagai persoalan bangsa.

Ia menegaskan bahwa masa depan Indonesia berada di tangan generasi muda sehingga semangat gotong royong harus terus dijaga dalam membangun negara.

“Masa depan Indonesia ada di tangan kalian. Tidak ada negara lain yang lebih ingin Indonesia maju selain rakyat Indonesia sendiri. Karena itu mari kita kawal negeri ini bersama-sama. Kritik tetap diperlukan, tetapi dialog dan gotong royong adalah jalan agar kritik itu benar-benar melahirkan perubahan,” pungkasnya. (*)

About The Author

  • Penulis: BNews 2

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Tinggalkan Balasan

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses

Rekomendasi Untuk Anda

expand_less