Badan Otorita Borobudur Siapkan Pengelolaan 309 Hektar Lahan di Perbukitan Menoreh

BNews—MERTOYUDAN— Badan Otorita Borobudur (BOB) terus mengebut pengembangan Kawasan Destinasi Super Prioritas Borobudur. Saat ini pihaknya sudah menyelesaikan rencana induk atau masterplan pengelolaan lahan seluas 309 hektar di perbukitan Menoreh, Kabupaten Purworejo, Jawa Tengah.

Direktur Utama BOB, Indah Juanita menuturkan, luas lahan 309 hektar yang dimiliki terdiri dari 50 hektar dengan Hak Pengelolaan Lahan (HPL). Sedang sisanya merupakan kerjasama antara BOB dan Perum Perhutani.

”Sekarang kita sedang memetakan mana saja yang akan dibangun terlebih dahulu. Beberapa investor ada yang sudah siap berinvestasi di kawasan tersebut,” tuturnya dalam Rapat Koordinasi Destinasi Super Prioritas Borobudur (Joglosemar) oleh Badan Otoritas Borobudur (BOB) di Grand Artos Hotel Magelang, belum lama ini.

Jelas Indah, saat ini di Purworejo sudah berdiri De’Loano Glamorous Camping (De’Loano Glamping) di atas sebagian kecil dari lahan 300-an hektar lahan otorita dengan kapasitas 50 orang. Pemanfaatan dengan luasan yang kecil kemudian disebutnya baru sebatas laboratorium.

”Glamping itu hanya satu hektar dari 300-an hektar. Tetapi, dari lahan seluas itu, ada banyak juga yang tidak bisa dibangun untuk bangunan masif,” jelasnya.

Baca juga: Yuk…Intip Keseruan Media Gatering Artos Grup di Lereng Menoreh

Sementara itu, BOB juga menargetkan pembangunan 1.200 kamar hotel di perbukitan Menoreh. Jumlah kamar tersebut akan dibangun secara bertahap dengan kondisi pasar.

” Kita perkirakan pembangunannya selesai tahun 2025,” kata Indah.

Direktur Utama Badan Otorita Borobudur Indah Juanita

Imbuh dia, target utama saat ini adalah memprioritaskan quality tourism experience atau kualitas kesan wisatawan. Pihaknya menginginkan agar wisatawan yang datang ke Borobudur juga berkunjung ke destinasi wisata lainnya. Tentunya dengan pengalaman berbeda yang ditawarkan antar lokasi wisata.

”Kalau wisatawan hanya mendapat pengalaman yang sama, mereka tidak akan datang ke semua tempat. Dampaknya lama tinggal akan berkurang. Jadi sinkronasi lintas daerah juga penting agar bisa kita kembangkan bersama-sama dengan segala potensi yang ada,” imbuh dia.

Deputi III Bidang Koordinasi dan Infrastruktur Kementerian Koordinator Kemaritiman dan Investasi, Ridwan Djamaludin mengungkapkan, model pembangunan pariwisata di Indonesia tahun ini sudah berubah. Dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2020-2024 ditekankan pada target utama penghasilan masyarakat dari pariwisata.

”Sekarang bukan lagi pada upaya mendatangkan wisatawan yang banyak. Maka, penting adanya rakor ini untuk membahas program kepariwisataan dan identifikasi potensi yang bisa digarap bersama,” pungkas Ridwan. (han)

Tinggalkan Balasan

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar anda diproses.

error: Content is protected !!
%d blogger menyukai ini: