Banyak Risiko, Ternyata Segini Gaji Debt Collector

BNews—MUNGKID— Tidak sedikit pengendara yang masih menyimpan penasaran dengan sekumpulan pria yang nongkrong di pinggir hingga persimpangan jalan. Rata-rata badannya tegap, berpenampilan sangar, matanya tajam menatap kendaraan yang melintas.

Mereka bekerja secara kelompok. Jumlahnya bisa empat hingga tujuh orang. Sedang tangannya tidak bisa lepas dari ponsel.

Bisa ditebak, mereka adalah Debt Collector (DC) atau juru tagih hutang. Bagi sebagian masyarakat, profesi ’mata elang’ masih dipandang sebelah mata dan dianggap pengganggu hingga kerap disamakan dengan preman.

Rata-rata DC bekerja untuk leasing untuk mengurus kreditur yang badel mengangsur cicilan. Tidak sedikit pemilik kendaraan kredit yang akhirnya harus berhadapan dengan mereka.

Meski tidak semua, tetapi saat melakukan eksekusi, DC terpaksa melakukan tindak kekerasan bila kreditur tidak bisa diajak kerja sama. Tidak sedikit aksinya berakhir dengan cekcok, melebar menjadi bentrok hingga dikejar polisi.

DPD PKS Magelang Ramadhan

Salah seorang mantan koordinator DC menjelaskan, hal tersebut sudah menjadi konsekuensi yang harus diterima. Ia bekerja totalitas karena ada target yang harus dikejar.

”Tuntutan minimal 20 persen dari kendaraan (motor) yang angsurannya macet. Harus diurus (ditagih) Debt Collector,” kata sumber yang enggan disebutkan identitasnya itu.

Dari target tersebut, pihak leasing akan menentukan bayaran untuk satu kendaraan. Bayaran ditentukan sesuai usia motor dan tempo angsuran saat macet.

”Lumayan. Permotor bisa Rp 1 juta. Tapi bisa juga Rp 500 ribu kalau angsurannya macet kurang dari enam bulan,” katanya.

Sebelum beraksi, tim mata elang sudah diberi data kendaraan yang menunggak angsuran dari pihak leasing. Dan oleh pihak leasing, semua keputusan akan diserahkan ke DC untuk dieksekusi. (han)

Tinggalkan Balasan

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar anda diproses.

error: Content is protected !!
%d blogger menyukai ini: