BEM UGM Dampingi Desa Wisata Ngargoretno Perkuat Wisata Ditengah Pandemi

BNews–SALAMAN– Memiliki ilmu tiada salahnya untuk saling berbagai. Dan di masa pandemi ini, berbgai ilmu tidak perlu tatap muka, namun bisa dilakukan secara daring atau online.

Sepert halnya yang dilakukan oleh para pegiat wisata Desa Ngargoretno Kecamatan Salaman Kabupaten Magelang. Mereka menjadi salah satu pembicara webinar. Yakni dalam acara Lokakarya Program Holistik Pembinaan dan Pemberdayaan Desa (PHP2D).

Dimana dalam acara tersebut digelar oleh BEM KM Universitas Gajah Mada (UGM) Yogyakarta. Selain pegiat WIsata Desa Ngargoretno yang diwakili oleh Shoim Setam, ada juga nara sumber lain. Mereka adalah Halim Iskandar dari Kementrian Desa PDTT dan Timothy Rhema Sunulingga.

Webminar yang bertajuk “Survival Of Community Bassed Tourism Village In The Midst Of Pandemi 19” Ngargoretno Case” membahwa soal terpuruknya dunia pariwisata di masa pandemi covid.

Seperti yang diungkapkan Soim Setam dampak kunjungan wisatawan ke Desa Wisata Ngargoretno. “Meskipun pandemi, kami di wisata Desa Ngargoretno mampu mendaya gunakan seluruh potensi yang ada. Sehingga dalam menghadapi wabah covid 19 hampir bisa dikatakan tidak berdampak bagi kami,” katanya.

Acara tersebut digelar memang atas inisiatif permintaan warga masyarakat di Desa Ngargoretno. “Ya ini salah sebagai salah satu upaya dalam optimalisasi produk-produk kuliner desa. Serta BEM KM UGM sudah sekitar 3 bulan mendampingi kami,” imbuhnya.

“Mereka ini, ikut membenahi sisi marketing online dan memperbaiki pengemasan produk-produk kuliner di Desa Ngargoretno,” tandasnya.

DOWNLOAD APLIKASI BOROBUDUR NEWS (KLIK DISINI)

Sementara Thimoty Rhema Ketua Tim PHP2D dari UGM mengatakan bahwa pihaknya merasa sangat senang dengan kondisi Desa Ngargoretno. Menurutnya potensi di Desa tersebut sangat besar dan seluruh masyarakatnya bisa bersinergi bersama untuk memajukan desanya.

“Kami hanya melakukan suporting sistim dari apa yang sudah dilakukan oleh warga bersama pemerintah desa. Kami juga berkomitmen tidak akan begitu saja meninggalkan desa meskipun program pendampingan sudah selesai,” katanya.

Ia menambahkan bahwa nuansa membangun ekonomi dari pinggiran atau dari desa sangatlah terasa. “Dari sinilah kami akan banyak belajar dan mengabdikan diri di desa ini. Model-model pembangunan  melalui pola komunikasi bottom up seperti inilah yang akan bertahan dalam jangka waktu yang cukup lama karena pembangunan didasarkan pada aspirasi masyarakat bawah,” pungkasnya. (bsn)

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

error: Content is protected !!
%d blogger menyukai ini: