(Berupaya) Menghindar Dari Kematian

BNews–OPINI– Begitu banyak ulama, kyai, maupun pihak pemerintah (ulil amri) dan terutama tenaga Kesehatan telah puluhan bahkan ratusan kali menyampaikan himbauan; dan instruksi dalam menyikapi wabah Virus Corona (Covid-19) ini. Atau dipidatokan berkali-kali di mana-mana, namun saya ingin ikut pula menulis perihal ini. Perihal Virus Corona dan bagaimana kita menyikapinya dan berupaya memutus mata rantai penyebarannya.

Seorang teman bertanya via whatsapp, hidup itu untuk apa?. Saya menjawabnya “Semua orang — pada dasarnya — maunya hidup terus, hehe. Namun minimal semua orang ingin panjang umurnya, meski mereka tahu dan yakin kematian dapat  kapanpun datang menghampiri, tak kenal siapa kita, kapan terjadinya, dan dimana, tanpa bisa kita menolaknya.

Dan saya tak mau mati dengan cara membiarkan diri diserang virus yang merasuk masuk, menyerang ke dalam jantung diam-diam. Saya berupaya atau berikhtiar untuk menghindar dari kematian. Boleh jadi dengan cara begitu itu Tuhan akan menetapkan takdir-Nya sehingga saya bisa hidup lebih lama.

Sejatinya dan juga semua orang mesti ingin hidup sehat, bahagia, selamat dunia dan akhirat.

Secara historis, dalam Tarikh (Sejarah) Islam, kita sering mendapatkan cerita yang sangat viral di tengah pandemi yang kita alami saat ini mengenai kisah Khalifah Umar bin Khattab RA.

Dulu, kira-kira tahun ke 17 H, saat Umar bin Khattab memimpin sebuah bangsa besar tanpa batas geografis, virus Amwas, tiba-tiba menyerbu dan menyerang secara sporadis warga di wilayah Syam –Syiria saat ini– sebutan untuk daerah-daerah di Damaskus, Yordania, Palestina dan Lebanon. Nama Amwas diambil dari nama daerah kecil di antara Quds dan Ramalah, di mana virus itu pertama kali muncul di sana.

Dikisahkan kira-kira demikian, Khalifah Umar bin Khattab mengadakan perjalanan hendak mengunjungi Syam, beserta para sahabat Muhajirin dan Anshar.

DOWNLOAD APLIKASI BOROBUDUR NEWS (KLIK DISINI)

Tibalah mereka di sebuah kampung bernama Sarg, perbatasan antara Hijaz — sebutan untuk Jazirah Arab saat itu — dan Syam. Kemudian mereka bertemu panglima beserta pasukan yang dipimpinnya.

Mereka menyampaikan info sangat penting dan genting: Wilayah Syam sedang dilanda wabah hebat dan warganya banyak sekali yang sakit.

Di sana virus mematikan sedang menjangkiti warga. Sang Amirul Mukminin kemudian berunding dengan para sahabatnya lantas beliau memutuskan untuk pulang kembali ke Madinah. Tatkala beliau pulang, virus itu dikabarkan membunuh ribuan orang.

Konon, diceritakan dalam sejarah, katanya mencapai 20.000 orang yang mati, bahkan ada yang menyebut lebih dari itu, ada yang bilang 25.000 orang, bahkan 50.000 orang.

Beberapa yang terpapar dan terinfeksi virus dan kemudian meninggal di antaranya adalah para tokoh dan juga sahabat Nabi: Abu Ubaidah bin al-Jarrah (Gubernur Syam saat itu) beliau salah satu sahabat yang dibanggakan Nabi, Muaz bin Jabal, Yazid bin Abu Sufyan, Harits bin Hisyam, Suhail bin Amr, Utbah bin Suhail, dan lain-lain. Virus terus menyebar tanpa dapat dihentikan dan mengakibatkan banyak korban jiwa yang meninggal. Sampai kemudian Amr bin Ash, sahabat Nabi dan Gubernur Mesir kala itu, berpidato : 

“Wahai rakyatku, virus mematikan ini jika sudah turun dia akan membakar apa saja yang ada. Kalian harus keluar menjauh dari sini menuju ke pengunungan dengan menyebar, jangan berkumpul,” atau istilah saat ini “berkerumun”, dalam bahasa istilah medis saat ini untuk dijadikan protokol kesehatan kita sering mendengarnya dengan “Hindari Kerumunan.”. Merekapun keluar menyebar. Tak lama kemudian Allah menghilangkan virus-virus itu.

DOWNLOAD APLIKASI BOROBUDUR NEWS (KLIK DISINI)

Khalifah Umar bin Khattab mendapat laporan tentang kebijakan dari Amr bin Ash tersebut. Beliau sangat senang mendengarnya dan mendukung kebijakan tersebut. Yang penting adalah bagaimana caranya agar virus tidak menularkan kepada orang lain.

Bisa dengan tinggal di rumah saja. Bisa juga dengan menjaga jarak, physical distancing, tidak keluar melulu atau mengurangi mobilitas, tidak berkerumun atau hindari kerumunan atau kebijakan lain seperti PSBB, PPKM Mikro, dan karantina wilayah lainnya, sampai Lockdown.

Sesuai dengan keadaannya masing-masing. Mari bersama-sama mendukung pemerintah (ulil amri) kita dan kita berjuang bersama keluar dari wabah atau pandemi ini. Menyambut tatanan yang baru dan dengan melakukan Adaptasi Kebiasaan Baru (AKB) dengan baik dan konsisten dalam kehidupan sehari-hari sesuai protokol kesehatan. Semoga kita diselamatkan dan disehatkan selalu. ( Dosen Tetap Universitas Islam Indonesia (UII) Yogyakarta :  Alif Lukmanul Hakim )

Tinggalkan Balasan

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.

error: Content is protected !!
%d blogger menyukai ini: