Bayer Klaim Camalus Bisa Tingkatkan Hasil Panen dan Tekan Biaya Produksi Petani
- calendar_month 39 menit yang lalu

Bayer Indonesia Luncurkan Camalus: Inovasi Insektisida Sistemik Ganda untuk Memperkuat Produktivitas Hortikultura Nasional
BNews-NASIONAL – Bayer Indonesia resmi meluncurkan Camalus, insektisida generasi terbaru yang dirancang untuk membantu petani hortikultura mengendalikan hama pengunyah dan pengisap secara bersamaan. Produk ini diperkenalkan di Kabupaten Simalungun, Sumatera Utara, Senin (6/7/2026), sebagai bagian dari upaya meningkatkan produktivitas pertanian nasional.
Peluncuran Camalus dilakukan di tengah pertumbuhan positif sektor hortikultura Indonesia. Data menunjukkan subsektor hortikultura mencatat pertumbuhan 3,85 persen secara tahunan pada triwulan IV 2025. Pemerintah juga terus mendorong peningkatan ekspor hortikultura yang naik 49 persen pada semester I 2025.
Komoditas cabai menjadi salah satu penyumbang utama. Produksi cabai besar nasional sepanjang 2025 mencapai 1,72 juta ton atau meningkat 16,73 persen dibandingkan tahun sebelumnya. Sementara konsumsi rumah tangga juga mengalami kenaikan menjadi 641,93 ribu ton.
Meski demikian, ancaman serangan hama seperti ulat, pengorok daun, kutu kebul, kutu daun hingga thrips masih menjadi tantangan utama petani. Bahkan, serangan ulat daun kubis (Plutella xylostella) dapat menyebabkan kehilangan hasil panen hingga 100 persen apabila tidak ditangani dengan baik.
Head of Field Solutions Bayer South East Asia & Pakistan, Kukuh Ambar Waluyo, mengatakan kebutuhan petani terhadap solusi pengendalian hama yang lebih efektif terus meningkat karena berbagai jenis hama kini banyak menyerang tanaman secara bersamaan.
“Tantangan yang dihadapi petani hortikultura semakin kompleks karena hama pengunyah dan penghisap (hama ulat, pengorok daun, kutu kebul, kutu daun, thrips) umumnya menyerang bersamaan. Untuk mengatasinya, petani mencampur dua jenis insektisida berbeda dalam satu siklus tanam. Camalus dari Bayer menjawab kesenjangan kebutuhan yang selama ini belum terpenuhi dalam budidaya tanaman hortikultura. Bayer juga memastikan setiap solusi yang kami hadirkan, termasuk Camalus, telah melalui proses riset dan adaptasi yang matang terhadap kondisi agroekologi Indonesia, termasuk tekanan hama spesifik yang dihadapi petani hortikultura di Indonesia,” ujar Kukuh Ambar Waluyo.
Menurutnya, Camalus memiliki keunggulan dibandingkan insektisida konvensional karena mengombinasikan dua bahan aktif yang bekerja secara sistemik.
CEK BERITA UPDATE LAINNYA (DISINI)
Ia menjelaskan, produk tersebut mengandung Tetraniliprole dan Spirotetramat dalam satu formulasi dengan sistem perekat sehingga mampu mengendalikan berbagai jenis hama sekaligus, memperlambat munculnya resistensi, serta tetap efektif meski setelah hujan.
“Kamalus mempunyai banyak kelebihan dan juga mempunyai cara kerja yang unik dibandingkan produk konvensional lainnya karena Camalus sangat bisa diandalkan dengan 2 bahan aktif plus sistem perekat untuk pengendalian resistensi hama. Ulat lebih cepat berhenti makan, sehingga melindungi sejak awal kerusakan lebih berat. Camalus bekerja secara sistemik penuh dengan memberikan perlindungan ampuh untuk hama tersembunyi di dalam dan di luar daun, serta memberikan pengendalian tuntas dan lengkap (mengendalikan hama ulat, pengorok daun, kutu kebul, kutu daun serta menekan populasi thrips),” jelasnya.
Bayer mengungkapkan, pengembangan Camalus memerlukan waktu sekitar 10 tahun, mulai dari penemuan molekul, penyempurnaan formulasi, pengujian efikasi, studi keamanan hingga registrasi produk. Di Indonesia, produk tersebut juga diuji melalui ratusan uji lapangan di berbagai daerah, termasuk di pusat riset Bayer JUARA di Klaten.
Hasil uji menunjukkan Camalus mampu memberikan pengendalian hama yang lebih optimal sekaligus membantu meningkatkan produktivitas tanaman. Produk ini juga dinilai mampu mengurangi biaya produksi karena petani tidak lagi perlu mencampur beberapa jenis insektisida dalam satu musim tanam.
Camalus dapat digunakan pada berbagai komoditas hortikultura seperti cabai, tomat, kubis, bawang merah, kentang, semangka, jeruk hingga mangga. Selain efektif terhadap hama pengunyah dan pengisap, produk ini juga kompatibel dengan prinsip; Pengendalian Hama Terpadu (PHT) karena bekerja pada dosis rendah dan lebih selektif terhadap hama sasaran.
Indonesia menjadi negara ketiga yang memasarkan Camalus setelah India dan Filipina. Peluncuran di Simalungun turut dihadiri sekitar 350 petani yang juga berkesempatan melihat langsung demonstrasi penggunaan Camalus pada lahan cabai; tomat, dan kubis.
CEK BERITA UPDATE LAINNYA (DISINI)
Commercial Unit Lead West Bayer Crop Science Indonesia, Krisna Dwi Laksono; mengatakan Bayer tidak hanya menghadirkan inovasi, tetapi juga memastikan teknologi tersebut mudah dijangkau petani.
“Tak berhenti pada komitmen berinovasi, ketersediaan dan kemudahan akses terhadap teknologi pertanian juga menjadi prioritas Bayer. Karenanya, kami memastikan agar Camalus hadir dekat dengan keseharian petani, baik dari sisi ketersediaan maupun kemudahan akses. Dengan demikian, semakin banyak petani hortikultura Indonesia yang bisa merasakan manfaat; insektisida generasi baru Bayer dan pada akhirnya turut mendorong peningkatan kesejahteraan mereka,” ujar Krisna Dwi Laksono.
Sepanjang 2026, Bayer akan memperluas distribusi Camalus ke 13 provinsi; yakni Aceh, Sumatera Utara, Sumatera Barat, Bengkulu, Lampung, Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, Nusa Tenggara Barat; Sulawesi Selatan, Kalimantan Barat, Kalimantan Selatan, dan Bali.
Saat ini Camalus tersedia dalam kemasan co-pack 100 ml dan dipasarkan secara; bertahap melalui jaringan kios tani, termasuk Better Life Farming Center (BLFC). Bayer juga menyediakan edukasi teknis mengenai; dosis dan tata cara penggunaan yang aman melalui tim agronomis di lapangan serta media sosial Bayer CS Petani. (Bsn)
About The Author
- Penulis: BNews 2





Saat ini belum ada komentar