Desa Di Secang Siapkan Karantina Pemudik Dengan Fasilitas Wifi

BNews—SECANG— Pemerintah Desa Krincing di Kecamatan Secang, kabupaten Magelang menggagas bilik karantina untuk mengantisipasi gelombang pemudik yang hendak pulang kampung. Istimewanya, bilik yang dibangun secara swadaya oleh masyarakat ini dilengkapi fasilitas mewah.

Bilik karantina ini terbuat dari bahan kayu dan papan tripleks. Tidak hanya satu, Pemdes Krincing membuat beberapa bilik yang ditempatkan di dalam gedung serba guna setempat.

Kepala Desa Krincing Heri Purwanti mengatakan, tujuan pembuatan bilik ini sebagai langkah antisipasi para pemudik. Utamanya bagi para perantau di kabupaten/ kota yang dikenal sebagai zona merah covid-19.

”Utamanya dari episentrum covid-19 seperti Jakarta dan sekitarnya. Kami ingin Desa Krincing zero covid-19 dan ditargetkan seratus persen desa ini aman dari virus corona,” kata Heri, Sabtu (11/4).

Heri mengungkapkan, pihaknya menargetkan 20 unit bilik karantina. Masing-masing bilik persegi berukuran 2,5 meter x 2,5 meter.

Meski terbuat dari bahan papan tripleks, bilik ini ’bermandikan’ fasilitas mewah. Diantaranya dilengkapi kasur, hand sanitizer, masker, tempat cuci hingga jaringan wifi.

”Para pemudik yang nekat pulang kampung diwajibakan menjalani karantina 14 hari. Kami beri fasilitas lengkap agar mereka tidak bosan selama di dalam bilik. Nanti bilik dipisahkan antara laki-laki dan perempuan,” terang dia.

Loading...

Tidak hanya menyediakan bilik mewah. Pemdes Krincing juga akan memberikan layanan kesehatan. Pihaknya bekerjasama dengan faskes setempat. Termasuk menggandeng Polsek dan Koramil serta relawan untuk pengamanan.

Baca juga: Daftar Pekerjaan Yang Tidak Terganggu Covid-19

”Selama masa karantina biaya hidup ditanggung secara swadaya. Sementara biaya logistik ditanggung pihak keluarga masing-masing karena pemdes tidak ada anggaran,” jelasnya.

Heri mengungkapkan, dana yang digunakan untuk membuat bilik sejatinya menggunakan Dana Desa (DD) sebesar Rp105 juta. Namun, karena DD belum turun, dirinya sementara berhutang untuk mencukupi kebutuhan. Termasuk obat-obatan dan disinfektan.

”Saya rela menggadaikan mobil untuk membeli kebutuhan pembuatan bilik karantina. Nebusnya nanti kalau Dana Desa sudah turun. Kira-kira (turun) sekitar bulan Mei,” ujarnya.

Persiapan lain yang dilakukan adalah membuat masker secara mandiri dengan memberdayakan penduduk setempat. Saat ini sudah ada 400 masker yang dibuat.

”Nantinya masker dibagikan untuk pemudik ataupun relawan yang berjaga di posko-posko,” ujar dia.

Masih menurut Heri, Desa Krincing yang memiliki delapan dusun dan telah didirikan 20 posko karena Krincing merupakan desa strategis dengan banyak lintasan jalan. Sehingga, warga luar yang hendak datang ke desa ini harus melalui posko untuk didata dan disterilisasi seperti cuci tangan dan menggunakan hand sanitizer.

Meski bilik karanitina memiliki fasilitas lengkap, pihaknya mengaku tujuan utamanya adalah memberikan shock terapi baru pemudik yang ’bendel’ pulang kampung. Sebab, selama 14 hari ke depan, mereka akan dimasukkan ke dalam bilik karantina dan diawasi selama 24 jam.

”Kalau tidak mau dikarantina, sebaiknya tidak usah pulang ke Krincing,” pesan Heri. (han)

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

error: Content is protected !!
%d blogger menyukai ini: