Ganjar Ngantor Pakai Baju Adat Suku Dayak Kenyah, Ini Alasannya

BNews—JATENG—Semua Aparatur Sipil Negara (ASN) dan karyawan di lingkungan Pemerintah Provinsi Jawa Tengah wajib mengenakan baju adat Nusantara. Pada setiap hari Kamis minggu keempat dan di minggu lainnya, wajib mengenakan baju adat Jawa.

Hal tersebut tertuang dalam Surat Edaran Gubernur Jawa Tengah nomor 065/0016031/2019 dan diteken langsung oleh Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo. Karenanya, pada hari ini (23/7/2020) Ganjar mengenakan pakaian adat dari Suku Kenyah saat berkantor di Kantor Gubernur Jawa Tengah, Jalan Pahlawan, Kota Semarang.

”Ini hal kecil yang mudah-mudahan dapat mempersatukan bangsa. Kami ingin menunjukkan, bahwa masyarakat Jawa Tengah juga bagian dari Indonesia,” kata Ganjar.

Sebagai informasi, Suku Kenyah merupakan etnis di Kalimantan Timur yang acap disebut Dayak Kayan atau Dayak Kenyah. Pakaian yang dikenakan Ganjar terdiri atas Bluko’ atau topi pelindung yang biasanya terbuat dari rotan yang kuat, kemudian dihiasi dengan taring macan dan harimau. Topi ini juga dilengkapi dengan manik-manik dan hiasan bulu enggang serta bulu pegun.

Selanjutnya adalah Besunung atau baju perang. Oleh Suku Kenyah, besunung biasanya dibuat dari kulit binatang seperti beruang, kancil, harimau, macan, maupun kambing, yang cenderung sulit ditembus mandau saat tengah berperang. Selain itu juga kerap digunakan dalam rapat maupun saat upacara adat.

Ganjar juga mengenakan Avet atau cawat dan Tabit, yakni kain untuk melindungi tubuh bagian bawah sekaligus sebagai alas duduk. Di daerah asalnya, pakaian ini langsung dikenakan di tubuh namun Ganjar memilih menggunakan manset dan celana panjang hitam untuk alasan kenyamanan.

Demi melengkapi penampilannya, Ganjar membawa Baing atau Mandau, yakni senjata tradisional Suku Kenyah yang biasa dibawa untuk melindungi diri. Mandau asli tersebut dibeli Ganjar seperangkat dengan busananya.

Meski mengenakan baju adat, Ganjar tidak melupakan tanda pengenal dan pin “Tetep Mboten Korupsi, Mboten Ngapusi” (Tetap Tidak Korupsi, Tidak Berbohong) sebagai identitas sebagai bagian dari Pemprov Jawa Tengah.

”Saya beli, saya pesan langsung dari Kalimantan (Timur). Untuk apa? Untuk ke-Indonesiaan kita. Kita menghargai, menghormati dan bajunya bagus dari kayu, manik-maniknya bagus,” ungkap Ganjar saat menjadi narasumber di sebuah diskusi secara virtual.

Download Musik Keren Disini

Selain merawat ke-Indonesiaan, lanjut Ganjar, juga bisa mendorong perekonomian, terutama produsen baju adat di tiap daerah. ”Industri kecil ini di sana akan hidup, paling gak dibeli Gubernur Jawa Tengah. Jadi ke-Indonesiaan kita rawat, bisnisnya jalan,” imbuhnya.

Ganjar mengaku telah mengoleksi baju adat dari seluruh pelosok Nusantara. Ia ingin mengenalkan kepada masyarakat tentang beragamnya kebudayaan bangsa Indonesia, juga menjadikan momentum untuk menyatukan seluruh anak bangsa. (lhr/mta)

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

error: Content is protected !!
%d blogger menyukai ini: