Gus Yahya Diminta Mundur? Para Kiai Tegaskan Tak Ada Pemaksaan di Tubuh PBNU
- calendar_month Sen, 24 Nov 2025

Ketua PBNU KH Said Aqil Siroj. (Foto: internet)
BNEWS—NASIONAL— Polemik internal Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) terus bergulir setelah munculnya desakan agar Ketua Umum PBNU Yahya Cholil Staquf mundur dari jabatannya. Namun, pihak kiai menegaskan bahwa tidak ada pemaksaan maupun pengunduran diri sebagaimana isu yang beredar.
Ahmad, salah satu perwakilan kiai, menjelaskan bahwa para kiai hanya mengajak seluruh pihak untuk melakukan tafakur demi kebaikan bersama. Termasuk untuk kemaslahatan masyarakat, warga NU, dan bangsa Indonesia.
“Jadi sekali lagi, tidak ada pengunduran dan tidak ada pemaksaan pengunduran diri. Tidak ada. Ini sekali lagi saya tegaskan, tidak ada,” ujar Ahmad.
Ahmad menegaskan, jika pun terjadi pergantian kepengurusan, mekanismenya harus melalui majelis tertinggi organisasi, yakni Muktamar Nahdlatul Ulama, sesuai aturan yang sudah tertuang dalam AD/ART NU.
Pernyataan tersebut muncul setelah beredar risalah rapat harian Syuriyah PBNU yang meminta Gus Yahya mundur dari jabatan Ketua Umum.
Risalah itu beredar di grup percakapan media dan di media sosial. Rapat tersebut tercatat digelar di Hotel Aston Jakarta pada Kamis, 20 November 2025, dan dihadiri 37 dari 53 pengurus harian Syuriyah PBNU.
Dalam surat yang berjudul “Risalah Rapat Harian Syuriyah Pengurus Besar Nahdlatul Ulama”, terdapat keputusan yang meminta:
CEK BERITA UPDATE LAINNYA DISINI (KLIK)
“Yahya Cholil Staquf harus mengundurkan diri dari jabatan Ketua Umum PBNU dalam waktu 3 hari sejak diterimanya keputusan rapat Harian Syuriyah PBNU,” tertulis dalam dokumen yang ditandatangani Rais Aam PBNU Miftachul Akhyar pada Jumat, 21 November 2025.
Jika tidak mengundurkan diri dalam tiga hari, Syuriyah PBNU akan memberhentikannya dari jabatan Ketua Umum PBNU.
Rapat tersebut menilai bahwa kehadiran narasumber yang berafiliasi dengan jaringan Zionisme Internasional dalam kegiatan Akademi Kepemimpinan Nasional Nahdlatul Ulama (AKN NU); telah melanggar nilai dan ajaran Ahlussunnah wal Jamaah An-Nahdliyah, serta bertentangan dengan Muqaddimah Qanun Asasi NU.
Selain itu, langkah tersebut dinilai melanggar Peraturan Perkumpulan NU Nomor 13 Tahun 2025, khususnya Pasal 8 huruf a terkait pemberhentian fungsionaris yang mencemarkan nama baik NU.
Sebelum rapat harian ini, PBNU memang sempat mengundang peneliti Zionis Peter Berkowitz sebagai narasumber AKN NU pada pertengahan Agustus 2025. Berkowitz diketahui beberapa kali menulis buku yang membela Israel, termasuk Israel and the Struggle over the International Laws of War (2012) terbitan Hoover Institution Press.
CEK BERITA UPDATE LAINNYA DISINI (KLIK)
Menanggapi hal tersebut, Yahya Cholil Staquf sebelumnya menyampaikan permohonan maaf dan mengaku tidak mengetahui latar belakang pandangan pro-Israel dari Berkowitz.
“Jadi, saya mohon maaf sekali kepada masyarakat bahwa saya membuat keputusan tanpa pertimbangan yang teliti dan lengkap terkait Peter Berkowitz ini,” kata Yahya.
Ia juga menegaskan bahwa undangan tersebut hanya bertujuan meminta penjelasan mengenai konsep hak asasi manusia yang telah diteliti Berkowitz.
Terlepas dari polemik tersebut, Yahya Staquf menolak mundur seperti permintaan rapat Syuriyah PBNU. Ia memastikan akan tetap memimpin hingga masa khidmatnya selesai dalam satu tahun mendatang.(*/Tempo)
About The Author
- Penulis: Borobudur News





Saat ini belum ada komentar