Hilang 9 Hari, Warga Jogja Ditemukan Membusuk di Jurang Wonolelo

BNews—JOGJAKARTA— Sesosok mayat ditemukan oleh warga yang sedang mencari rumput di hutan sisi timur Kalurahan Wonolelo, Kapanewon Pleret, Bantul, Jumat (2/7) pagi. Jasad tersebut diketahui bernama PAR yang merupakan penduduk RT4, Pedukuhan Ploso, kalurahan setempat. 

PAR sempat dilaporkan hilang sejak Sembilan hari lalu. Sementara proses evakuasi membutuhkan waktu hampir empat jam lantaran medan yang sulit.

Lurah Wonolelo, Ahmad Furqon mengungkapkan, mayat laki-laki usia 68 tahun ini pertama kali ditemukan sekitar pukul 06.30WIB oleh warga setempat yang hendak mencari rumput. Warganya curiga lantaran mencium bau menyengat.

”Setelah dicari sumber bau tersebut didapati sesosok mayat yang sudah mulai membusuk,” ungkapnya usai membantu mengevakuasi.

Furqon menjelaskan, laporan saksi kemudian ditindaklanjuti oleh tim gabungan dari unsur relawan, FPRB Wonolelo dan SAR Distrik Bantul. Selain itu, personel Polsek dan Koramil Pleret pun datang untuk melakukan evakuasi.

”Sebelum dievakuasi dilakukan pemeriksaan dari TIM Inafis Polres Bantul, PMI Bantul dan Petugas Puskesmas Pleret. Dari hasil pemeriksaan tadi, diperkirakan sudah meninggal lebih dari tiga hari,” jelasnya.

Ia menerangkan, korban pertama kali dilaporkan hilang pada Kamis (24/6) lalu. Korban menurut keterangan keluarga sudah lama menderita pikun dan sering meninggalkan rumah.

DOWNLOAD APLIKASI BOROBUDUR NEWS (KLIK DI SINI)

Hampir setiap pagi PAR pergi dari rumah, namun kembali lagi pada sore harinya. Namun hari itu, menurut Furqon, PAR hingga malam tidak kembali dan pihak keluarga membuat laporan hilang di kepolisian.

”Sudah seminggu pencarian dilakukan oleh polisi, relawan dan warga,” jelasnya.

Kasiops SAR Distrik Bantul, Bondan mengaku setidaknya ada 30 personel gabungan yang melakukan evakuasi ini. Dikatakan untuk mencapai lokasi penemuan jenazah ini, armada mereka harus melalui jalan pertanian yang menanjak dan terjal.

Kendaraan hanya bisa mencapai lereng bukit yang berjarak satu kilometer dari perkampungan warga. Kemudian dari lokasi itu, relawan harus berjalan kaki menuju ke lereng bukit sejauh 500 meter.

”Ini dari pemberhentian armada kita harus naik lagi melalui jalan yang hanya bisa dilewati satu orang sejauh setengah kilometer,” ungkapnya.

“Posisi jenazah ini ada di perengan (jurang) sehingga cukup menyulitkan prosesnya,” tambahnya.

Petugas harus estafet atau bergantian membawa kantong jenazah untuk menurunkan jasad korban menuju ke lokasi pemberhentian. Karena kondisi jenazah yang sudah mulai membusuk, maka pihaknya melakukan ruhti atau perawatan jenazah di lokasi tersebut.

Setelah jenazah berhasil dievakuasi dan selesai dimandikan baru kemudian diserahkan kepada pihak keluarga untuk dimakamkan. ”Jadi kita lakukan ruhti di sini, baru kita masukkan ke dalam peti jenazah sebelum dibawa pulang oleh keluarga,” ucap Bondan.

Menurutnya petugas tidak menemukan tanda-tanda penganiayaan. Namun kematian korban diduga lantaran terperosok. ”Keluarga sudah mengikhlaskan dan tidak dilakukan otopsi, kemudian kami langsung mengevakuasi jenazah,” imbuh Furqon. (han)

Tinggalkan Balasan

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar anda diproses.

error: Content is protected !!
%d blogger menyukai ini: