Jateng Sumbang 15,6 Persen Pangan Nasional, Ahmad Luthfi Kerahkan TNI Hadapi Ancaman Kemarau
- calendar_month 32 menit yang lalu

Pertahankan Status Lumbung Pangan Nasional, Jateng Petakan Wilayah Rawan Kekeringan
BNews-JATENG– Gubernur Jawa Tengah Ahmad Luthfi meminta seluruh pemangku kepentingan, mulai dari pemerintah daerah hingga unsur Forkopimda, untuk terus bersinergi menjaga Jawa Tengah sebagai lumbung pangan nasional.
Hal itu disampaikan Ahmad Luthfi saat menghadiri Rembug Pembangunan Jawa Tengah 2026 Wilayah Solo Raya yang digelar di Pendopo Kabupaten Boyolali, Selasa (2/6/2026).
Menurut Luthfi, sektor pertanian menjadi salah satu kekuatan utama Jawa Tengah yang harus terus dipertahankan. Berdasarkan data produksi tahun 2025, Jawa Tengah mampu menghasilkan 9,1 juta ton gabah kering yang berkontribusi besar terhadap kebutuhan pangan nasional.
“Jawa Tengah tetap menjadi lumbung pangan nasional. Tahun 2025 kita sudah menghasilkan 9,1 juta ton gabah kering, dari jumlah itu 15,6 persen untuk kebutuhan nasional,” kata Luthfi.
Antisipasi Kemarau dan Kekeringan
Luthfi menegaskan, capaian tersebut harus dijaga bersama melalui langkah antisipatif menghadapi musim kemarau yang mulai mengancam sejumlah wilayah di Jawa Tengah.
Ia meminta pemerintah kabupaten/kota segera melakukan pemetaan daerah rawan kekeringan, ketersediaan sumber air, kebutuhan jaringan irigasi, hingga infrastruktur pendukung pertanian. Pemerintah Provinsi Jawa Tengah juga telah berkoordinasi dengan TNI terkait program pipanisasi dan sumurisasi untuk mendukung ketahanan pangan.
“Terkait embung dan irigasi, saya minta TNI ikut memetakan daerah-daerah mana yang akan menjadi intervensi,” ujarnya.
Menurut Luthfi, TNI dan Polri akan memiliki peran berbeda dalam mitigasi kekeringan. TNI difokuskan pada penanganan sumber air melalui program sumurisasi dan pipanisasi, sedangkan Polri akan membantu distribusi air bersih menggunakan armada kendaraan yang tersedia.
Pengendalian Hama dan Gangguan Kera
Selain persoalan air, Luthfi juga mengingatkan petani agar tidak menggunakan metode berbahaya dalam mengendalikan hama tikus, seperti memasang jebakan setrum listrik di area persawahan.
Ia menekankan bahwa keselamatan petani harus menjadi prioritas dalam upaya menjaga produktivitas pertanian.
Sementara terkait gangguan kera yang merusak lahan pertanian di sejumlah wilayah, Luthfi menegaskan penanganannya tidak boleh dilakukan dengan cara dibunuh. Pemerintah Provinsi Jawa Tengah berencana mengajukan surat kepada Menteri Kehutanan untuk meminta tambahan kuota penangkapan dan pengamanan satwa tersebut.
Kepala Daerah Solo Raya Dukung Ketahanan Pangan
Dalam kesempatan itu, sejumlah kepala daerah di wilayah Solo Raya menyampaikan dukungan terhadap program ketahanan pangan yang digagas Pemerintah Provinsi Jawa Tengah.
Bupati Sragen Sigit Pamungkas menyebut kondisi pangan di daerahnya masih aman karena produksi beras yang dihasilkan masih surplus dibanding kebutuhan masyarakat.
Meski demikian, ia berharap pemerintah memberikan perhatian lebih kepada daerah-daerah yang selama ini menjadi sentra produksi pangan.
“Karena itu, mohon ada insentif khusus untuk daerah-daerah yang menjadi lumbung pangan,” kata Sigit.
Senada dengan itu, Bupati Wonogiri Setyo Sukarno menilai pembangunan embung dan peningkatan jaringan irigasi menjadi kebutuhan mendesak untuk memperkuat sektor pertanian di wilayahnya.
CEK BERITA UPDATE LAINNYA DISINI (KLIK)
Ia menjelaskan, Pemerintah Kabupaten Wonogiri telah menjalankan program pembangunan 1.000 sumur pantek selama lima tahun. Pada tahun pertama, sebanyak 293 sumur telah dibangun dan pada tahun berikutnya ditargetkan bertambah sekitar 253 sumur.
Boyolali Usulkan Perbaikan Irigasi
Bupati Boyolali Agus Irawan turut mengusulkan penguatan jaringan irigasi, terutama untuk mendukung kawasan pertanian dan sentra sayuran di lereng Merapi-Merbabu.
Menurutnya, masih terdapat sejumlah lahan pertanian yang hanya mampu menghasilkan panen satu hingga dua kali dalam setahun akibat keterbatasan pasokan air. Dengan perbaikan irigasi, produktivitas lahan diharapkan dapat meningkat secara signifikan.
Selain itu, Boyolali juga menghadapi persoalan gangguan kera yang turun ke lahan pertanian dan merusak tanaman sayuran milik warga.
Sukoharjo Catat Surplus Beras 114 Ribu Ton
Sementara itu, Wakil Bupati Sukoharjo Eko Sapto melaporkan kondisi ketahanan pangan di wilayahnya juga relatif aman.
Pada tahun 2025, Kabupaten Sukoharjo mencatat surplus beras sekitar 114 ribu ton. Selain itu, tersedia cadangan beras daerah sekitar 57 ribu ton serta cadangan Bulog sebanyak 3.500 ton.
Eko menambahkan, pemerintah daerah telah menyiapkan langkah mitigasi menghadapi potensi El Nino skala kecil melalui koordinasi dengan Dinas Pertanian Provinsi Jawa Tengah dan Kementerian Pertanian guna menjaga stabilitas produksi pangan daerah. (*)
About The Author
- Penulis: BNews 2




Saat ini belum ada komentar