Ini Alasan Orang Jawa Tak Menikah Di Bulan Puasa dan Memilih Rajab

BNews—NASIONAL— Pernikahan merupakan moment sakral bagi masyarakat Indonesia pada umumnya. Termasuk masyarakat jawa yang terbiasa dengan istilah “Titi Wanci” (Sudah Waktunya) untuk pernikahan dengan segala perhitungannya.

Masyarakat jawa masih banyak yang berpedoman dengan tradisi peninggalan para leluhur. Termasuk menghitung soal perjodohan, rejeki hingga hari atau bulan pernikahan.

Advertisements


Berikut ini Borobudur News mencoba merangkum maksud dan arti jika melakukan pernikahan di bulan-bulan jawa. Kepercayaan tergantung pemahaman masing-masing, atau bahkan boleh tidak percaya.


Melangsungkan pernikahan seperti pada bulan dibawah ini ;

1.Bulan Suro

Keluarga kedua mempelai ada yang meninggal, sering kecuria, kalau tidak suami istri berumur pendek, kehidupan mereka senantiasa dalam kesukaran oleh bermacam – macam halangan. Barang – barang yang dimiliki jarang bisa awet.

2.Bulan Safar

Keluarga kedua mempelai banyak hutang, pengantin baru akan menderita dala berumagh tangga, sekalipun telah berusaha semaksimal mungkin, tetapi hasilnya nihil.

3.Bulan Rabi’ul Awal

Berakibat tidak baik, salah satunya ada yang meninggal atau diganggu penyakit, sekalipun telah berusaha maksimal dan menegeluarkan banyak biaya, bahkan tiba – tiba salah satunya kena pengaruh jahat sehingga rumah tangga jadi kalut.

4.Rabi’ul Akhir

Banyak orang yang memfitnah dan bnyak rintangan, dan walaupun telah berpindah – pindah tempat tetap saja banyak yang memfitnah, sering diancam mara bahaya.

5.Jumadil Awal

Sering didatangi pencuri dan banyak musuh karena panas hati pada mereka berdua, banyak orang yang sengaja menghalangi mereka, siang malam pikiran tidak tenang, sering bangun terkejut karena diganggu pencuri atau penjahat, segala yang dimiliki tidak dapat bertahan lama.

6.Jumadil Akhir

Mempelai berdua selalu memperoleh kebaikan adan kebahagiaan, sekalipun pada suatu waktu menderita susah atau menyesal, tetapi cepat dapat diatasi, karena meraka mudah beruntung, jalan berbakti kepada tuhan akan ditrmukan.Tetapi bulan ini juga mempunyai hari – hari naasnya yaitu ; 13, 16, 17, 20, 26, 27, 28.

7.Bulan Rajab

Mendapat keselamatan dan beruntung, penghidupan baik sekalipun tidak kaya, banyak berkah dari Tuhan, akan ketemu jalan berdagang, bila kerja rajin akan mendapatkan untung yang menggembirakan.Keuntungan dari berdagang akan menjadikan tambah bahagia, namun keuntunganya tidak untuk dirinya sendiri saja.Hari naasnya yaitu ; 1, 6, 11, 12, 13, 14, dan 15.

8.Bulan Ruwah ( Sya’ban )

Banyak memperoleh rezeki, selamat dan keuntungan.Namun pada suatu ketika nanti tidak akan menghargai keuntungan kecil lagi. Hal ini harus benar – benar diingat dan dijaga, karena walaupun nikmat kecil harus tetap disyukuri. Hari – hari naas pada bulan ini ; 6, 7, 8, 11, 18, 27.

9.Bulan Puasa

Selalu diliputi kesusahan, penghidupanya tidak tetap, kesukaran terus menerus tiada habis, bahkan salah satunya ada yang meninngal.Bulan ini adalah saat orang banyak memusatkan pikiran – pikiran suci, karenanya melangsungkan pernikahan pada bulan ini tidaklah baik, apalagi jika tepat pada naas harinya yaitu ; 2, 3, 27, 28, 29.

10.Syawal

Akan banyak hutang, miskin terus, orang tua berbuat dosa pada anaknya sendiri, siang malam rumah tangga tidak tentram, dan merasakan akan bosan hidup

11.Selo ( Apit )

Mudah bercerai, banyak musuh, dalam pergaulan banyak dibenci, walaupun pada lahirnya mereka berdua adalah baik, rumah tangga akan kacau karena terganggu dari luar, kehidupan mereka sangat pahit, sering bertengkar.Dalam hal ini tergantung pada budi pekerti mereka masing – masing, apakah dapat menolak bahaya ini ataukah tidak

12.Besar

Beruntung bahagia dan menggembirakan, karena banyak rezekinya, tali pernilahan menjadi sangat kuat karena suami istri saling menyinta, dan akan selamat mendapat perlindungan dari Tuhan.Namu selain bulan baik dalam melangsungkan pernikahan, Bulan Besar juga ada hari – hari naasnya yaitu ; 2, 3, 4, 5, 12, 15, 22, 25, dan 27.

Hitungan seperti contoh diatas memang telah berlaku cukup lama dan sampai sekarang pun sebagian besar masih dipegang teguh oleh para orang tua kita. Semua kembali pada kita, tergantung pada sugesti dan kepercayaan diri kita masing – masing.

Apa yang menurut diri kita baik, itulah yang kita lakukan.Manusia hanya bisa berusaha dan berdo’a, Tuhan- lah semuanya yang mengatur. Demikian, Allah Maha Mengetahui Dan Maha Benar. (bsn)

Get real time updates directly on you device, subscribe now.

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

error: Content is protected !!
%d blogger menyukai ini: