Breaking News
light_mode
Beranda » Berita Utama » Kapulaga Menjadi Idola Para Petani di Magelang, Bisa Tembus Pasar Internasional

Kapulaga Menjadi Idola Para Petani di Magelang, Bisa Tembus Pasar Internasional

  • calendar_month Rab, 3 Jan 2024

BNews-MAGELANG- Kapulaga adalah rempah-rempah yang memiliki aroma khas dan manfaat yang baik untuk kesehatan dan makanan. Tanaman ini banyak ditemukan di wilayah Kabupaten Magelang, terutama di lereng Gunung Sumbing, Merapi Merbabu, dan perbukitan Menoreh.

Selain populer sebagai obat dan rempah di Indonesia, kapulaga juga diminati dan dicari oleh masyarakat di luar negeri. Bahkan, kapulaga asal Kabupaten Magelang masuk dalam daftar 10 rempah ekspor andalan Kementerian Perdagangan, bersama dengan kunyit, lengkuas, cengkih, pala, vanili, dan jahe.

Menurut Sekretaris Dinas Pertanian dan Pangan Kabupaten Magelang, Ade Sri Kuncoro Kusumaningtyas, dari 21 kecamatan di Kabupaten Magelang, rempah-rempah yang paling banyak ditanam oleh petani adalah jahe dan kapulaga.

Komoditas tanaman jahe tersebar di 12 kecamatan, dengan tiga kecamatan terbanyak di Salaman dengan luasan 18,2 hektar dan hasil panen mencapai 541 ton. Selanjutnya, wilayah Kecamatan Tempuran sebesar 18 hektar dengan produksi 346 ton, dan Kecamatan Grabag sebesar 15,4 hektar dengan produksi 175 ton.

“Ini menunjukkan bahwa luas tanaman jahe di Kabupaten Magelang pada tahun 2023 mencapai 775,2 hektar dengan total produksi mencapai 1.721 ton”, kata Ade pada Selasa (02/01/2024).

Sementara itu, tanaman kapulaga di Kabupaten Magelang menjadi idola para petani di 10 kecamatan, dengan luas tanaman terbanyak di Kecamatan Grabag mencapai 192 hektar dengan produksi mencapai 10,73 ton. Kemudian di Kecamatan Tempuran, luas tanaman kapulaga mencapai 28,5 hektar dengan produksi 114 ton, dan di Tegalrejo sebesar 15,6 hektar dengan produksi 259 ton.

Tanaman-tanaman tersebut tersebar di wilayah Kecamatan Salaman, Borobudur, Sawangan, Candimulyo, Tempuran, Kajoran, Secang, Tegalrejo, Pakis, dan Grabag.

DOWNLOAD APLIKASI BOROBUDUR NEWS (KLIK DISINI)

Menurut Ade, kapulaga memiliki peran penting dalam sejarah panjang penjajahan di Indonesia. Kapulaga menjadi rempah berharga yang telah diperdagangkan sejak ribuan tahun yang lalu.

Saat ini, kapulaga asal Kabupaten Magelang menjadi salah satu tanaman empon-empon yang diminati oleh para investor dan eksportir di beberapa daerah. Terdapat Packing House bernama Kapulaga Jaya Mandiri yang berlokasi di Kabupaten Magelang dan rutin mengirim ekspor ke negara Cina.

Untuk mendukung rantai produksi kapulaga, Distanpan Kabupaten Magelang mendorong para petani untuk menambah luas tanam dengan tujuan meningkatkan produksi kapulaga serta berkoordinasi dengan Kementerian Pertanian untuk mencapai peluang ini.

“Mudah-mudahan, keberadaan Packing House di Kabupaten Magelang dapat meningkatkan minat petani untuk memperluas tanaman ini,” ujar Ade.

Kapulaga merupakan jenis rempah-rempah yang banyak digunakan dalam masakan untuk memberikan aroma dan rasa khas. Kapulaga juga memiliki peran penting dalam jalur perdagangan rempah-rempah kuno antara Asia Selatan dan Timur Tengah.

DOWNLOAD APLIKASI BOROBUDUR NEWS (KLIK DISINI)

Sejak tahun 2010, tujuan ekspor kapulaga dan rempah-rempah oleh Packing House CV. Kapulogo Jaya Mandiri, dari Desa Bojong, Kecamatan Mungkid, Kabupaten Magelang adalah ke Cina. Usaha milik Kuntoro, seorang warga Saragan Banyurojo Mertoyudan Kabupaten Magelang, fokus sebagai produsen kapulaga namun juga melayani pengiriman rempah lain seperti lada putih, cabai jamu, cengkih, pala, dan lainnya.

Sejak tahun 1995, Kuntoro telah bekerja dalam bidang ini. Pada tahun 2010, ia mulai bekerja secara mandiri dengan membeli dan menjual barang sendiri serta mengirimkannya ke Cina.

“Dalam setahun, minimal 130-145 kontainer kapulaga dikirim ke Cina. Harganya fluktuatif dan dapat mencapai Rp 400 ribu hingga Rp 50 ribu. Di Cina, kapulaga digunakan untuk bahan makanan dan farmasi,” papar Kuntoro pekan ini.

Menurut Kuntoro, permintaan pengiriman ke Cina sangat besar, bahkan pasokanpun tidak mencukupi. Saat ini, permintaan terbesar adalah untuk bahan farmasi.

Dalam rangka memenuhi kebutuhan tersebut, Kuntoro giat mengumpulkan kapulaga dari seluruh Indonesia dan juga menggalang kelompok tani melalui sosialisasi di berbagai daerah. Tujuannya adalah untuk mencukupi pasokan ekspor dan meningkatkan kesejahteraan petani melalui jaminan pendapatan dan kestabilan harga jual.

DOWNLOAD APLIKASI BOROBUDUR NEWS (KLIK DISINI)

Bahkan untuk memenuhi kebutuhan ekspor saat ini, Kuntoro harus mengumpulkan kapulaga dari seluruh Indonesia.

“Saya seakan-akan setengah mati karena kekurangan pasokan kapulaga untuk farmasi,” ujarnya dengan menyelipkan lelucon.

Kuntoro mengungkapkan bahwa keunggulan tanaman kapulaga adalah petani akan mendapatkan jaminan harga jual yang luar biasa dibandingkan dengan tanaman padi atau tanaman lainnya. Biaya produksi tanaman kapulaga juga rendah dan minim serangan hama karena sekali tanam untuk selamanya.

Namun, terkait dengan harga kapulaga, menurut Kuntoro, harganya cenderung fluktuatif dan dipengaruhi oleh kualitas. Semakin baik kualitasnya, maka semakin mahal harganya. Oleh karena itu, petani diharapkan memperhatikan umur masa panen kapulaga dan perawatannya setelah panen. Diperlukan inovasi agar petani mengikuti SOP (standar operasional) seperti tidak sembarangan panen dan menjemur serta menjual produk.

“Tidak ada harga yang baik tanpa disertai kualitas yang baik,” tegas Kuntoro. (*/beritamagelangid)

About The Author

  • Penulis: Borobudur News

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Tinggalkan Balasan

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses

Rekomendasi Untuk Anda

expand_less