Kenakan APD, Warga Kirab Tumpengan di Merti Dusun Merapi Sari Ngablak

BNews–NGABLAK— Warga di lereng Gunung Merbabu Kabupaten Magelang punya cara tersendiri untuk tetap melaksanakan tradisi merti dusun di tengah wabah Covid-19. Prosesi sakral itu dilaksankaan dengan memedomani protokol kesehatan.

Pagi tadi (16/4/2020) ratusan warga Dusun Merapi Sari Desa Ngablak Kecamatan Ngablak Kabupaten Magelang menggelar proses merti dusun. Mereka menerapkan social distancing dan physical distancing.

Sejak pagi, warga sudah berkumpul di pingir jalan. Mereka tidak berkerumun. Namun menerapkan jarak sekitar dua-tiga meter. Tikar Panjang juga dipasang di sepanjang jalan.

Di hadapan mereka sudah disiapkan makanan dan minuman. Selain itu juga ada prosesi kirab tumpengan.

Menariknya, mereka yang mengkirab menggunakan APD lengkap. “Kami memang laksanakan secara rutin setiap tanggal 16 april tiap tahunnya sebagai tradisi dusun,” kata Ketua Panitia Stefanus Suyanto, 31,  saat dihubungi Borobudurnews.com .

Mereka mengaku tetap melaksanakan tradisi itu dengan tetap mematuhi anjuran pemerintah. Untuk tetap jaga jarak serta menggunakan Alat Pelindung Diri (APD) ala kadarnya.

“Iya bagi yang kirab tumpeng kita menggunakan mantol plastik, masker dan mika pelindung wajah. Jarak antar warga yang ikut kirab juga dijaga sekitar 1-1,5 meter,” imbuhnya.

Suyanto juga menjelaskan bahwa pihaknya memkai APD karena sesuai anjuran pemerintah dan memutus mata rantai covid-19. “Jadi adat tetap berjalan tetapi anjuran pemerintah tetap dijalankan. Dan kegiatan ini selain adat,doa kita sosialisasikan aturan dan tata cara sesuai anjuran pemutusan mata rantai covid-19,” paparnya.

Untuk tumpeng berisi hasil pertanian tersebut di kirab dengan jarak pendek. “Kita hanya kirab mulai depan gereja hingga depan Kantor Desa saja. Mengingat tidak boleh lama-lama acaranya,” ungkapnya.

ANJURAN : Warga duduk di halaman rumah masing-masing dengan mentapkan jarak antar warga. (Foto : istimewa)

Setelah kirab gunungan tumpeng, warga kembali kerumah masing-masing dengan membawa tumpengnya. “Mereka tidak langsung masuk rumah, namun mereka menggelar alas di pinggir jalan tepat di depan rumah mereka. Tumpeng ditaruh sambil menunggu di doakan secara massal,” ujarnya.

Dalam kegiatan tersebut beberapa acara sederhana dilaksanakan. Mulai Doa pembukaan, Kirab Tumpeng, Pembacaan sejarah dusun. Ada juga penyerahan wayang dari sesepuh ke dalang serta Pemasangan wayang secara simbolis dan doa dari dalang Ki Widodo.

“Terakhir ada doa permohonan agar wabah corona ini segera selesai. Dilanjut doa genduri dan penutup dan warga makan bersama di depan rumah mereka masing-masing. Dan mereka tetap jaga jarak tidak berkerumun,” pungkasnya. (bsn/wan)

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

error: Content is protected !!
%d blogger menyukai ini: