Breaking News
light_mode
Beranda » Berita Utama » Dari Limbah Jadi Rupiah, Kerajinan Batok Kelapa Borobudur Tembus Dubai

Dari Limbah Jadi Rupiah, Kerajinan Batok Kelapa Borobudur Tembus Dubai

  • calendar_month 8 menit yang lalu

BNews—MAGELANG— Limbah batok kelapa yang selama ini kerap dianggap tidak bernilai ternyata mampu menjadi sumber penghasilan sekaligus membuka akses pasar internasional. Hal itu dibuktikan Giyanto, pengrajin batok kelapa asal Desa Kebonsari, Kecamatan Borobudur, Kabupaten Magelang, Jawa Tengah.

Berbekal kreativitas dan ketekunan, Giyanto mengolah batok kelapa menjadi berbagai produk kerajinan. Salah satu produk yang kini rutin diproduksinya adalah batok panel, material yang digunakan untuk kebutuhan panel atau pelapis dinding.

Menariknya, produk berbahan batok kelapa tersebut tidak hanya dipasarkan di dalam negeri. Giyanto menyebut hasil produksinya telah dikirim ke Bali hingga Dubai, Uni Emirat Arab.

“Proses itu ya, cuma potong sesuai ukuran permintaan itu 2,5 x 5 cm. Untuk pengiriman ada dua tempat, ke Bali sama ke Dubai,” kata Giyanto.

Setiap Minggu Kirim Puluhan Fitis

Untuk memenuhi permintaan pelanggan, Giyanto melakukan pengiriman secara rutin setiap pekan. Dalam satu minggu, produksi yang dikirim mencapai sekitar 30 fitis dengan ukuran potongan batok 2,5 x 5 sentimeter.

“Saya kirim satu minggu, satu kali. Satu minggu, satu kali. Setiap minggu berapa fitis? Kurang lebih 30 fitis,” ujarnya.

Potongan tersebut dibuat dengan ukuran yang telah disesuaikan dengan permintaan pasar. Lebarnya sekitar 2,5 sentimeter dengan panjang 5 sentimeter.

Bahan baku batok kelapa juga tidak hanya berasal dari satu daerah. Untuk menjaga ketersediaan bahan, Giyanto mengambil batok kelapa dari sejumlah wilayah di sekitar Magelang, yakni Purworejo, Temanggung, dan Yogyakarta.

“Untuk batok kita ambil dari Purworejo, Temanggung, dan Jogja,” katanya.

Harga bahan baku batok kelapa sendiri, menurut Giyanto, mengalami perubahan atau naik turun. Ia menyebut rata-rata harga batok berada di kisaran Rp2.500 per kilogram.

Stok batok yang dimiliki biasanya disiapkan untuk memenuhi kebutuhan produksi selama sekitar satu minggu.

Menjaga Pekerja Tetap Produktif

Perjalanan Giyanto sebagai pengrajin tidak selalu berjalan mulus. Ia mengaku telah cukup lama berkecimpung sebagai pengrajin, tetapi jenis produk yang dikerjakan dapat berubah mengikuti kondisi pasar dan pesanan.

Menurutnya, dinamika usaha membuat pengrajin harus mampu membaca peluang. Terlebih, ia memiliki pekerja yang harus tetap mendapatkan pekerjaan meski permintaan terhadap produk tertentu sedang menurun.

“Kalau saya punya usaha itu sebenarnya sudah, pekerja jadi pengerajin itu sudah tidak tahunan. Cuman kadang untuk proyek itu kita sering ganti-ganti mana yang rame gitu kan. Soalnya kita yang namanya usaha kadang ada pasang surutnya,” ungkap Giyanto.

Ia menambahkan, strategi tersebut dilakukan agar para pekerjanya tetap bisa bekerja.

CEK BERITA UPDATE LAINNYA DISINI (KLIK)

“Sedangkan kita ada pekerja. Gimana pekerja itu biar tetap bekerja. Jadi kita cari orderan itu mana yang laku, mana yang kita bisa ngerjainnya,” lanjutnya.

Batok Panel untuk Material Dinding

Salah satu produk yang kini banyak dikerjakan adalah batok panel. Potongan-potongan batok kelapa tersebut nantinya dapat digunakan sebagai material panel, termasuk untuk kebutuhan panel dinding.

Giyanto mengatakan saat ini pihaknya lebih banyak menyuplai bahan dalam bentuk potongan. Ia belum mengerjakan proses perakitan karena belum memiliki tenaga khusus untuk mengerjakan tahap tersebut.

“Batok panel,” kata Giyanto saat menjelaskan produk yang sedang diproduksinya.

Ia menjelaskan, batok yang telah dipotong sesuai ukuran kemudian disuplai untuk kebutuhan panel, termasuk bagian tertentu pada konstruksi atau finishing panel.

Tak Hanya Panel, Batok Kelapa Bisa Jadi Suvenir

Kreativitas Giyanto dalam memanfaatkan batok kelapa tidak berhenti pada produk panel. Ia juga pernah mengembangkan berbagai produk kerajinan lain menggunakan bahan yang sama.

Beberapa di antaranya berupa gantungan kunci dan lampu hias.

“Selain batok kita… Ya cuman kadang saya ini kreasi ke batok. Jadi batok ini kan gak harus cuma panel. Kita kemarin-kemarin itu suvenir,” tuturnya.

Menurut Giyanto, perbedaan bentuk dan desain dapat membuat batok kelapa memiliki nilai tambah. Bahan yang awalnya dianggap limbah dapat diolah menjadi produk kerajinan dengan nilai ekonomi.

Menjawab Kebutuhan Wisatawan di Borobudur

Desa Kebonsari berada di kawasan Kecamatan Borobudur yang dikenal sebagai salah satu kawasan tujuan wisata di Kabupaten Magelang.

Kondisi tersebut turut menjadi salah satu pertimbangan Giyanto dalam mengembangkan kerajinan berbahan alam.

Menurutnya, wisatawan yang datang memiliki selera dan kebutuhan yang beragam. Tidak semua pengunjung mencari produk berbahan bambu yang selama ini banyak dikembangkan oleh perajin setempat.

“Kebanyakan sekarang kan sini termasuk pilihan destinasi wisata. Kadang itu tidak semua pengunjung itu suka dengan bambu,” ujarnya.

Ia kemudian mencoba menghadirkan alternatif produk berbahan alam lain yang bahan bakunya relatif mudah ditemukan di lingkungan sekitar.

“Kadang yang ditanya itu kadang yang tidak ada. Jadi kita itu gimana caranya ada pertanyaan, kita ada jawaban,” kata Giyanto.

Karena itu, ia memilih mengembangkan kerajinan batok kelapa sebagai salah satu alternatif produk kerajinan berbahan alam.

“Yang sekiranya kanan-kiri rumah ada. Yang itu kita ketemu ke perajinan batok kelapa itu,” tambahnya.

Dari Bahan Sederhana Menjadi Produk Bernilai

Kisah Giyanto menunjukkan bahwa peluang ekonomi dapat muncul dari bahan-bahan sederhana yang berada di sekitar masyarakat.

Batok kelapa yang sebelumnya berpotensi menjadi limbah dapat diolah melalui proses sederhana, mulai dari pemilahan hingga pemotongan sesuai ukuran pesanan. Dari Desa Kebonsari, produk tersebut kemudian bergerak ke pasar yang lebih luas, termasuk Bali dan Dubai.

Bagi pelaku UMKM dan pengrajin lokal, perjalanan tersebut menjadi contoh bahwa kreativitas, kemampuan membaca pasar, serta konsistensi menjaga kualitas dapat membuka peluang pasar yang lebih besar.

Dari sebuah batok kelapa, Giyanto membuktikan bahwa limbah bisa berubah menjadi rupiah, menciptakan pekerjaan, sekaligus membawa produk kerajinan lokal dari Borobudur menuju pasar internasional. (bsn)

About The Author

  • Penulis: BNews 2

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Tinggalkan Balasan

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses

Rekomendasi Untuk Anda

expand_less