KEREN !!! Petani Difabel Di Magelang Jadi Juragan Kopi Tledok Kajoran

BNews–MAGELANG– Mungkin sebuah keterbatasan fisik bagi beberapa orang dianggap sebagai kekurangan bahkan menjadi hambatan dalam beraktifitas. Namun tidak bagi seorang pria di kawasan lereng Gunung Sumbing Magelang ini.

Pria bernama Nur Rokhmat Sholeh yang akrab disapa Amin membuktikan bahwa keterbatasan fisik tidak menjadi penghalang menjadi seseorang yang sukses. Dilangsir dari merdeka.com, Amin membagikan kisahnya.

Pria yang kehilangan sebelah tangannya lantaran kecelakaan berpuluh-puluh tahun lalu ini tak pernah patah semangat. Bermodal kemauan dan semangat yang tinggi, Amin yang berprofesi sebagai petani dan Kepala Dusun Tledok Desa Sidorejo, Kajoran Kabupaten Magelang ini mempopulerkan Kopi Tledok Khas Magelang.

Tangannya tengah sibuk memilah-milah buah kopi yang mulai memerah di lahannya. Lantas, ia masukkan ke keranjang kecil di tangan. Dari proses memetik sampai mengemas, Amin memang terjun sendiri dalam proses produksi Kopi Tledok.

Pria yang menginjak usia kepala 3 ini mulai menekuni usaha kopi sejak 2013. Sebelumnya kopi yang ada di desa ini bak tanaman liar. Amin merasa tanaman-tanaman kopi ini berpotensi meningkatkan kesejahteraan petani. Ia pun mengajak para petani untuk menjadikan tanaman kopi sebagai sumber mata pencaharian. Disaat sebagian besar petani menanam tembakau.

Namun, keprihatinan lain muncul. Petani memetik kopi secara sembarangan, kopi-kopi hijau juga ikut dipetik. Hal ini membuat harga kopi jadi murah di pasar.

Hingga pada suatu hari, Amin berkunjung di sebuah kedai kopi. Ia dikenalkan kepada alumni Pusat penelitian di Jember. Hasilnya, para petani disarankan agar memetik kopi merah saja agar nilai jual bisa tinggi. Di sisi lain, kopi petik merah juga lebih berkualitas.

DOWNLOAD APLIKASI BOROBUDUR NEWS (KLIK DISINI)

Mengetahui kopi Tledok memiliki kualitas yang baik dan rasa yang cukup berbeda dengan kopi-kopi lainnya, Amin bersemangat untuk mengembangkan kopi ini. Ia menggerakkan para petani, meski memang butuh usaha ekstra namun setidaknya jumlah petani yang terlibat sudah mencapai 30 orang.

Amin tak lepas tangan, ia turut serta memantau pengolahan Kopi Tledok. Dari pemetikan, penjemuran, penggilingan, hingga proses distribusi.

Kerja keras Amin berbuah manis. Kopi Tledok yang khas dengan rasa asam pahit yang nikmat ini mulai dikenal masyarakat. Dengan karakternya yang berbeda dari kopi lain, Kopi Tledok mulai diincar banyak penikmat kopi.

Tak hanya di Magelang saja, Kopi Tledok juga diburu oleh daerah lain seperti Yogyakarta, Semarang dan berbagai daerah lainnya. Nama Tledok dipilih Amin sebagai identitas kopi yang tumbuh di Dusun Tledok. Selain itu, namanya cukup unik. Bahkan mungkin hanya ada di daerah Tledok Magelang saja.

Berkat keaktifannya di dunia kopi, akhirnya membawa anak pertama dari dua bersaudara ini mengikuti komunitas kopi di Magelang. Ia juga aktif di ‘Warsa Mundung” yang merupakan paguyuban disabilitas, kemudian di unit LIDI atau Layanan Inklusi Disabilitas.

Amin mampu membuktikan, keterbatasan fisiknya tak menghambat kehidupan. Dari Kopi Tledok rintisannya, Ia mampu membangkitkan semangat para petani Kopi Kajoran. Membuka lapangan kerja dan menambah pundi-pundi penghasilan. (*/merdeka)

Tinggalkan Balasan

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.

%d blogger menyukai ini: