Kisah Haru Seorang Jurnalis Positif Covid, dan Ayahnya Meninggal Dunia

BNews–NASIONAL-– Seorang jurnalis yang bekerja memburu berita terkadang kurang memperhatikan risikonya. Termasuk saat meliput berita soal Pandemi COvid-19, yang terkadang harus bertaruh kesehatannya sendiri.

Akhirnya, seorang jurnalis TV digital di Jakarta bernama Hana Puspita harus menerima kenyataan. Dirinya menjadi bagian dari ribuan pasien Covid-19 di Indonesia. Dirinya mencoba menceritakan kisahnya tersebut melalui akun instagramnya.

Sebelum mengetahui kalau dirinya terinfeksi virus SARS-CoV 2 atau covid-19, Hana Puspita melakukan 3 kali Rapid Test. Dan hasil keseluruhan keluar non-reaktif. Padahal, gejala khas dia rasakan seperti demam tinggi, batuk dan sesak napas.

Rapid pertama dia lakukan dalam kondisi badan meriang, demam tinggi, dan batuk-batuk. Ini terjadi setelah dirinya memijat dan ngerokin sang suami yang mengeluh meriang pada 27 Juli 2020.

Tiga hari berlanjut dan Hana tak merasa ada perbaikan. Karena dia merasa tubuhnya menunjukkan gejala ke arah Covid-19, Hana pun melakukan Rapid Test pertama.

“Ya, hari ketiga memutuskan untuk Rapid karena takut jangan-jangan corona. Besoknya (29 Juli), keluar hasil non-reaktif,” terangnya di Instagram @puspitahana, dikutip dari Okezone yang sudah mendapatkan izin dari Hana untuk bisa menuliskan kembali kisahnya ini.

Setelah tahu kalau hasil Rapid Test Covid-19 pertama hasilnya non-reaktif, Hana mengaku sedikit lega. Dia kemudian berpikir bahwa gejala yang dia rasakan hanya sebatas efek kecapekan.

DOWNLOAD MUSIK KESUKAANMU DAN MUDAH GRATIS

Nah, hari berikutnya ternyata demam di tubuh Hana tak kunjung turun, bahkan batuknya makin intens. Di hari itu juga, Hana memutuskan untuk datangi rumah sakit untuk cek darah. Hasil keluar dan memperlihatkan data bahwa dirinya negatif DB dan thypus.

Seperti tak juga usai penyakit yang dialami Hana, besoknya (1 Agustus) demam Hana semakin tinggi, batuk semakin intens, dan kali ini sampai muntah. Dengan kondisi tersebut, Hana memutuskan untuk kembali ke rumah sakit.

Di momen ini Hana melakukan Rapid Test kedua. “Di rapid test kedua, hasilnya masih non-reaktif, padahal kondisi lagi demam tinggi. Karena batuk-batuk, dokter di RS pun memutuskan untuk rontgen paru. Hasil rontgen memperlihatkan paru ada bercak-bercak putih, sehingga dinyatalkan suspect Covid-19,” paparnya.

Sejak itu, Hana mesti menjalani perawatan intensif. Dokter memutuskan agar Hana dirawat inap di ruang isolasi. Namun, karena masalah biaya, Hana memutuskan untuk kembali ke rumah.

Pada 2 Agustus, Hana memutuskan untuk datang ke Puskesmas untuk swab. Tidak hanya itu, pada 3 Agustus, Hana menjalani tes pengambilan darah di Puskemas karena dia tak merasa membaik sama sekali. “Sekali lagi, hasilnya masih non-reaktif,” ungkapnya.

Karena tak kunjung sembuh, Hana dirujuk ke RSUD di Jakarta Pusat. Karena kondisinya sudah cukup parah, pihak rumah sakit menempatkan Hana di ruang ICU. Ia tinggal bersama dengan lebih dari 10 pasien dengan kondisi kritis.

Di ruang ICU, kondisi Hana batuk parah, demam sampai 40 derajat celsius, dan sesak napas. Karena ada kondisi sesak, pihak rumah sakit memutuskan untuk menambahkan selang oksigen ke Hana.

DOWNLOAD APLIKASI BOROBUDUR NEWS (KLIK DISINI)

“Hari berikutnya Alhamdulillah bisa dipindah ke ruang rawat di bangsal suspect Covid-19. Di situ, kondisi masih demam tinggi dan masih dibantu selang oksigen,” ceritanya.

Hari berlalu, sampai akhirnya Hana menerima informasi hasil swab-nya ternyata positif Covid-19. Sejak tahu bahwa menjadi bagian dari pasien Covid-19, Hana mengaku mulai afirmasi positif dan semangat untuk sembuh.

Takdir tak bisa dilawan, pada hari keempat dirawat, tepatnya pada 8 Agustus 2020, ayah Hana menghembuskan napas terakhir karena Covid-19. Tapi, pihak keluarga tidak memberitahu Hana demi menjaga kestabilan psikisnya.

Tapi, pada 12 Agustus Hana mendapat perasaan bahwa ayahnya sudah meninggal dunia. Hana benar-benar down, dia nangis sejadi-jadinya. Dia pun cuma bisa lihat ayahnya lewat foto yang diambil dokter.

“Enggak nyangka papa mengalami protokol pemakaman Covid-19. (Di momen ini, aku) sendirian di ruang isolasi, ingin peluk suami dan anak-anak tapi enggak bisa. Hanya bisa sujud dan nangis tanpa henti. Di sinilah aku merasa selama ini kufur nikmat dan kurang bersyukur,” ungkap Hana.

Setelah itu, pada 13 Agustus, seluruh keluarga di-swab dan hasilnya semua positif, hampir 20 orang. Itu termasuk mama, suami, dan anak. Kok bisa?

“Karena kami beberapa keluarga, tapi rumah berdekatan di inner circle yang sama. Dari situ pikiran makin kacau, terlebih mama dan nenek sakit yang artinya bergejala,” tulisnya.

DOWNLOAD APLIKASI BOROBUDUR NEWS (KLIK DISINI)

Di tahap ini, Hana mengaku hanya bisa pasrah dan berserah diri pada Allah SWT. Dia pun yakin bahwa kehendak Allah adalah yang terbaik dan pasti ada kemudahan di setiap kesulitan.

Hal yang perlu disyukuri sekarang, kata Hana, dia semakin membaik, pun keluarga besarnya. “Alhamdulillah keluarga juga bisa isolasi mandiri di rumah,” ungkapnya bersyukur.

Kabar terkini, setelah 15 hari dirawat, jam 23 malam pada 18 Agustus Hana diizinkan pulang oleh dokter setelah hasil cek darah dan rontgen paru dinyatakan bagus. Meski begitu, Hana pulang dengan status masih positif berdasar hasil swab ke-5 dan ke-6.

“Tapi bisa isolasi mandiri di rumah dibekali obat-obatan dari RS. Alhamdulillah setidaknya enggak sendirian di ruang isolasi, tapi berdua di rumah dengan suami yang juga positif,” tulisnya di Instastory.

Hana pun menjelaskan kenapa dirinya bisa diizinkan pulang meski statusnya masih positif Covid-19. Menurut dia, karena sekarang ada peraturan baru. Jadi, kalau dulu pasien baru boleh pulang setelah 2 kali swab berturut-turut dan hasilnya harus negatif, direvisi jadi cukup 1 kali swab.

“Sekarang, tanpa swab negatif, jika sudah tanpa gejala selama 14 hari, maka sudah bisa isolasi mandiri di rumah. Lepas 14 hari dinyatakan selesai masa pemantauan, karena virus sudah tidak bisa menularkan ke orang lain,” pungkasnya. (*/Lubis)

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

error: Content is protected !!
%d blogger menyukai ini: