Kisah Penjual Koran Asal Muntilan, Bertahan Diarus Internet

BNews—MUNTILAN—Media massa berbentuk cetak seperti koran, majalah dan tabloid tengah mengalami senja kala. Fenomena tersebut terjadi seiring pesatnya perkembangan teknologi digital dan kemudahan akses informasi melalui telepon genggam.

Seperti seleksi alam, yang tidak segera beradaptasi bakal gulung tikar atau berhenti terbit. Ada yang mencoba bertahan dengan membuat koran digital atau portal berita online. Ada pula yang mencoba menyunat halaman, mengurangi oplah koran hingga menurunkan harga agar tidak ditinggal pembaca.

Advertisements


”Satu dekade ini penjualan koran terus merosot. Saya merasakan pastinya sudah tiga sampai empat tahun ini,” terang loper koran, Achmad Nasichin, Kamis (23/5).

Achmad membandingkan saat pertama kali menjadi loper pada 1994, dirinya sanggup menjual lebih dari 100 eksemplar perhari dari berbagai jenis koran. Sedang sekarang hanya menjajakan separuhnya atau kurang lebih 50 eksemplar yang diambilnya dari agen koran.


”Jauh berkurang, mas. Kalau dari pagi sampai sore tidak laku, ya, ada yang tidak dan bisa dikembalikan,” ujarnya kepada Borobudur News saat ditemui di kompleks Ruko Munsen, Muntilan.

Pria yang karib disapa Pak Koran itu mengenang. Tahun pertama menjual koran, harga harian Kompas dijual Rp 450, Kedaulatan Rakyat Rp 500, Suara Merdeka Rp 550 dan Jawa Pos Rp 600. Di bulan pertama dan kedua, dirinya mencoba berjualan di SPBU Salam dan Pasar Tempel, Jogjakarta sebelum akhirnya menetap berdagang koran di Muntilan.

”Sekarang di sini saya sudah punya pelanggan. Ada yang satu warung beli dua hingga tiga koran berbeda. Karena puasa, warung tutup dan koran tidak terbeli. Tapi tertolong pelanggan baru satu sampai lima orang,” paparnya.

Diakui Achmad, dari seluruh koran yang terjual dirinya akan mendapatkan keuntungan Rp 50 ribu. Pendapatan itu masih harus dipotong membeli bahan bakar motor Rp 20 ribu untuk satu minggu. Belum untuk beli minuman teh dingin dan sebatang rokok sehari dua kali.

”Saya sejak pertama tidak pernah jajan nasi. Pertama irit dan kedua terbiasa, mas,” beber warga RT4/RW2, Sucen, Salam, Kabupaten Magelang itu.

Bagi orang lain, keuntungan bersih sekitar Rp 30 ribu itu belum tentu mampu memenuhi kebutuhan dapur dan kedua anaknya yang masih duduk di bangku kelas 4 SD dan TK Kecil. Kendati dicukup-cukupkan, tidak banyak yang meminta Achmad untuk berpindah profesi untuk memperoleh nafkah yang lebih baik.

”Selama saya masih mampu, Allah masih meridai, menghendaki, tetap saya jalani. Keluarga boleh dibilang mendukung karena sampai saat ini masih jalan,” ucapnya.

Achmad menyampaikan, kendati jumlah terus menurun, namun ia berkeyakinan bila koran tidak akan mati. Selain karena telah mendapatkan tempat istimewa di hati pembaca, kelunggulan koran adalah memberikan kabar yang jarang bersifat hoax. Meskipun penyampaian informasi kalah cepat dengan media berita online.

”Saya yakin, bila Allah menutup pintu yang satu maka akan dibukakan pintu yang lainnya,” pungkas dia (han)

Get real time updates directly on you device, subscribe now.

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

error: Content is protected !!
%d blogger menyukai ini: