Kisah Yulianto, Tinggalkan Keluarga demi Jadi Garda Terdepan Informasi Gunung Merapi

BNews—DUKUN— Seorang pria paruh baya berusia 49 tahun bernama Yulianto siap siaga memantau aktivitas Gunung Merapi 24 jam nonstop. Sudah puluhan tahun ia bertugas di Pos Babadan Dusun 2, Krinjing Kecamatan Dukun, Kabupaten Magelang.

Tak ada rasa takut atau panik jika tiba-tiba Gunung Merapi yang berada 4,4 kilometer di depannya mengeluarkan lava atau guguran. Tugasnya sebagai garda terdepan untuk menyampaikan informasi bencana kepada masyarakat sudah ia lakukan dengan ikhlas.

”Tepatnya sudah 28 tahun saya bertugas sebagai pengamat gunung api, sejak 1992.  Sebelumnya, ada pelatihan khusus, diklat selama enam bulan di Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi di Bandung,” terang pria yang kini menjadi Petugas Pos Pengamatan Gunung Merapi (PGM) Babadan.

Ia menceritakan, berbagai kejadian baik suka maupun duka sudah pernah dialami. Semuanya ia lakukan ikhlas untuk bertugas dengan baik sebagai garda terdepan bencana alam.

”Ya, banyak kejadian, tapi saya sudah biasa, ini sudah menjadi pekerjaan saya dan saya ihklas,” ungkapnya saat ditemui Borobudur News (28/7).

Yulianto menceritakan sudah menjadi kebanggan tersendiri sebagai Pengamat Gunung Api. Bisa memberi informasi dan peringatan kepada warga sekitar sehingga tidak jatuh korban.

”Dari tahun 2000-an, kemudian 2001, 2006 dan yang terakhir agak berbeda di 2010 alhamdulillah bisa memberikan informasi yang didengar warga sekitar,” tuturnya bangga.

Loading...

Dia mengaku seakan memanggul beban ketika bencana 2010 datang. Letak Pos Babadan berjarak sekitar 4,4 kilometer arah barat laut dari puncak Merapi.

baca juga: Ternyata Begini Cara Kerja Seismik Pantau Aktivitas Merapi 24 Jam di Pos Babadan

Demi pengabdian terhadap pekerjaan, dirinya rela tinggal jauh dari keluarga untuk sementara. Keluarganya tinggal di Kawasan Rawan Bencana (KRB)- 2 di Desa Tlogolele, Selo, Kabupaten Boyolali.

Yulianto bersama wartawan Borobudur News dan Magnet Channel.

”Saat masih remaja, saya sering diajak Bapak bertugas di Pos Pengamatan Babadan maupun di Pos Jrakah. Sempat saya mencari kerja yang lainnya tapi tidak sreg. Pas ada pembukaan sebagai Pengamat Gunung Api di tahun 1992 saya merasa itulah panggilan saya,” kenangnya.

Peristiwa letusan Merapi di tahun 2010 menjadi kenangan tersendiri buat Yulianto. Hewan-hewan turun dari gunung, banyak kera berkeliaran, tidak pernah menyangka akan meletus sehebat itu.

”Saat itu susah sekali untuk mendapat momen letusannya. Saat itu hasil kamera hitam, alat-alat juga menjadi tak berfungsi di saat detik-detik letusan, setelahnya normal. Seakan Merapi tidak mau didokumentasikan saat ia meletus hebat,” kenangnya. (rur/han)

Kaos Deglang

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

error: Content is protected !!
%d blogger menyukai ini: