Lahan Bekas Erupsi Merapi Kini Jadi Ladang Cuan, Petani Magelang Panen Bawang Merah Tajuk
- calendar_month 29 menit yang lalu

ilustrasi panen bawang merah
BNews—MAGELANG— Varietas bawang merah Thailand-Nganjuk atau yang dikenal dengan sebutan bawang merah Tajuk berhasil meningkatkan produktivitas pertanian di Kabupaten Magelang. Keberhasilan tersebut ditunjukkan oleh para petani di Dusun Ngemplak, Desa Ngrajek, Kecamatan Mungkid, yang mampu membudidayakan bawang merah Tajuk di lahan dataran rendah.
Komoditas hortikultura tersebut menjadi alternatif bagi petani setelah lahan pertanian mereka terdampak erupsi Gunung Merapi tahun 2010 dan tertutup material pasir vulkanik.
Kepala Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Kabupaten Magelang, Puji Lestari, mengatakan lahan yang kini ditanami bawang merah sebelumnya merupakan area persawahan yang terdampak erupsi Merapi.
Menurutnya, endapan pasir vulkanik membuat hasil produksi padi di wilayah tersebut kurang maksimal sehingga petani mulai beralih menanam bawang merah.
“Para petani bawang merah di Dusun Ngemplak ini menanam lahan sawahnya dengan komoditas bawang merah yang sebelumnya terdampak erupsi Merapi di tahun 2010 silam. Lahan yang tertutup endapan pasir akibat erupsi Merapi tersebut, ketika ditanami padi hasilnya kurang memuaskan, kemudian para petani menanam bawang merah,” katanya di sela panen bawang merah Tajuk di Dusun Ngemplak, Senin, 27 Juli 2026.
Bawang Merah Tajuk Jadi Potensi Baru Pertanian Mungkid
Puji menjelaskan, keberhasilan petani Dusun Ngemplak membudidayakan bawang merah Tajuk menjadi salah satu inovasi dalam pengembangan sektor pertanian di Kecamatan Mungkid.
Selama ini, Kecamatan Mungkid dikenal sebagai salah satu wilayah penghasil padi dengan konsep mina padi. Namun, kini kawasan tersebut mulai berkembang menjadi salah satu sentra bawang merah dataran rendah di Kabupaten Magelang.
Ia menyebutkan, varietas bawang merah Tajuk memiliki sejumlah keunggulan dibandingkan jenis bawang merah lainnya.
CEK BERITA UPDATE LAINNYA DISINI (KLIK)
Selain memiliki tingkat produktivitas tinggi, varietas tersebut juga menghasilkan tonase panen yang lebih besar sehingga mampu memberikan; nilai ekonomi lebih baik bagi petani.
“Varietas Tajuk ini memiliki produktivitas yang cukup tinggi dan hasil panennya juga memiliki tonase besar, sehingga memberikan keuntungan; ekonomi bagi petani,” ujar Puji.
Luas Tanaman Bawang Merah Magelang Capai 225 Hektare
Puji menambahkan, saat ini luas tanaman hortikultura bawang merah di Kabupaten Magelang mencapai sekitar 225 hektare.
Sebelumnya, sentra bawang merah di Kabupaten Magelang lebih banyak berkembang di wilayah dataran tinggi, seperti Kecamatan Kajoran; Kaliangkrik, Windusari, Pakis, dan Sawangan.
Dengan keberhasilan budidaya di wilayah dataran rendah, potensi pengembangan bawang merah di Kabupaten Magelang semakin luas.
Petani Raup Hasil Panen Menguntungkan
Salah seorang petani bawang merah di Dusun Ngemplak, Kuniah, mengatakan dirinya telah membudidayakan bawang merah Tajuk selama sekitar empat tahun terakhir.
Menurutnya, varietas tersebut memberikan hasil yang cukup memuaskan dengan nilai jual yang menguntungkan.
“Dari lahan seluas 1.500 meter persegi bisa menghasilkan bawang merah sebanyak 1,6 kuintal. Harga bawang merah basah di tingkat petani dijual dengan harga Rp25.000 per kilogramnya,” ujar Kuniah.
Ia mengungkapkan, bawang merah Thailand-Nganjuk yang dibudidayakan memiliki kualitas yang baik. Umbinya berukuran besar, berwarna merah cerah, serta memiliki daya tahan yang cukup baik karena tidak mudah mengalami pembusukan.
Kualitas tersebut membuat bawang merah Tajuk cukup diminati pasar dan menjadi salah satu pilihan komoditas unggulan bagi petani di Dusun Ngemplak.
Keberhasilan budidaya bawang merah Tajuk di lahan bekas terdampak erupsi Merapi tersebut menjadi bukti bahwa inovasi pertanian mampu membuka peluang baru bagi peningkatan produktivitas dan kesejahteraan petani di Kabupaten Magelang. (*)
About The Author
- Penulis: BNews 2





Saat ini belum ada komentar