Hutan Merapi Rusak Akibat Erupsi, BTNGM: Pemulihannya Butuh Puluhan Tahun

BNews—JOGJAKARTA— Balai Taman Nasional Gunung Merapi (BTNGM) menyebut, hutan yang berada di bawah supervisinya membutuhkan waktu puluhan tahun untuk kembali menjadi hutan sekunder. Kerusakan hutan tersebut terjadi pascadampak dari material erupsi Merapi.

Kepala Balai Taman Nasional Gunung Merapi, Pujiati mengatakan, berkaca pada erupsi Merapi pada 2010 silam, dampak signifikan berimbas kepada vegetasi hutan. Utamanya yang berada di wilayah Cangkringan dan sekitarnya.

”Berkaca pada erupsi tahun 2010, wilayah yang terdampak berat erupsi yakni hutan di wilayah Cangkringan dan sekitarnya,” ujarnya, Jumat, (5/2).

Pujiati menjelaskan, butuh waktu lama untuk pemulihan hutan Merapi yang terkena dampak dari material erupsi Merapi. Proses pertumbuhan semak belukar hingga kembali menjadi hutan sekunder membutuhkan waktu puluhan tahun.

”Satu sampai dua tahun pasca erupsi, semak belukar dan pertumbuhan jenis pionir dimulai. Tiga sampai lima tahun pasca erupsi pertumbuhan jenis pionir mulai menutup area terbuka. Enam sampai sepuluh tahun pertumbuhan semak belukar dan vegetasi jenis pionir menjadi hutan sekunder,” jelasnya.

Dari hutan sekunder menuju ke hutan sekunder tua, membutuhkan proses yang cukup lama hingga sebuah hutan masuk dalam klasifikasi hutan primer. Proses tersebut akan berlangsung sampai 25 tahun sampai menjadi hutan sekunder tua dan bertahap tergantikan oleh jenis sub klimaks maupun klimaks kemudian menjadi hutan primer.

”Proses ini membutuhkan waktu lama (ratusan tahun) apabila tidak terjadi gangguan lagi,” terangnya.

Oleh karena itu, dalam rangka untuk kembali menjadikan hutan di wilayah TNGM rindang, pihaknya melakukan sejumlah upaya. Termasuk di dalamnya yakni penanaman di area bekas erupsi.

”Upaya TNGM dengan melakukan penanaman menggunakan press block di area terdampak berat tahun 2011. Dan penanaman di area bekas erupsi untuk pengayaan jenis hutan pegunungan (pionir, sub klimaks dan klimak),” pungkasnya. (han)

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

error: Content is protected !!
%d blogger menyukai ini: