Breaking News
light_mode
Beranda » Berita Utama » Menelisik Perjalanan Panjang Sejarah Angkutan Massal di Kota Magelang

Menelisik Perjalanan Panjang Sejarah Angkutan Massal di Kota Magelang

  • calendar_month Sen, 14 Okt 2024

Memasuki abad ke-20, alat transportasi manual seperti becak dan andong semakin popular di Magelang. Berdasarkan catatan dalam buku Sejarah Transportasi di Jawa Tengah (Wiryotomo, 1980), pada tahun 1950-an, becak menjadi moda transportasi utama di Magelang. Selain efisien, becak juga memberikan pengalaman yang berbeda bagi penumpangnya, karena memungkinkan untuk melihat pemandangan kota dengan lebih lambat dan nyaman.

CEK BERITA UPDATE LAINNYA (KLIK DISINI)

Seiring berkembangnya teknologi dan ekonomi, Magelang mulai memasuki era modernisasi transportasi pada tahun 1980-an.

Pada saat itu, angkutan kota (angkot) mulai diperkenalkan sebagai alternatif transportasi massal. Buku Transportasi Perkotaan di Indonesia (Haryono, 1995) mencatat bahwa angkot menjadi sangat popular di Magelang karena harganya yang relatif murah dan jangkauannya yang luas.

Rute angkot mencakup hampir seluruh wilayah kota, dari pusat hingga daerah pinggiran. Data yang dihimpun dari Dinas Perhubungan Kota Magelang pada tahun 1990 menunjukkan bahwa jumlah armada angkot yang beroperasi mencapai lebih dari 2.000 unit. Trayek-trayek angkot yang tersebar di seluruh kota memungkinkan mobilitas yang cepat dan terjangkau bagi penduduk.

Namun, memasuki abad ke-21, sistem transportasi umum di Magelang mengalami kemunduran yang cukup signifikan.

Salah satu penyebab utama adalah meningkatnya jumlah kendaraan pribadi, terutama sepeda motor, yang lebih praktis dan fleksibel digunakan. Data dari Badan Pusat Statistik (BPS) Kota Magelang mencatat bahwa pada tahun 2005, jumlah sepeda motor di Magelang mencapai lebih dari 60.000 unit. Fenomena ini menyebabkan angkutan umum, terutama becak, andong, dan angkot mulai ditinggalkan oleh masyarakat.

Selain itu, kemunculan ojek online pada pertengahan 2010-an semakin memperparah kondisi angkutan umum di Magelang. Keberadaan layanan transportasi berbasis aplikasi ini membuat angkot dan becak semakin tersisih. Banyak pengemudi angkot terpaksa berhenti karena jumlah penumpang yang menurut drastis. Pada tahun 2015, Dinas Perhubungan Kota Magelang mencatat bahwa lebih dari 70% trayek angkot tidak lagi beroperasi secara efektif.

CEK BERITA UPDATE LAINNYA (KLIK DISINI)

Dalam menghadapi kemunduran ini, pemerintah Kota Magelang mulai berusaha merevitalisasi transportasi umum. Sejak tahun 2018, program “Revitalisasi Angkutan Massal” diluncurkan untuk menghidupkan kembali angkutan umum di kota ini. Salah satu langkah signifikan adalah pengenalan bus kota dengan trayek yang lebih terstruktur dan menggunakan armada yang lebih ramah lingkungan.

Program ini juga didukung oleh kampanye “Ayo Cintai Angkutan Massal”, yang bertujuan untuk mengajak masyarakat kembali menggunakan angkutan umum. Selain meningkatkan kesadaran lingkungan, kampanye ini juga berfokus pada efisiensi penggunaan transportasi massal untuk mengurangi kemacetan dan polusi udara di Kota Magelang.

Meskipun upaya revitalisasi ini masih menghadapi banyak tantangan, seperti perubahan kebiasaan masyarakat yang cenderung memilih kendaraan pribadi, data dari pemerintah menunjukkan adanya peningkatan jumlah penumpang angkutan umum sebesar 10% sejak diluncurkannya program revitalisasi ini. Angka ini masih jauh dari harapan, tetapi menjadi indikasi bahwa transportasi umum di Magelang dapat menjadi pilihan utama kembali jika terus dibenahi dan didukung oleh masyarakat.

Melihat perkembangan ini, masa depan transportasi umum di Kota Magelang memiliki potensi untuk kembali Berjaya, terutama jika revitalisasi terus dilakukan secara berkelanjutan. Mencintai angkutan umum tidak hanya tentang pilihan kendaraan, tetapi juga tentang memberikan kontribusi positif pada lingkungan dan kualitas hidup masyarakat.

Sejarah panjang transportasi umum di Magelang, dari becak hingga bus kota modern, mencerminkan perjalanan panjang sebuah kota yang terus berkembang. Melalui komitmen bersama, transportasi massal yang berkelanjutan dapat menjadi bagian penting dari kehidupan sehari-hari masyarakat Magelang, sekaligus menjadi solusi untuk masalah transportasi perkotaan di masa depan. (*/netralnews)

About The Author

  • Penulis: Marisa Oktavani

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Tinggalkan Balasan

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses

Rekomendasi Untuk Anda

expand_less