Mengenang Tragedi Helikopter Jatuh di Temanggung, Delapan Orang Meninggal Termasuk Kru Basarnas

BNews–TEMANGGUNG– Sudah tiga tahun tragedi sebuah helikopter terjatuh di Temanggung. Akibatnya delapan orang kru dan tim Basarnas meninggal dunia pada kejadian 2 Juli 2017 silam tersebut.

Helikopter Milik Basarnas jatuh di Gunung Butak, Temanggung, Jawa Tengah. Sekitar pukul 16.00 wib Helicopter buatan tahun 2015 tersebut jatuh.

Delapan orang dengan rincian empat kru dan 4 tim Basarnas menjadi korban tragedi tersebut. Mereka yakni, Kru Kapten Laut (P) Haryanto,  Kapten Laut (P) Li Solihin,  Serka Mpu Hari Marsono,  Peltu LPU Budi Santoso.

Sementara Tim Basarnas  Maulana Afandi, Nyoto Purwanto,  Budi Resti dan Catur.

Helikopter tersebut saat itu berencanan melakukan pemantauan di kawah Dieng. Rencana awal 9 orang yang ikut, namun jadinya cuman 8 orang yang berangkat.

“Memang rencananya 9 orang, tapi karena ini untuk rescue di ketinggian kita kurangi beban jadi 8 orang,” ungkap Kepala Basarnas Marsekal Muda Muhamnmad Syaugi kala itu (2/7/2017).

Dia menambahkan, kru helikopter atas nama KLD Yoga Febrianto yang harusnya ikut tidak jadi diberangkatkan. “Yang tidak jadi ikut atas nama Yoga,” ujar Syaugi.

KRONOLOGI

Sementara Deputi Bidang Potensi SAR Basarnas Marsekal Muda Basarnas Dodi Trisunu mengungkapkan kronologi jatuhnya helikopter HR 3602 tersebut (3/7/2017). Menurut Dodi, heli jatuh saat dalam misi perbantuan pemantauan dan evakuasi letupan kawah Sileri, di Dieng, Kabupaten Banjarnegara.

Sebelum terbang, Kepala SAR Semarang meminta izin terbang untuk helikopter dari Direktur Operasional Basarnas. “Tugasnya membantu dan mengevakuasi korban jika diperlukan,” kata Dod.

Sebelum terbang, pada Minggu pukul 12.00 WIB, SAR Semarang mendapat informasi letupan Kawah Sileri. Sebanyak 17 pengunjung dilarikan ke Puskesmas Batur.

Pada 13.58 WIB, Kepala SAR Semarang memutuskan untuk meminta persetujuan untuk menerbangkan Heli 3602 warna oranye itu.

Pukul 14.15 WIB hingga 14.25 WIB, pilot heli Kapten Haryanto mendapat briefing dari Direktur Operasional melalui sambungan telepon.

Pukul 14.44 WIB, heli bergerak dari Pos Grinsing menuju Lanumad Ahmad Yani Semarang untuk mengisi bahan bakar dan mengabarkan rencana take off ke Dieng.

Pukul 15.30 WIB, Dodi menerangkan, jarak penerbangan dari Lanumad Semarang hingga Dieng ditempuh dalam waktu 20 menit dengan ketinggian pesawat 3700 FT.

Heli itu kemudian terbang pukul 16.00 WIB dan kehilangan kontak pada pukul 16.17 WIB.

Pada 16.14 WIB, flight monitoring system (FMS) Basarnas mendeteksi pesawat berada di minimum safety altitude, yaitu di ketinggian 5400 FT.

Pukul 16.16 WIB pesawat sudah hilang kontak.

Pada pukul 16.17 WIB, local gawe terminal (LUT) mendeteksi sinyal distress dari heli itu di Gunung Butak Temanggung. Namun sinyal hilangnya kontak baru terkonfirmasi pada pukul 16.30 WIB.

OPERASI PENCARIAN

Setelah terkonfirmasi, SAR kemudian melakukan operasi menuju Gunung Butak. Pada pukul 19.00 WIB, tim rescue Basarnas tiba di Temanggung dan langsung ke lokasi.

Satu jam berikutnya, pukul 20.00 WIB sudah ada 5 rescue di lokasi. Setengah jam kemudian pukul 20.30 WIB, sudah ada 25 anggota SAR yang bergabung di lokasi.

 Setelah dilakukan evakuasi, pada pukul 22.00 WIB, tim menemukan 3 orang meninggal. Lalu pada Senin (3/7/2017) pukul 02.00 WIB seluruh korban berjumlah 8 orang ditemukan. Para korban lalu dibawa ke RS Bhayangkara Semarang. (*/Lubis)

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

error: Content is protected !!
%d blogger menyukai ini: