Meskipun Tertatih,Pengusaha Batik Tulis Di Magelang Ini Bangkit Melalui Digitalisasi

BNews–MAGELANG– Sebuah kisah perjuangan pengusaha batik rumahan di Magelang ini layak diapresiasi. Meskipun tertatih-tatih tetap mampu bertahan selama pandemi ini.

Usaha tersebut bernama Batik Tulis Eyang Mas Ayu. Sementara pemiliknya adalah Tri Hapsari. Seperti dilangsir sindonews, pemilik usaha ini sempat tertatih-tatih di masa pandemi sampai akhirnya ia beralih ke digital. Termasuk juga menggunakan pembayaran digital.

Pandei membuat Tri Hapsari harus berinovasi. Usaha yang sudah ia sdirintis sejak 2010 itu mulai beradaptasi dan beralih menggunakan pembayaran digital dalam setiap transaksi.

Tri Hapsari adalah salah satu contoh wanita tangguh Indonesia yang terus berjuang dan bertahan di tengah pandemi. Ini sejalan dengan tema Hari Perempuan Sedunia 2021 yang dirayakan tiap 8 Maret.

Sebelum pandemi mulai melanda di Maret 2020, Batik Tulis Eyang Mas Ayu mampu menghasilkan omzet Rp5 juta hingga Rp10 juta per bulannya.

Namun seiring pandemi, Tri Hapsari mulai mengalami kesulitan, bahkan sekadar menggaji karyawan dan menopang perekonomian keluarganya.

“Dari sejak awal pandemi pendapatan dari batik mulai berkurang drastis. Bahkan saya bisa bilang pandemi ini membuat usaha batik saya oleng,” tutur Tri Hapsari.

DOWNLOAD APLIKASI BOROBUDUR NEWS (KLIK DISINI)

Tri Hapsari pun mulai mencoba mencari jalan keluar dari permasalahan yang melilit toko batiknya. Memanfaatkan media digital, dirinya mulai memasarkan batiknya secara online.

” Pandemi bukan halangan untuk beradaptasi dan membangkitkan kembali usaha saya. Walaupun belum pulih seperti sedia kala, tapi sekarang usaha batik saya mulai bangkit,” sebut Tri Hapsari.

Perubahan lain yang ia lakukan adalah dalam cara bertransaksi. Tri Hapsari kini menggunakan OVO sebagai platform pembayaran Batik Tulis Eyang Mas Ayu.

“Sistem pemasaran dan pembayaran digital menjadi kunci meneruskan usaha. Dengan menggunakan OVO sebagai alat pembayaran, tidak hanya memudahkan para pembeli batik tapi juga membantu mengurangi penyebaran virus. Sehingga tidak harus melakukan transaksi tunai ketika berjualan,” sebutnya.

Faktanya, sektor Usaha Mikro, Kecil dan Menengah (UMKM) menjadi salah satu sektor yang paling terdampak pandemi COVID-19.

DOWNLOAD APLIKASI BOROBUDUR NEWS (KLIK DISINI)

Padahal saat ini jumlah pelaku UMKM ada 64,2 juta dengan daya serap mencapai 97% tenaga kerja dunia usaha di Indonesia.

Head of Corporate Communications OVO Harumi Supit mengatakan, OVO melakukan penetrasi agar layanan digitalnya digunakan dan bermanfaat bagi semua lapisan masyarakat serta dapat membantu mereka yang terdampak pandemi, khususnya sektor UMKM.

”Banyak perubahan perilaku masyarakat yang terjadi akhirnya menciptakan gaya hidup baru, terutama pada saat berbelanja, di mana mereka mulai banyak berpindah ke transaksi digital,” bebernya. (*)

Tinggalkan Balasan

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.

%d blogger menyukai ini: