Breaking News
light_mode
Beranda » Berita Utama » Migrasi ke Lampung, Warga Asal Muntilan Jadi Kelompok Minoritas Bahagia

Migrasi ke Lampung, Warga Asal Muntilan Jadi Kelompok Minoritas Bahagia

  • calendar_month Sen, 31 Jul 2023

BNews-NASIONAL– Perlu diketahui, Provinsi Lampung di ujung selatan Pulau Sumatera didominasi oleh warga luar lampung.

Dilansir dari laman bpkp.go.id, provinsi Lampung justru didominasi oleh suku Jawa yang mencapai 62%. Suku Lampung sendiri sebesar 25%. Sisanya diisi oleh suku Sunda 9%, suku Bali, dan masih banyak lainnya.

Ada keunikan di Provinsi Lampung, terdapat sebuah kampung Katolik yang hidup berdampingan dengan masyarakat mayoritas lainnya.

Mengingat mayoritas masyarakat Lampung merupakan orang Islam dengan angka 92%. Protestan sebesar 1,8%, Buddha 1,7%, Katolik 1,8% dan Hindu Bali 2,7%.

Masyarakat katolik di Lampung justru lebih kecil dibandingkan dengan umat yang memeluk agama Hindu.

Dari sejumlah 1,8% umat katolik di Lampung, sebagian merupakan warga Muntilan dari Magelang yang berhijrah ke Provinsi selatan Pulau Sumatera ini.

Dilansir dari akun YouTube Jejak Richard, pemeluk agama Khatolik ini memang kebanyakan berasal dari kota Muntilan, Magelang, Jawa Tengah.

DOWNLOAD APLIKASI BOROBUDUR NEWS (KLIK DISINI)

Perkampungan Katolik berada di Desa Ngesti Rahayu, Kecamatan Punggur, Kabupaten Lampung Tengah, Provinsi Lampung.

Sebagian besar warga Ngesti Rahayu merupakan petani yang menggarap persawahan padi.

Warga Katolik yang berada di Ngesti Rahayu sangat rukun hidup berdampingan dengan warga lainnya.

Warga disini sudah berbaur, tidak terklaster berdasarkan agama maupun sukunya.

Uniknya, di Ngesti Rahayu masih sangat fasih berbahasa Jawa, karena kebanyakan warganya merupakan transmigrasi dari Pulau Jawa.

Warga Jawa katolik rutin melakukan ibadah mingguan di sebuah gereja di desa setempat, Gereja tersebut bernama Gereja Santo Yusuf.

Gereja Santo Yusuf berada berada di Desa Astomulyo, jamaatnya sebagian besar berasal dari Ngestirahayu.

Gereja Santo Yusuf memiliki bangunan yang besar dan memiliki warna dominan putih.

Warga yang berangkat ke gereja sangat bersahaja, kebanyakan menggunakan sepeda untuk berkendara.

Berdasarkan cerita warga, warga Muntilan di desa Ngesti Rahayu mulai bertransmigrasi di tahun 1960-1970 an.

Dulu seluruh masyarakat Katolik dijadikan satu wilayah, kemudian berkembang dan menyebar di berbagai wilayah di Lampung Tengah.

Warga di Ngesti Rahayu sudah terbiasa dengan perbedaan agama. Justru, antar agama saling bahu-membahu membantu warga lain yang sedang menjalankan upacara keagamaan.

Tidak pernah terjadi konflik antar agama, namun konflik antar suku masih sering terjadi di Lampung Tengah. (*/jemberjatimnetwork)

About The Author

  • Penulis: BNews 5

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Tinggalkan Balasan

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses

Rekomendasi Untuk Anda

expand_less