Mitos Merogoh Kunto Bimo di Candi Borobudur, Ini Penjelasannya

BNews—BOROBUDUR— Dulu, berkunjung ke Candi Borobudur tidak afdol jika tidak “merogoh” atau menyentuh kunto bimo. Mitos menyebutkan siapa yang bisa meraih kunto bimo akan dimudahkan rejeki maupun keinginanya.

Apa Kunto Bimo ? Kunto Bimo sendiri sebenarnya adalah bagian dari patung Buddha yang berada di dalam stupa.

Advertisements



Bagi laki-laki harus bisa menyentuh menjari kelingking dari arca Buddha yang berada dalam posisi tangan (mudra) Dharmachakra (Pali: Dhammacakka – roda Dharma). Sedangkan bagi wanita ia harus memegang telapak kakinya atau tumit, namun ada yang mengatakan ibu jari kaki.


“Mereka yang melakukan aksi merogoh patung itu bisa siapa saja. Mereka percaya kalau ingin cepat kaya, cepat naik pangkat, cepat dapat jodoh, tambah rezekinya maka upayanya ya itu tadi, merogoh patung,” kata salah satu guide di Borobudur.

Namun, kini aksi merogoh “kunto bimo” itu dilarang. Karena akan merusak bagian bebatuan Candi Borobudur.

Aksi wisatawan yang merogoh patung, apalagi di terik matahari menyebabkan tangan dan kakinya mengeluarkan keringat.

Keringat wisatawan tersebut bisa menempel di batu saat mereka berusaha menyentuh patung Kunto Bima. Usaha wisatawan untuk merogoh patung tidaklah mudah.

Mereka tak jarang terpaksa menaiki batu-batuan agar tangannya mencapai bagian tertentu patung di dalam stupa.Air yang menempel di batu tentunya mengandung garam dan kondisi percampuran air dengan batu akan menimbulkan penyakit pada batuan yang dibangun sejak abad ke-8. (wan/her)

KLIK DOWNLOAD APLIKASI BOROBUDUR NEWS

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

error: Content is protected !!
%d blogger menyukai ini: