Patung Bersejarah Bung Karno di Solo Dibongkar

BNews–SOLO– Sebuah patung dengan bentuk sang proklamator Ir Soekarno atau dikenal Bung Karno dibongkar (16/7/2020). Patung tertua yang berada di Kampung Ngadisono RT 002/RW 002 Kelurahan Joglo, Banjarsari, Solo syarat akan sejarah.

Dalam proses pembokaran sendiri dibutuhkan 25 orang dan waktu tujuh jam.  Selain patung Ir Soekarno, patung banteng yang berada di lokasi yang sama juga dibongkar.

Warga Solo biasa menggunakan dua patung itu sebagai penanda lokasi atau kawasan itu.

“Ini adalah patung tertua Ir Soekarno dan banteng yang dibangun di Solo. Patung itu dibangun tahun 1998. Karena patung itu warga menyebut lokasi tersebut dengan Pertigaan Patung Banteng,” ujar Cucuk Kristiawan, 41, warga setempat dikutip solopos.

Sebelum adanya patung tertua Bung Karno di Solo itu, warga menyebut kawasan tersebut dengan Pertelon Bakso Brewok.

Hal itu karena di sebelah patung-patung itu terdapat Warung Bakso Pak Brewok. Hingga saat ini warung bakso tersebut masih beroperasi atau buka.

“Butuh waktu mulai dari pukul 10.00 WIB hingga sore hari untuk membongkar dua patung itu karena patung tidak dihancurkan. Jadi kami bongkar fondasinya sedikit demi sedikit agar fisik patung tetap utuh dan masih bisa dipasang lagi,” urai dia.

Saat ini dua patung itu disimpan di halaman rumah Cucuk sembari mencari tempat baru yang bisa digunakan untuk memajangnya. Cucuk mengaku sempat menitikkan air mata saat ikut membongkar patung Ir Soekarno dan banteng hitam itu.

Sejarah Pembuatan Patung

Dia mengaku tahu persis sejarah pembuatan patung tertua Ir Soekarno di Solo tersebut. Menurut dia, saat itu patung dibuat bersama-sama oleh warga Kampung Ngadisono, Cengklik, dan Bibis. Pembuatan patung itu lantaran prihatin dengan kondisi bangsa pada 1998.

“Yang membuat patung-patung itu dulu warga sekitar sini. Beberapa sesepuhnya seperti Pak Sartoto [yang sudah meninggal], Gembong Supriyanto [masih hidup] dan Widodo [masih hidup]. Biaya pembangunan iuran bareng-bareng,” kata dia.

Cucuk yang merupakan Ketua Organisasi Ojo Pedot Oyot (OPO) DPC PDIP Solo merasa sangat bangga dengan kebersamaan dan gotong royong warga zaman dulu. Dia berharap budaya luhur bangsa itu bisa dilanjutkan para generasi muda bangsa.

Menurut dia, pembongkaran patung tertua Bung Karno di Solo dan banteng moncong putih atas permintaan warga pemilik rumah di dekat patung. Keberadaan patung-patung berukuran lumayan besar itu selama ini dianggap menutupi bagian depan rumah.

“Warga yang punya rumah menyurati warga minta agar patung-patung ini dipindah. Warga pun menyetujui pembongkaran itu secara baik-baik. Tidak ada unsur paksaan atau sejenisnya. Kini tinggal cari tempat baru untuk patung ini,” kata dia. (*/ilsh)

Tinggalkan Balasan

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.

error: Content is protected !!
%d blogger menyukai ini: