Pedagang Asongan Candi Borobudur Nekat Berjualan Demi Bertahan Hidup

BNews—BOROBUDUR— Lebih dari 200 destinasi wisata di Kabupaten Magelang tutup dan tidak menerima kunjungan wisatawan di masa PPKM Darurat. Namun, penutupan objek wisata ini tidak otomatis menghilangkan risiko kerumunan, seperti di kawasan Candi Borobudur.

Berdasarkan pantauan wartawan Kompas pada Selasa, (6/7), sejumlah pedagang Borobudur tetap menjalankan aktivitas berdagang. Hal ini dilakukan karena masih ada wisatawan yang berkunjung meski pintu masuk candi tutup.

Dilain sisi, mereka harus tetap bekerja demi memenuhi kebutuhan ekonomi ditengah penerapan PPKM Darurat. Mereka mengaku tetap harus mencoba berjualan demi kepentingan ekonomi.

”Kami lebih takut menanggung risiko kelaparan daripada tertular Covid-19,” ujar salah satu pedagang dompet Mustaqimah, 55. 

Wanita asal warga Desa Ngargogondo, Kecamatan Borobudur ini menjadi salah satu dari sekian banyak pedagang asongan yang berkerumun di sekitar tempat parkir pengunjung zona II candi. Puluhan pedagang tampak duduk tak berjarak sambil membawa dagangannya.

Tidak hanya pedagang asongan, sejumlah wisatawan juga masih berdatangan dan berkerumun di sekitar pintu masuk candi. Mereka mengaku tidak mengetahui informasi penutupan Candi Borobudur.

”Hari Minggu, (4/7) lalu, masih ada sekitar 50 orang asal Sumatera dan Bali yang datang ke sini (Borobudur). Karena gagal berwisata dalam kawasan candi, mereka pun akhirnya berkerumun, berfoto-foto di depan pintu masuk saja,” ungkapnya

Ketua Forum Rembug Klaster Pariwisata Borobudur Kirno Prasojo mengatakan, penutupan Taman Wisata Candi Borobudur sudah berulang kali terjadi di masa panemi. Sehingga diakui sangat meresahkan dan mengganggu perekonomian para pelaku wisata.

DOWNLOAD APLIKASI BOROBUDUR NEWS (KLIK DI SINI)

Kirno bercerita, pada awal pandemi tahun 2020, para pelaku wisata memang berlaku tertib dan tetap berupaya menopang hidup dengan menjual asset; seperti perhiasan, kendaraan, dan tanah. Namun, saat ini sejumlah pedagang yang mulai merasa terdesak kebutuhan akhirnya tidak lagi mengindahkan instruksi pemerintah di masa PPKM Darurat.

”Saya sudah meminta para pedagang asongan untuk pulang ke rumah dan tidak berkerumun di depan pintu masuk candi. Namun, karena permintaan saya ditolak, saya hanya bisa mengingatkan mereka selalu memakai masker,” ucapnya.

Ketua Forum Daya Tarik Wisata (DTW) Kabupaten Magelang Edwar Alfian mengatakan, selama masa PPKM seperti sekarang, para pelaku wisata memang benar-benar terpuruk. Jika pelaku di sektor lain, seperti kuliner, diberi kesempatan untuk membatasi jam operasional, pelaku wisata sama sekali tidak berkesempatan meraup keuntungan karena harus menghentikan aktivitas wisata.

”Kami berharap nantinya ada bantuan, semacam jaring pengaman sosial khusus untuk menyelamatkan kehidupan para pelaku wisata,” ujarnya. Imbuh Edwar, saat ini lebih dari 200 destinasi wisata di Kabupaten Magelang tutup dan tidak menerima kunjungan wisatawan di masa PPKM Darurat.

Kepala Dinas Pariwisata, Kepemudaan dan Olahraga Kabupaten Magelang Slamet Ahmad Husein menuturkan, hingga hari ketiga pelaksanaan PPKM darurat pada Selasa (6/7), pihaknya mengakui masih ada kerumunan orang di destinasi wisata. Selain di kawasan Candi Borobudur, pihaknya mendapati kegiatan masyarakat di balai ekonomi desa (Balkondes).

Terkait hal itu, aparat Pemerintah Kabupaten Magelang, TNI-Polri gencar melakukan patroli, memberikan sosialisasi terkait PPKM darurat. Dan terus mengingatkan masyarakat untuk menjalankan protokol kesehatan.

”Dengan upaya ini, diharapkan warga akan semakin sadar dan tertib menjalankan protokol Kesehatan,” pungkas dia. (hil/han)

Tinggalkan Balasan

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar anda diproses.

error: Content is protected !!
%d blogger menyukai ini: