Pengrajin Bedug Legendaris Asal Lereng Andong Tembus Pasar Internasional

0
154
Muhammad Khuzaemedi Sedang Mencoba Bedug Karya Rumah Produksinya
BNews-GRABAG- Bedug merupakan salah satu ciri khas di Masjid ataupun Mushola yang merupakan tempat beribadah umat Muslim di Indonesia. Selain Kentongan bedug merupakan alat untuk menandai waktu untuk sholat, apalagi saat Ramadhan ini sering di gunakan untuk berbagai event juga.

Di Sebuah Desa di bawah Gunung Andong Kabupaten Magelang, tepatnya di  Dusun Bleder, Desa Ngasinan, Kecamatan Grabag ada pengrajin Bedug legendaris. Pengrajin Bedug “Baroqah Agung” masih menjadi salah satu yang dilirik masjid-masjid di Indonesia. Bahkan, bedug tersebut sudah merambah sejumlah negara di Asia dan Eropa.
Muhammad Khuzaemedi Laki laki kelahiran 27 Juni 1958 ini yang memiliki usaha ini sejak tahun 1991. Ia berkerja sama dengan tukang-tukang local daeranya untuk membuat pesanan Bedug dari berbagai daerah di Indonesia maupun luar negeri. Bedug yang di pesan biasanya untuk keperluan Masjid ataupun Mushola tetapi ada pula yang untuk event-event Ramadhan atau lainnya.
“ Untuk Tahun ini memang turun jumlah pesanan Bedugnya, Tetapi masih banyak yang minat untuk pesan kesini ataupun memperbaikki bedug, Dulu di pesan di berbagai daerah di Indonesia seperti Medan, Banten, Jakarta bahkan luar negeri seperti Malasia, Arab Saudi, Itali dan lainya saya lupa,” Ungkap Khuzaenid di rumahnya kemarin (30/5/2017).
Produksi Bedugnya yang berbahan baku dasar kayu glondongan Sengon Laut Merah dan Kulit Lembu memiliki beraneka ragam ukuran dan model, mulai dari Diameter 40 cm sampai yang terbesar 185 cm. Harganya juga beragam mulai 12 juta- 70 juta tergantung ukuran dan modelnya polos atau ukiran. “ Ya beraneka ragam ukuran dan harga karena proses mulai pembuatan sampai benar-benar siap pakai itu tidak sebentar, kalau produksi paling ½ sampai 1 bulan selesai cuman finishing nunggu kering itu bisa mencapai 7 bulan bahkan 2 tahun, dan saya garansi 5 tahun lho untuk kondisi kayunya jika rusak siap kami perbaiki,” Ungkap bapak beranak 5 ini.
Khuzaedi juga menceritakan usaha pembuatan bedug yang kini ditekuninya merupakan suatu hal yang tak diduga. Bapak lima anak itu mengaku tidak memiliki kemampuan maupun ketrampilan membuat bedug sebelumnya. Dirinya terjun ke usaha pembuatan bedug sekitar tahun 1991 sesaat setelah dia dan keluarganya ditimpa kerugian dari bisnis jual beli sapi. Seluruh harta benda milik keluarga Khuzaemadi habis, tinggal rumah satu-satunya yang kini ditempati. 
“Tiba-tiba, ada tetangga warga Dusun Canggalan, Desa Ngasinan, Kecamatan Grabag yang meminta tolong untuk dibuatkan bedug dari kayu canggal (pokok kayu). Kayu itu gabungan pohon kanthil dan kenanga, hanya ada satu itu, tidak ada lainnya,” Ceritanya.
Dengan penuh keyakinan, dia menyanggupi membuat bedug. Setelah jadi, bedug itu dihargainya 180 ribu. Kini, Khuzaemadi memiliki niatan untuk membeli bedug itu kembali dengan harga berkali-kali lipat, yakni Rp10 juta. “Tapi tidak dibolehkan sama warga sana, karena bedug itu hanya satu-satunya, kayunya juga tidak ada duanya,” ujarnya.

Jatuh Bangun Kisah Khuzaedi ini tidak sia-sia hasilnya, sekarang dia sukses menjalankan usaha ini yang mampu memperkejakan sampai 12 tukang local jika ada pesanan. Bermodal kenalan banyak orang untuk mencari bahan baku kayu yang sesuai bisnis ini tetap di jalan, ditambah produksinya sudah di kenal banyak orang dan dipercaya kwalitasnya. “ Saya tetap optimis usaha ini tetap akan jalan walau saat ini baru ada 1 yang pesan, dan 4 yang mau sewa bedug. Kedepanya pasti aka nada lagi,namanya juga rezeki tidak akan kemana,” Pungkasnya. (BSN)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here