Perda Magelang : Beri Uang Pengemis Denda Rp 1 Juta

BNews—MUNGKID— Berbuat sosial membantu sesama belum tentu benar dimata peraturan daerah. Hal ini seperti yang tertuang dalam Perda Kabupaten Magelang Nomor 2 Tahun 2019 tentang penanganan Tuna Susila.

Perda melalui Dinsos PPKB PPPA tersebut menjelaskan terkait tuna susila atau gelandang. Seperti yang tertuang dalam pasal 26 dalam perda tersebut yakni, setiap orang dilarang melakukan pergelandangan, pengemisan, dan menjadi anak jalanan baik perorangan atau berkelompok dengan cara dan alat apapun untuk menguntungkan diri sendiri atau mengajak, membujuk, membantu, memaksa dan mengkoordinir orang lain sehingga menyebabkan pergelandangan, pengemisan, dan anak jalanan.

Ada juga di pasal 28 disebutkan, setiap orang atau badan sosial dilarang memberi uang atau barang dalam bentuk apapun kepada gelandangan, pengemis, dan anak jalanan di tempat umum.

“Setiap orang atau badan sosial yang memberi uang atau barang dalam bentuk apapun kepada gelandangan, pengemis, dan anak jalanan di tempat umum akan diancam hukuman kurungan paling lama 10 hari dan atau denda Rp 1 juta,” tegas, Kabid Rehabilitasi, Perlindungan dan Jaminan Sosial pada Dinsos PPKB PPPA Kabupaten Magelang, Dian Hermawan (15/11).

Dalam perda tersebut, Dian juga menjelaskan bahwa gelandangan, pengemis dan anak jalanan yang terindikasi mengalami gangguan jiwa akan dilakukan rehabilitasi kejiwaan. Rehabilitas tersebut akan dilakukan oleh rumah sakit umum daerah dan rumah sakit jiwa yang bekerja sama dengan pemerintah daerah.

“Apabila ada gelandangan, pengemis dan anak jalanan yang meninggal dan tudak ditemukan keluarganya, pemakamannya akan difasilitasi oleh perangkat daerah.Dimana nantinya yang menyelenggarakan urusan pemerintahan bidang sosial bekerjasama dengan pemerintah desa atau pihak terkait,” paparnya.

“Rencananya Pemkab Magelang juga akan membuat pemakaman umum yang berada di daerah Kecamatan Salam, Kabupaten Magelang,” pungkasnya. (bsn)

1 Comment
  1. Ummi Najma says

    Balada Denda Satu Juta

    Gepeng kian merajalela. Hampir disetiap kota pasti ada. Demi sesuap nasi. Mereka rela meminta-minta.
    Sedih, prihatin, dan miris rasanya melihat mereka. Terkadang ketidakpunyaan mereka dimanfaatkan orang lain. Muncul koordinator pengemis. Orang lain yang ngemis, eh dia terima setorannya.
    Hal ini wajar terjadi. Karena individualistis, liberalistis, dan hedonisme sedang mencengkeram negeri. Tak ada ruang bagi si miskin. Jadilah gepeng merajalela.
    Wahai para wakil rakyat yuk tinjau ulang amanah kalian. Wakil rakyat harusla merakyat. Wakil rakyat peduli pada rakyat pastinya. Jangan biarkan denda satu juta bagi penderma. (Ummu Najma Mertoyudan Magelang )

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

error: Content is protected !!
%d blogger menyukai ini: