Kisah Inspiratif Anak Petani asal Magelang yang Sukses Jadi Dokter

BNews–MAGELANG– Sebuah perjuangan seorang pemuda asal Lereng Gunung Merbabu Magelang ini layak menjadi inspirasi. Berangkat dari sebuah keluarga petani kurang mampu, pemuda ini berhasil lulus kuliah jurusan Kedokteran.

Ia adalah Syaifudin, pemuda berusia 25 tahun. Putra pertama dari dua bersaudara. Ayahnya Ramidi, 52, yang kini tinggal di Dusun tetinggi bernema Sobowono Desa Ketudan Kecamatan Pakis Kabupaten Magelang.

Saat diwawancarai Borobudurnews.com, Syaifudin merasa bangga telah menyelesaikan kuliah kedokteran dan profesinya di Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY).

“Saya lulus kuliah Kedokteran (Dokter Umum) pada tahun 2018 silam, dan lulus profesi kedokteran tahun 2020 lalu. Namun ini belum selesai, masih menunggu proses intership selama 12 bulan; InsyaAllah Mei 2021 akan mulai, menunggu surat dari Kemenkes turun,” katanya (28/2/2021).

Syaifudin juga bercerita banyak soal perjuangannya hingga bisa melanjutkan kuliah Kedokteran di UMY tersebut. Dimana semua itu bermula saat Ia bersekolah di SMA Muhammadiyah Borobudur dan mendapatakan beasiswa.

“Dulu saat SMA sayakan tinggal di asrama, dan diarahkan untuk ikut seleksi mahasiswa baru di UMY dengan jalur Beasiswa Dokter Muhammadiyah (BDM). Dan Alhamdulillah saya keterima disitu,” imbuh pemuda yang memiliki cita-cita awal di dunia kesehatan apapun.

Ketika mulai memasuki dunia perkulihan, berbagai macam suka, duka dan rintangan harus dilewati oleh Syaifudin. Mulai dari pertemanan baru, wawasan baru hingga pola adaptasi belajar yang lama.

DOWNLOAD APLIKASI BOROBUDUR NEWS (KLIK DISINI)

“Yang pasti wawasan ilmu bertambah, pertemanan juga banyak. Cuman dukannya itu menyesuaikan culture dan adaptasi pola belajar yang sedikit lama saya menyesuaikan,” ujarnya.

Selama kuliah, Syaifudin mendapat beasiswa. Bahkan, Ia juga sempat tinggal di asrama dan akhirnya harus kos diluar dengan biaya mandiri.

“Awal saat kuliah itu tinggal di asrama satu tahun, namun kemudian harus kos mandiri. Soal biaya kos dan hidup saya menggunakan uang mandiri dan bantuan orang tua seadanya,” ungkapnya.

Harus hidup di Jogja dengan biaya seadanya membuat Syaifudin merasa down. Terkadang merasa berat menjalani biaya hidup saat kuliah di Yogyakarta meskipun biaya kuliah dari beasiswa.

“Keterbatasan dan kemampuan orang tua yang sulit sempat membuat saya down ketika menjalani perkuliahan. Namun dengan motivasi orang tua yang berkomitmen bagaiamanapun caranya saya harus selesai kuliah, maka saya menjadi semangat lagi melanjutkan perkuliahan,” paparnya.

Selain itu, lanjutnya berangkat dari keresahan dirinya sendiri dengan kondisi lingkungan sekitarnya juga.

“Ya saya resah mas, di lingkungan saya banyak angka putus sekolah yang tinggi, pernikah dini juga cukup tinggi. Dimana secara tidak langsung itu akan mempengaruhi cara berpikir dan berakibat nanti ke kesejahteraan hidup salah satunya, sehingga saya harus berubah tidak harus seperti dan menjadi lebih baik lagi,” terangnya.

DOWNLOAD APLIKASI BOROBUDUR NEWS (KLIK DISINI)

Syaifudin berharap setelah semua tahapan menjadi dokter selesai, dapat mengemban amanah yang telah dipercayakan kepadanya. “Tentunya mampu berguna dan memberi manfaat untuk sesama dan agama,” harapnya.

Selain itu, Syaifudin juga selalu berharap agar kedua orang tuanya yang telah ikut mendukung perjuangannya selalu sehat, panjang umur dan mudah rejeki yang berkah.

“InsyaAllah kalau sudah mapan dan mampu ingin menaikan haji atau umroh kedua orang tua saya. Semoga terwujud, amin,” pintanya.

Dia juga berpesan kepada seluruh anak bangsa yang mungkin sama sedang berjuang agar tetap semangat menghadapi segala rintangan.

“Ingat, hal -hal yang menyulitkan pasti ada dalam setiap perjuangan. Tetapi disitulah letak manisnya berjuang sebelum menikmati manis hasilnya,” pesannya. (bsn)

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

error: Content is protected !!
%d blogger menyukai ini: