Ratusan Penambang Manual Dan Sopir Truk Merapi Magelang Demo Tolak Alat Berat

BNews–MAGELANG– Puluhan sopir truk dan ratusan penambang manual di lereng Merapi Magelang melakukan unjuk rasa kemarin (30/8/2021). Namun mereka hanya melakukannya di Lapangan Srumbung dan batal untuk menuju Polres Magelang.

Para peserta aksi tersebut terdiri dari para penambang pasir manual dan pengelola armada pasir yang tergabung di Buruh Slenggrong Merapi (BSM) dan Merapi Trans Community (MTC) Magelang.

Nida Nur Afandi, yang merupakan Ketua dari MTC Magelang, dalam orasinya menyampaikan, selama kurang lebih lima (5) bulan terakhir ini pihaknya dibuat resah. Yakni dengan beroperasinya beberapa alat berat yang di tengarai ilegal.

“Alat berat itu digunakan untuk melakukan penambangan pasir di kawasan Penambangan Pasir Merapi. Khususnya di Wilayah Ngori, Desa Kemiren, Kecamatan Srumbung, Kabupaten Magelang,” katanya.

Menurut Nida keberadaan alat berat ilegal ini, tentu saja membuat para penambang manual menjadi terdesak secara lokasi untuk bergeser naik mendekati kawasan Gunung Merapi. Padahal diketahui, akhir-akhir ini aktifitas Gunung Merapi sangat tinggi, yang otomatis membuat resiko bahaya semakin besar bagi penambang manual.

“Selain membuat lokasi penambang manual semakin naik, keberadaan alat berat yang ditengarai ilegal tersebut sangat membuat kerusakan akses jalan. Serta kerusakan lingkungan kawasan Ngori yang menjadi semakin cepat rusak,” ujarnya.

Ditambahkan oleh Nida, menurutnya, pihak pengelola juga merusak harga pasir, dimana DO yang ditawarkan cukup murah. Bahkan jauh di bawah harga penambang manual, dan ini tentu saja dengan sangat jelas sangat merugikan pihak penambang manual.

DOWNLOAD APLIKASI BOROBUDUR NEWS (KLIK DISINI)

Perlahan tapi pasti, lanjutnya keberadaan alat berat yang ditengarai ilegal ini juga akan mematikan mata pencaharian para pelaku penambang pasir manual.

“Kami atas nama MTC dan BSM Magelang yang beranggotakan para pengelola pasir dan para penambang pasir manual, mendesak pihak berwenang dalam hal ini Polres Magelang. Yakni untuk menurunkan semua alat berat ilegal dan tidak memberikan akses masuk bagi semua alat berat ilegal yang digunakan untuk melakukan penambangan pasir Merapi di wilayah Ngori, Desa Kemiren, Kecamatan Srumbung, Kabupaten Magelang,” terang Nida.

Orasi dari Nida, mewakili para pendemo, di jawab tegas oleh Kapolres Magelang, AKBP M. Sajarod Zakun SH SIK, yang hadir langsung dalam aksi unjuk rasa ini.

“Ada beberapa permasalahan yang saya tangkap. Nanti akan langsung saya sampaikan ke Pemerintah Kabupaten Magelang termasuk ke DPRD dan Instansi terkait,” jelas Kapolres Magelang.

Sebelum mendatangi ke lokasi unjuk rasa, terlebih dalu Kapolres Magelang mengumpulkan Forkopimcam Srumbung dan Kepala Desa, untuk bermusyawarah.

“Saya tekankan, apabila ada permasalahan, bicarakan dengan pengurus agar pengurus menyampaikannya ke saya langsung, agar saya  bisa carikan solusi,” pungkasnya.

Saat ini, aktifitas alat berat (bigho) di wilayah Ngori sudah tidak ada ataupun kosong. MTC dan BSM Magelang mengharapkan tidak hanya saat ini saja tidak ada aktifitas alat berat di wilayah Ngori, namun juga seterusnya. (bsn)

Tinggalkan Balasan

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.

%d blogger menyukai ini: