Ruwat Rawat Borobudur Ke-20 Digelar, Tumpengan Diarak Keliling Candi

BNews–MAGELANG-– Seni budaya di wilayah Kabupaten Magelang merupakan salah satu pusatnya. Dan kembali digelar Ruwat Rawat Borobudur (RRB) Ke-20 oleh Komunitas Brayat Penangkaran di Kabupaten Magelang.

Pagelaran tersebut akan berlangsung mulai Rabu 9 Februari 2022 hingga 18 Februari 2022 di Magelang. Dengan tajuk  ‘Mengembalikan Ruh Spiritual Borobudur Melalui Tradisi’ acara dibuka di Taman Wisata Candi Borobudur Magelang kemarin (9/2/2022).

Sebuah gunung hasil bumi diarak mengelilingi bangunan Candi Borobudur. Selain membawa hasil bumi, para peserta tampak mengenakan kostum kesenian tradisional setempat. 

Perlu diketahui, acara ini merupakan salah satu kalender event pariwisata budaya di Magelang. Dimana yang bertujuan untuk melestarikan Candi Borobudur secara bersama dan sinergi.

Penanggung Jawab RRB Sucoro menyebutkan, perjalanan panjang dari RRB tersebut direkam dalam sebuah buku yang berjudul ‘Sinau Maca Kahanan’. “Alhamdulillah, hari ini Rabu (9/2) usia RRB sudah 20 tahun. Untuk itu, kami mencatat sejarah perjalanannya dalam sebuah buku. Itu buku yang kelima,” katanya.

Ia juga mengaku dengan event ini pihaknya masih berkesempatan untuk menjelaskan kepada dunia. Bahwa RRB menjadi salah satu peran masyarakat untuk ambil bagian dalam upaya melestarikan sekaligus memanfaatkan Borobudur.

Sucoro menjelaskan, tujuan utama RRB untuk meyakinkan pemerintah akan pentingnya melestarikan Candi Borobudur sebagai warisan para leluhur. “Pemerintah jangan hanya menjual atau memanfaatkan warisan budaya,” tegasnya.

DOWNLOAD APLIKASI BOROBUDUR NEWS (KLIK DISINI)

Menurutnya, warisan budaya merupakan warisan leluhur yang bertujuan untuk persembahan bukti, bukan untuk pariwisata semata. Sehingga, katanya ketika pemerintah memanfaatkan hal tersebut, akan terjadi kontradiksi yang harus dipikirkan secara mendalam. 

Terlebih, di Candi Borobudur menyimpan berbagai makna. Terdapat sumber-sumber pengetahuan tentang kehidupan manusia. “Jadi, ketika menjual pariwisatanya harus dipertimbangkan dengan dasar-dasar yang ada,” imbuhnya. 

Sucoro menuturkan, RRB lahir di tengah polemik pemerintah yang menggunakan warisan budaya sebagai aset pariwisata. Itulah yang mengilhami Komunitas Brayat Penangkaran untuk berperan serta melestarikan Candi Borobudur. 

Sementara itu, Ketua Balai Konservasi Borobudur (BKB) Wiwit Kasiyati mengapresiasi adanya kegiatan tersebut lantaran sudah berlangsung selama 20 tahun. “Kegiatan yang berkelanjutan seperti ini tidak mudah,” katanya. 

Ia juga menyampaikan bahwa RRB dapat membangun ekosistem dan mempunyai jejaring atau relasi dari berbagai kota dan kabupaten, bahkan di luar Jawa. Hal tersebut merupakan sesuatu yang harus tetap dilestarikan.

Terutama, lanjutnya dapat menjadi pionir untuk melestarikan kebudayaan di mana pun berada.  “Yang nantinya dapat mempunyai rasa kepedulian untuk melestarikan kebudayaan yang ada di wilayah setempat,” pungkasnya. (bsn)

Tinggalkan Balasan

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.

error: Content is protected !!
%d blogger menyukai ini: