Sejarawan Inggris Kritik Kondisi Jubah Pangeran Diponegoro di Museum Bakorwil Magelang

BNews—MAGELANG— Sejarawan asal Britania Raya, Peter Carey,  menyayangkan kondisi jubah Pangeran Diponegoro yang digantung di Museum Bakorwil II Magelang. Penulis buku Pangeran Diponegoro ’Kuasa Ramalan’ dan buku berjudul ’Takdir’ ini meminta untuk dirawat sebagaimana mestinya.

”Keadaan Sekarang sangat parah ,sebab digantung atas gantungan baju di dalam almari penuh dengan kutu. Beratnya jubah membuatnya sangat rentan, sebab semua berat. Banyak juga benang yang lepas dan kusut,” kata Peter.

”Sangat disayangkan, benda pusaka Utama dari Pahlawan Nasional nomor wahid indonesia bisa dibiarkan rusak demikian. Tapi ini kita ada urusan dengan Bakorwil yang kurang mampu merawat Benda berharga, apa boleh buat? Sebenarnya harus ditaruh di bawah yang lurus bukan digantung. Kain juga di makan rayap,” sambungnya.

Di Jubah yang tinggi 160×110 sentimeter ini terdapat bercak-bercak merah seperti darah. Bercak-bercak kecokelatan seperti darah yang melekat di jubah tadi menjadi tanda-tanya.

Bercak itu diduga bekas darah saat Diponegoro memimpin perang Jawa atau Sabil dalam kurun waktu tahun 1825 hingga 1830. Tapi ada yang menduga hanya karena faktor usia, sehingga muncul bekas kecokelatan.

Di beberapa bagian ada lubang dan sobekan. Seperti di bagian dada kanan dan bagian bawah kanan dan kiri, serta bagian belakang. yang cukup tinggi.

“Tentang bercak itu, kita belum tahu. Harus membuat tes DNA untuk mengetahui bercak dari kain lama atau darah. Diponegoro memakai baju jubah di medan perang. Jubah dan stel pakaian lain diambil setelah penyergapan di perbukitan Gowong ,sebelah barat Kedu, pada 11 November 1829 oleh Pasukan Gerak cepat dari Mayor Andreas Victor Michiel’s (1796-1849),” ungkapnya.

DOWNLOAD APLIKASI BOROBUDUR NEWS (KLIK DI SINI)

Sedang asal-usul jubah dari Pujokusuman (trah Mertonegaran ), Basah Mertonegoro menantu Pangeran. Jubah diberikan dari Pujakusuman ke Museum Keresidenan Lama Magelang pada 1953 waktu museum di buka.

Beberapa waktu lalu muncul wacana untuk menduplikat jubah itu. Keturunan Pangeran Diponegoro, Ki Roni Sodewo, dan Peter Carey menyambut baik rencana itu.

Dalam sebuah wawancara Ki Roni Sodewo, mengatakan agar jubah asli yang menjadi saksi perang Jawa itu dirawat dengan baik dan bisa disatukan dengan peninggalan lain di Museum Nasional, Jakarta.

Menurutnya jika memang harus diduplikat adalah sebuah langkah yang baik. Sama halnya dengan bendera merah putih yang ada duplikatnya, begitu juga dengan jubah yang usianya ratusan tahun ada duplikatnya untuk dipamerkan.

Ia menandaskan meski jubah yang dibuat dari kain santung itu diduplikat, namun jubah asli harus disimpan dan juga dipertahankan dengan baik.

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

error: Content is protected !!
%d blogger menyukai ini: