BMKG Beberkan 3 Penyebab Utama Cuaca Panas Ekstrem di Indonesia
- calendar_month Sen, 29 Sep 2025

ilustrasi Cuaca Panas_Foto AI
BNews—NASIONAL— Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) mengungkap penyebab cuaca panas yang belakangan ini terjadi di sejumlah wilayah Indonesia.
Dikutip Kompas.com, Deputi Bidang Meteorologi BMKG, Guswanto, menjelaskan ada tiga faktor utama yang memicu cuaca panas akhir-akhir ini.
Faktor pertama adalah minimnya pembentukan awan. Cuaca panas bisa saja terjadi karena adanya pusat tekanan rendah di utara Indonesia, termasuk badai tropis Bualoi.
“Uap air yang seharusnya membentuk awan hujan di Indonesia justru tertarik ke arah Laut China Selatan dan Filipina,” ujarnya kepada Kompas.com, Senin (29/9/2025).
Akibat kondisi tersebut, langit di wilayah selatan Indonesia (termasuk Jawa) cenderung cerah. Sinar Matahari pun menyinari permukaan Bumi tanpa halangan, sehingga udara terasa lebih panas dan kering.
Faktor kedua adalah fenomena Kulminasi Matahari atau hari tanpa bayangan. Fenomena ini umumnya terjadi setiap Maret dan September saat posisi Matahari berada tepat di atas kepala.
“Sinar Matahari jatuh tegak lurus ke permukaan bumi, meningkatkan suhu secara signifikan. Ini memperkuat kesan ‘gerah’ dan ‘pengap’ yang dirasakan masyarakat,” jelasnya.
CEK BERITA UPDATE LAINNYA DISINI (KLIK)
Faktor ketiga adalah peralihan musim atau pancaroba. Menurut Guswanto, suhu panas juga dipengaruhi oleh masa transisi dari kemarau ke musim hujan.
Fase pancaroba ini biasanya ditandai dengan cuaca ekstrem seperti panas terik di siang hari, hujan lokal, hingga angin kencang.
“Wilayah Jawa mulai memasuki fase ini, sehingga fluktuasi suhu dan kelembapan sangat terasa,” ujar Guswanto.
BMKG memperkirakan kondisi panas ini hanya bersifat sementara. Cuaca akan berangsur normal setelah badai tropis dan pusat tekanan rendah di utara Indonesia melemah atau hilang.
“BMKG memperkirakan kondisi panas ini akan berlangsung hingga awal Oktober, sebelum hujan mulai turun lebih merata. Namun, intensitas dan waktu hujan sangat bergantung pada dinamika atmosfer regional dan global,” kata dia.
Ia menambahkan, awal musim hujan diperkirakan mulai terjadi pada Oktober, meski tidak serentak di seluruh wilayah. Di Jawa, fenomena kulminasi Matahari berlangsung sekitar akhir September hingga awal Oktober.
Dampaknya, suhu maksimum harian bisa mencapai 35–37 derajat Celsius, terutama pada siang hari.
“Khusus wilayah Jawa, terutama bagian selatan, sangat terdampak karena minimnya awan dan intensitas sinar matahari yang tinggi,” ujarnya.
Meski demikian, BMKG mengingatkan masyarakat untuk tetap waspada. Cuaca ekstrem seperti hujan lebat dan angin kencang masih bisa terjadi sewaktu-waktu selama masa peralihan musim. (*)
About The Author
- Penulis: Pemela



Saat ini belum ada komentar