Sukes Petani Kopi Lereng Merapi Berkat Sistem Tumpang Sari

BNews–DUKUN– Para petani lereng merapi ini berinovasi kepada tanaman di area persawahannya. Dimama sebelumnya tanaman tumpang sarinya berupa ketela, sekarang menjadi kopi.

Salah satunya di wilayah Dusun Babadan Desa Paten Kecamatan Dukun Magelang. Dimana hampir seluruh warga sudah berinovasi dan menjadi salah satu sentra kopi Magelang.

Sebelumnya di area pematang sawah ditanami singkong, namun sekarang kopi. “Biasanya kalau singkong itu memancing diserang kera gunung tanamannya. Jika singkong habis, kera akan merusakan tanaman pokok warga yakni sayuran, oleh sebab itu kita beralih kopi,” ungkap Slamet Wahyuni salah satu petani dan prosesor kopi.

Slamet juga menjelaskan bahwa kopi yang ditanam berjenis Arabica. “Untuk detailnya kopi arabica varietas lini “S” dan Kartika. Itu ditanam disini karena dinilai cocok dengan daerah lereng merapi ini, dimana dari segi ketinggian dan suhu stabil,” jelasnya.

Perlu diketahui, para petani di Babadan ini mulai mencoba kembali menanam kopi pasca erupsi merapi 2010. “Kita sebenarnya mulai mencoba menanam tahun 90’an, tetapi belum berhasil. Dan kita mencoba kembali tahun 2012 kemarin dengan 100 ribu bibit kopi, dan mulai fokus di tahun 2018-2019 ini,” paparnya.

DOWNLOAD APLIKASI BOROBUDUR NEWS UNTUK ANDROID KALIAN GRATIS DAN RINGAN (KLIK DISINI)
NEWS: Tanaman kopi sistem tumpang sari dengan tanama pokok petani yakni sayuran di Babadan Dukun (17/12)-(Foto:Istimewa)
NEWS: Tanaman kopi sistem tumpang sari dengan tanama pokok petani yakni sayuran di Babadan Dukun (17/12)-(Foto:Istimewa)

Diungkapkanya, bahwa para petani disini baru bisa memproduksi sekitar 50 persen saja. “Karena terkendala modal produksi kita belum maksimal. Padahal pemasaran kita sedikit-sedikit ke luar negeri juga, tentunya dalam negeri lebih banyak,” ungkapnya.

Kopi ini memiliki ciri khas yang berbeda dari kopi lainnya. Selain karena ditanam di area tanah vulkanik aktif, rasanya juga ada yang berbeda.

“Dari keterangan para penikmat kopi ada rasa atau aroma sayur-sayuran. Karena mungkin tanaman kopi ini bersebelahan dengan lahan tanaman pokok warga yang berupa sayuran,” terangnya.

“Kopi kita juga pernah masuk Finalis Kompetisi Kopi Spesialty Indonesia (KKSI) 2018, dan itu sudah menjadi salah satu langkah kami untuk lebih semangat,” ujar Slamet.

“Saya berharap mungkin pihak terkait berkenan membantu mendampingi kami dari segi modal maupun pemasaran,” pungkasnya. (bsn)

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

error: Content is protected !!
%d blogger menyukai ini: