Tolong Gadis Asal Mungkid Didiagnosa Hidrosefalus

BNews—MUNGKID—Zulfa Febriani, gadis cantik berusia 12 tahun asal Desa Paremono, Kecamatan Mungkid, Kabupaten Magelang terbaring lemah di ranjang kasur. Sejak bayi, tepatnya saat berusia delapan bulan, ia mengalami pembesaran kepala. Dokter mendiagnosis Zulfa menderita hidrosefalus.

Zulfa nyaris menghabiskan seluruh hidupnya di kasur. Tubuhnya hanya bisa telentang seakan tak sanggup menyangga kepalanya yang kian membesar.

Sementara tangan mungilnya terus mengepal. Tidak ada satu tutur katapun keluar dari bibir kecilnya. Bola mata Zulfa hanya bisa melirik. Ia hanya memberikan respons dengan rengekan dan tangis air mata.

”Nggak bisa ngobrol. Responsnya cuma menangis. Kalau lapar, ya, nangis. Kalau ndak enak badan, nangis. Kalau capek minta dibalikin badannya itu nangis. Responsnya hanya menangis. Kalau manggil-manggil nangis,” tutur ibunda Zulfa, Partini, seperti dikutip kanal YouTube TNI AD, Jumat (23/10).

Partini mengatakan, Zulfa merupakan anak pertama dari dua bersaudara. Sementara adiknya baru berusia sembilan tahun yang kini duduk di bangku SD. Oleh teman-temannya, sang adik kerap menerima perundungan hingga enggan keluar rumah.

”Kasihan sama anak saya yang kecil. Sering diejek teman-temannya. ’kakakmu kepalanya besar, kepalanya besar’. Sampai ndak mau main,” kata Partini dengan mata berkaca-kaca.

”Setiap hari saya rawat. Makan saya suapi. Kalau saya pas masuk angin itu kerasa banget. Nanti kalau saya yang meninggal duluan, anak saya bagaimana’. Siapa yang mau ngurusin,” imbuh dia sembari mengusap tangisan yang tak sanggup lagi dibendung.

Loading...

Istri KSAD Jenderal TNI Andika Perkasa, Hetty Andika Perkasa, yang menerima informasi tentang kondisi Zulfa langsung menjenguk ke rumahnya. Kepada Ketua Persit Kartika Chandra Kirana, Partini menceritakan asal mula putrinya menderita hidrosefalus.

”Dulu lahirnya normal tapi panas tinggi sama sariawan. Sarafnya ada yang putus. Yang putus tadi infeksi mengeluarkan cairan terus tidak bisa membuang. Tapi sekarang otak besarnya itu sudah hancur menjadi serpihan,” terang Partinah yang menggantungkan ekonomi keluarganya dari sang suami yang berdagang ayam di pasar.

Karena kondisinya yang sudah parah berdasarkan hasil Computerized Tomography (CT) scan, semua rumah sakit ’angkat tangan’ tak sanggup menangani. Partini menerima dengan pasrah dan mencoba ikhlas.

”Harus bagaimana lagi tapi itu semua sudah takdir. Harus kita jalani bagaimanapun itu anak saya. Sampai kapanpun akan saya rawat,” teguhnya.

Download Aplikasi Borobudur News (Klik Disini)

Mengetahui kondisi langsung sang putri, Hetty berjanji akan membantu. Ia akan menyampaikan niat mulia kepada Andika untuk bagaimana caranya mendesain agar Zulfa bisa memakai kereta dorong.

”Sebelumnya disampaikan dulu sama Pak Andika (KSAD). Terima kasih banget atas perhatiannya, ya, Bu. Semoga jadi amal ibu sekeluarga. Dapat ganti lebih banyak, ya, Bu. Diberi kesehatan terus. Ibu sekeluarga diberi kelancaran semuanya,” ujar Partini mengucapkan terima kasih.

”Saya yang harus berdoa. Buat Ibu Partini supaya sehat terus. Semakin kuat. Semakin sehat. Yang sabar, ya. Kamu orang hebat. Perempuan yang kuat. Selamanya hebat. Nggak banyak orang yang kayak kamu,” sahut Hetty.

Diketahui, usai mendapat kunjungan istri KSDA, Selasa (22/9), Zulfa dilakukan pemeriksaan dan diputuskan rawat inap karena kejang. Eskonya, pasien dievakuasi ke RST dr Soedjono Magelang untuk dilakukan pemeriksaan CT Scan kepala. Serta foto tulang belakang dan rawat oleh spesialis bedah saraf, spesialis anak juga spesialis rehab medik.

Kini, Zulfa Febriani sudah pulang kembali ke rumahnya. Direncanakan untuk fisioterapi dua kali seminggu dimulai pada tanggal 1 Oktober 2020. (han)

Kaos Deglang

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

error: Content is protected !!
%d blogger menyukai ini: